_OBSESI_
"Sha, balikin hp aku kek Sha," pinta Zeran dengan wajah yang dibuat memelas. Mereka baru saja selesai melakukan pergumulan dewasa lagi, tubuh mereka masih sama-sama tidak mengenakan baju. Zeran dengan posisi rebahan, sementara Marsha bersandar di kepala kasur dengan memainkan ipad-nya.
Sedari tadi Zeran terus merengek meminta Marsha mengembalikan ponselnya. Dia berjanji tidak akan kabur, tapi setidaknya memberi kabar pada orang terdekeat, terutama ayah dan ibunya kalau dirinya baik-baik saja. Namun, Marsha seakan tuli tak mendengar sekalipun permintaan Zeran.
"Marsha—"
"Sssttt diem, nih!"
Cocomelon, tet teretetet tet!
Zeran ternganga saat Marsha malah menyerahkan ipad-nya yang menayangkan video anak-anak Cocomelon. Dikira dirinya ini bocah cilik apa yang jika merengek dikasih video semacam ini langsung anteng? Ada-ada saja Marsha ini, yang Zeran inginkan ponselanya bukan video Cocomelon.
"Sha—"
"Apa? Lo bosen kan? Nah yaudah nonton ini aja. Atau lo mau kita main lagi hmm?" Marsha memainkan rambut Zeran yang berantakan itu dengan santai. Zeran mendengus kesal, entah bagaimana lagi cara untuk bisa merubuhkan benteng kekeras kepalaan Marsha ini.
"Sha, please lah sebentar aja kasih aku hp. Sepuluh menit deh buat kabarin Orang tua aku, aku takut mereka khawatir karna aku ga ada kabar sama sekali. Kalau kamu serius mau sama aku harusnya kamu setuju kalau aku mau hubungin keluargaku. Karena nanti mereka juga akan jadi keluarga kamu juga. Papa, Mama aku bakalan jadi mertua kamu loh Sha," rayu Zeran. Mendengar kata Mertua, hati Marsha jadi berdesir, seakan ada kebahagiaan tersendiri dan seketika bayangan nanti dirinya akan menjadi istri Zeran membuat perutnya seperti dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu yang berterbangan.
"Yaudah sebentar gue ambilin hp lo, tapi janji cuma ngabarin calon mertua gue doang," peringat Marsha yang luluh kali ini.
"Iya aku janji!" jawab Zeran dengan cepat, kesenangan langsung dia rasakan. Marsha menyibak selimutnya, memakai bajunya tanpa dalaman. Zeran terus memperhatikan pergerakan Marsha, dalam hati dia masih tak menyangka seorang Marsha kini benar-benar jatuh dalam pelukannya. Marsha melangkahkan kaki keluar kamar untuk mengambil ponsel milik Zeran, sementara Zeran sudah memekik kesenangan karena dia akan bisa kembali memegang ponselnya.
Tak lama Marsha kembali, dia menyerahkan ponsel Zeran yang masih aman tanpa ada goresan sedikit pun. Zeran menyalakan ponselnya yang ternyata batrainya masih tersisa setengah. Dia menyalakan data internet dan langsung saja puluhan bahkan ratusan pesan dia terima dari banyak orang, sesaat sampai ponselnya nge-lag. Marsha kembali duduk bersandar di atas kasur, juga menyalakan ponsel, yang ponsel itu terhubung dengan milik Zeran. Jadi dia bisa memantau apa yang akan Zeran lakukan.
Zeran membalasi pesan para temannya kalau dia baik-baik saja dan beralasan hanya berlibur lalu ponselnya sempat hilang. Sebenarnya tidak masuk akal, karena Zeran hilang tiba-tiba, jika berlibur harusnya Zeran tetap mendapat izin dari Aldo dan kawan-kawannya. Marsha yang tau balasan itu tersenyum dalam diamnya, sesaat melirik Zeran yang nampak serius dengan ponselnya. Lalu Zeran mengabari orang tuanya juga. Tentu Zeran langsung mendapat omelan dari Mamanya karena lama tidak memberi kabar, karena biasanya setiap hari Zeran tak pernah absen mengabari orang tuanya.
"Ee.. Sha, aku mau telpon sama Mama aku dulu, boleh aku keluar ga?" tanya Zeran dengan hati-hati.
"Engga." Seharusnya Zeran sudah tau jawaban dari Marsha, tak mungkin Marsha akan berkata boleh dengan mudahnya. "Di sini aja, gue juga mau denger suara Mama lo. Sekalian kenalin gue juga dong ke Mama lo, gue kan calon menantunya," lanjut Marsha. Tak ada yang bisa Zeran lakukan selain mengiyakan apa yang Marsha inginkan. Dengan segera Marsha menon-aktifkan ponsel yang dia bawa agar notifikasi telpon tidak terhubung ke ponselnya.
"Halo Ma."
"Akhirnya inget orang tua juga ya kamu. Ga ada kabar beberapa hari, ga mikirin orang tua di rumah khawatir?! Dikirim pesan ga pernah dibales, mau durhaka kamu?! Mau kayak Malin kundang ha?! Seenaknya aja jadi anak, cepet kamu harus pulang, Mama kangen sama kamu!"
Zeran meringis mendengar rentetan kalimat tanpa jeda dari Mamanya. Sesaat dia melirik Marsha yang juga ikut mendengarkan, karna volume suara dia keraskan. "Aku masih sibuk Ma, kapan-kapan aja aku pulang."
"Sibuk ngapaian ha?! Katanya lagi liburan gitu. Liburan ga ajak Mama, Papa benar-bener durhaka kamu ini."
"Aduh lain kali aku ajak. Ini liburannya mendadak. Nanti aku pulang bawa calon menantu buat Mama deh," celetuk Zeran. Marsha langsung menatapnya dengan senyuman malu-malu yang dia tunjukkan.
"Menantu? Emangnya kamu udah laku Ze?" Itu suara Ayahnya yang bersuara.
"U-udah Pa, nanti aku kenalin ke kalian. Jadi kalian jangan khawatir ya, aku gapapa kok, aman."
"Nunggu kamu pulang kelamaan Ze. Mana kasih tunjuk anaknya, mau tau gadis seperti apa yang bisa kecantol sama kamu. Baru aja Papa ada niatan buat jodohi sama anak Pak RT."
"Aku ga mau pa! Mendingan ga usah pulang kalau beneran mau dijodohin."
"Makanya tunjukin dulu cewe kamu, nanti ternyata kamu bohong lagi."
Zeran mengkoda Marsha, kalau dia boleh berbicara sekarang dan Marsha pun mulai menyapa mereka, "Halo om, tante," sapa Marsha dengan suara ramah dan lembutnya. Zeran sampai tertegun mendapati Marsha seperti orang lain. Pintar sekali beakting, tak diragukan lagi kalau perempuan di hadapannya pantas mendapatkan banyak piala bergengsi.
"Aih anak kita beneran punya Pacar, Pa."
"Iya Ma, Papa ga nyangka banget. Halo nak, nama kamu siapa?"
"Marsha, om."
"Nak Marsha, jagain anak om ya. Kalian baik-baik di sana, dan jangan lupa ke sini ya. Om sama tante tunggu. Kita ga sabar liat kamu, pengen kenalan. Akhirnya anak om punya pacar juga."
Marsha terkekeh mendengarnya. Hatinya merasa tenang, karena mendapat lampu ijo dari orang tua Zeran. Jadi dia tak usah repot-repot lagi untuk mengambil hati mereka, karena justru mereka sudah merestui. "Iya om, kalau ada waktu kita akan ke sana," kata Marsha.
Entah beberapa menit mereka asik mengobrol dengan orang tua Zeran, mereka cepat akrab. Orang tua Zeran yang hangat membuat Marsha merasa cepat nyaman, tak ada rasa canggung yang meliputi. Setelah selesai bertukar kabar, panggilan berakhir.
"Eh Sha mau kemana?" tanya Zeran melihat Marsha bangun dengan membawa ponselnya.
"Nyimpen hp lo lagi."
"Astaga Sha, ga bisa biarin aku megang hp sendiri aja?"
"No!" jawab Marsha lalu beranjak keluar.
Dah maap buat typo.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESI [END]
FanfictionSeorang Model sekaligus Artis yang terobsesi pada seorang Fotografer. Dengan ide gila agar bisa memiliki Fotografer itu, sang Artis menyekapnya entah sampai kapan. Start : 6 Oktober 2024 End : 29 Januari 2025
![OBSESI [END]](https://img.wattpad.com/cover/342577183-64-k164767.jpg)