Semuanya gempar dengan berita ini. Para karyawan berguncing di sela-sela jam kerja mereka. Menggosipi bos mereka yang katanya menghamili seorang anak gadis teman putrinya.
Sejak Baskoro datang ke kantor, 3 hari yang lalu. Regal tak nampak di kantor, ia menyuruh sekretaris nya untuk meng-handle semuanya di kantor.
Kedua belah pihak sudah memutuskan. Mereka akan segera di nikahkan namun dengan dalih bawah mereka menikah karena bisnis keduanya.
"Saya tidak mau keluarga saya mengetahui hal ini, bilang bahwa pernikahan ini untuk kepentingan bisnis " kata baskoro.
Regal terus mengusap punggung tangan Abel, matanya yang sembab akibat beberapa hari ini terus menangis.
Namun tiba-tiba, "Aww... perut aku.. " rintihnya.
"Kenapa? sayang kenapa perut kamu? " ucap Regal khawatir.
"Sebaiknya antar ke kamar, saya sudah panggil dokter kandungan ke rumah " Ucap ibunya.
Regal menuntun pelan wanita itu, kedua orang tuanya melihat langsung bagaimana mereka saling melengkapi dan saling memberi kekuatan.
"Mommy rasa mereka benar-benar saling mencintai, dad"
"Huft.. atur jadwal pernikahannya mom segera mungkin. Setelah itu mereka tidak boleh berada di lingkungan ini, daddy gamau keluarga besar tau hal ini" ucap baskoro.
"Terus bagaimana nanti? mereka akan tinggal dimana dad "
" Ke tempat yang ga semua orang tau "
------
"Usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke 7,sebaiknya nona jangan stress jangan banyak pikiran. Diiringi olahraga ringan, minum vitamin dan makan makanan bergizi. Untuk keluarga mohon saling mengerti dan mrnjaganya agar sang ibu selalu rileks " jelas dokter kandungan.
"Baik dok, berarti ga ada masalah sama calon bayi dan ibunya? " tanya Regal.
"Tidak, yang terpenting jangan sampai banyak pikiran "
Setelah penjelasannya dokter langsung pergi dari rumah itu. Regal menutupi tubuh Abel dengan selimut lalu memberikan kecupan di dahinya.
"Jangan banyak pikiran yah, semua masalah sudah selesai. " ucap Regal.
"Jagain bunda ya " ucapnya lagi sambil mengelus dan mencium perutnya. Abel tersenyum , ia menatap punggung pria itu yang keluar kamar kemudian ia memilih untuk tidur.
-----
Abel duduk di ujung sofa, tubuhnya bergeming. Kedua tangannya meremas bantal kecil dengan erat, seolah benda itu bisa menyembunyikan semua kegelisahannya. Sementara itu, Regal berdiri di dekat jendela, menatap keluar tanpa fokus.
"Baby, kamu nggak mau coba telepon sekarang?" tanya Regal dengan suara lembut.
Abel menggeleng pelan, napasnya berat. "Aku takut, Mas..."
Regal berbalik, berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Tangannya menyentuh lembut punggung Abel, mencoba menenangkan. "Kita harus kasih tahu Lisa. Kalau kamu terus nunda, dia bakal makin sakit hati kalau dengar dari orang lain."
Abel mengangkat wajah, menatap Regal dengan mata berkaca-kaca. "Tapi gimana kalau dia benci aku, Mas? Aku nggak bisa kehilangan Lisa. Dia sahabatku..."
"Sayang..." Regal menarik napas panjang, jari-jarinya menyentuh pipi Abel. "Kamu nggak akan sendirian. Mas bakal ada di sini, sama kamu. Kita hadapi ini bareng."
Abel terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Tangannya yang gemetar meraih ponsel di meja. Setelah mencari nama Lisa di daftar kontak, ia menekan tombol hijau untuk video call. Jantungnya berdetak semakin cepat seiring nada sambung yang terdengar.
Beberapa saat kemudian, wajah Lisa muncul di layar. Rambutnya sedikit berantakan, tapi senyumnya tetap ceria seperti biasa. "Abel!" serunya dengan antusias. "Ya ampun, akhirnya lo telepon juga. gue kangen banget sama lo . Gimana kabarnya di sana?"
Abel tersenyum tipis, meskipun dadanya sesak. "Hai, Lis. gue juga kangen."
Lisa melambaikan tangan ketika melihat Regal. "Loh papa? Kok, bisa kalian bareng gini. Ada apa?"
Regal tersenyum kecil tapi tak menjawab. Ia hanya menatap Abel, memberi isyarat agar segera bicara.
"Lisa, gue... gue ada sesuatu yang harus gue bilang ke lo" kata Abel pelan.
Lisa menyipitkan mata, bingung. "Kenapa, Bel? lo kenapa?"
Abel menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca. "Ini soal gue... dan papa kamu."
Kerutan di wajah Lisa semakin dalam. "Apa maksudnya? Kalian kenapa?"
Abel menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis. "gue.. gue hamil, Lis," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Dan... Papa lo adalah ayah dari bayi ini."
Lisa terdiam. Wajahnya pucat, bibirnya terbuka tanpa kata. Ia menatap Abel, lalu beralih ke Regal yang kini duduk dengan ekspresi penuh penyesalan.
"lo bercanda, kan, Abel?" tanya Lisa akhirnya, suaranya gemetar. "Tolong bilang ini nggak bener."
Regal maju ke depan kamera. "Lisa, ini kenyataan. Dan Papa bertanggung jawab. Kami nggak mau kamu dengar dari orang lain. Kami minta maaf."
"Tanggung jawab?" Lisa tertawa sinis, matanya merah karena menahan emosi. "Papa tidur sama sahabatku,? Sahabatku sendiri? Kalian tahu apa artinya ini buat aku?"
Abel mencoba bicara, tapi suaranya hilang ditelan tangis. Regal mencoba mendekatkan dirinya ke layar, berharap bisa menjelaskan lebih banyak.
"Lisa, dengarin papa dulu," kata Regal.
"Tidak ada yang perlu gue dengar!" teriak Lisa. "Kalian berdua menghancurkan semuanya. Persahabatanku, keluargaku... semua. gue nggak mau lihat kalian lagi."
Sebelum Regal atau Abel bisa menjawab, Lisa memutuskan sambungan. Layar ponsel menjadi gelap, meninggalkan Abel yang kini terisak tanpa suara.
"Mas... aku kehilangan dia," bisik Abel, suaranya nyaris tak terdengar.
Regal memeluknya erat. "Kita akan perbaiki ini, Baby. Mas janji. Tapi, kamu nggak sendirian."
*********
kira2 lisa bakal nerima ga yah Abel jadi ibu tirinya? 🥲
VOTE DLU DONG BABY 😘
ingetin aku biar update😘😘😘😘
KAMU SEDANG MEMBACA
OM REGAL (END)
Ficción General🔞🔞🔞 Lisa dan Abel merupakan sahabat dekat sejak SMP. Sebelumnya Lisa hidup dengan ibunya, namun setelah ibunya meninggal ayahnya harus pulang ke Indonesia untuk menemani putri satu-satunya. Dan disitu lah Regal bertemu dengan gadis seumuran anak...
