🔞🔞🔞
Lisa dan Abel merupakan sahabat dekat sejak SMP. Sebelumnya Lisa hidup dengan ibunya, namun setelah ibunya meninggal ayahnya harus pulang ke Indonesia untuk menemani putri satu-satunya.
Dan disitu lah Regal bertemu dengan gadis seumuran anak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari resepsi berlangsung dalam suasana yang meriah di aula besar yang didekorasi dengan mewah. Semua tamu keluarga besar Abel hadir, memberikan doa dan restu untuk pasangan yang dianggap sebagai hasil dari "perjodohan bisnis." Namun, di balik senyuman dan ucapan selamat itu, sebuah rahasia besar tersimpan rapi.
Hanya orang tua Abel, yang tahu kebenaran tentang pernikahan ini: bahwa Abel hamil, dan suaminya, Regal, adalah ayah dari sahabat dekat Abel, Lisa.
Di Aula Baskoro berdiri dengan di dekat meja tamu, menyambut keluarga besar dan kerabat jauh yang hadir. Setiap kali seseorang memuji "perjodohan cerdas" ini, ia hanya tersenyum dan mengangguk, meski hatinya dipenuhi rasa malu dan kegelisahan.
"Pak bas, hebat sekali ya, Abel bisa menikah dengan pengusaha besar seperti Regal. Memang benar ya, ini perjodohan karena bisnis?" tanya salah satu bibi Abel dengan nada penasaran.
Baskoro tersenyum tipis, berusaha tetap tenang. "Iya, semua ini sudah direncanakan oleh keluarga. Kami pikir ini yang terbaik untuk masa depan Abel."
"Benar sekali! Regal terlihat sangat dewasa dan bijaksana. Saya yakin Abel akan bahagia," lanjut bibinya sambil tersenyum lebar.
"Semoga begitu," jawab Baskoro pelan, sebelum beralih ke tamu lain untuk menghindari pembicaraan lebih lanjut.
---
Sementara itu, Regal berdiri di samping Abel, menggenggam tangannya dengan erat. Senyum yang ia tampilkan tampak sempurna di mata para tamu, tetapi di balik itu, ia terus merasa gelisah. Ia tahu bahwa keluarga besar Abel tidak mengetahui semua kebenaran, dan setiap komentar tentang "kesepakatan bisnis" terasa seperti pukulan kecil di hatinya.
"Mas," bisik Abel pelan, menyadari tatapan kosong Regal.
"Iya, Sayang?" jawab Regal, berusaha fokus pada istrinya.
"Kamu baik-baik aja? Dari tadi kayaknya pikiran kamu nggak di sini," tanya Abel, khawatir.
Regal tersenyum kecil, menggenggam tangannya lebih erat. "Mas cuma mikir. Kita sudah sejauh ini, dan semuanya berjalan lancar. Tapi Mas tahu ini pasti berat buat kamu."
Abel menatapnya, matanya melembut. "Aku cuma berharap keluarga kita nggak menyesali keputusan ini."
Meskipun kursi untuk Lisa sudah disiapkan di barisan depan, kursi itu tetap kosong sepanjang acara. Regal dan Abel sesekali mencuri pandang ke arah kursi itu, seolah berharap Lisa akan datang di menit terakhir.
Namun, mereka tahu bahwa Lisa memilih untuk menjauh. Sebelum acara ini, ia sempat menerima pesan singkat dari Lisa: "Tolong jangan cari aku. Aku butuh waktu untuk menerima semua ini."
------
Hari pernikahan Regal dan Abel telah mencapai puncaknya. Di balik kerumitan dan rahasia yang membayangi hubungan mereka, suasana kebahagiaan perlahan menyelimuti hati keduanya.
Abel duduk di samping Regal, mengenakan gaun putih elegan yang membuatnya terlihat anggun. Senyum kecil menghiasi wajahnya saat tamu-tamu terus berdatangan untuk mengucapkan selamat.
Regal melirik ke arah Abel, lalu mendekat untuk berbisik. "Kamu cantik banget hari ini, Baby."
Abel tertawa kecil, pipinya memerah. "Mas juga kelihatan ganteng... meskipun mungkin lebih banyak yang memuji karena kamu pengusaha sukses."
Regal terkekeh pelan. "Bukan karena itu, Sayang. Hari ini, semuanya terasa spesial karena kamu ada di sini, jadi istri Mas."
Abel menatapnya dalam-dalam, merasa sedikit lega. Meski beban rahasia masih ada, cinta dan perhatian Regal membuatnya merasa lebih tenang.
---
Musik lembut mengalun di aula, mengiringi obrolan tamu-tamu yang sibuk menikmati makanan dan saling berbincang. Beberapa anak kecil berlarian di sekitar meja, membuat suasana semakin hidup.
Salah satu teman Abel, Nita, mendekati pelaminan dengan senyum lebar. "Abel, kamu bahagia banget, ya? Aku senang lihat kamu."
Abel tersenyum hangat. "Iya, Nit. Terima kasih udah datang. Aku senang kamu di sini."
Nita melirik Regal, yang saat itu sedang berbincang dengan salah satu kolega bisnisnya. "Suami kamu perhatian banget, Abel. Aku bisa lihat dari caranya ngelihat kamu tadi. Dia benar-benar sayang."
Abel hanya tersenyum malu-malu, hatinya terasa hangat mendengarnya.
Setelah sebagian besar tamu mulai pulang, Regal dan Abel akhirnya punya momen untuk berdua. Mereka duduk di salah satu meja kosong, menikmati secangkir teh hangat sambil mengobrol santai.
"Mas," kata Abel, memecah keheningan.
"Iya, Baby?" jawab Regal sambil menatapnya penuh perhatian.
"Aku tahu kita punya banyak masalah yang harus kita hadapi nanti, tapi... hari ini aku bahagia. Aku nggak nyangka aku bisa merasa seperti ini," ucap Abel, suaranya bergetar sedikit.
Regal menggenggam tangan Abel, menatapnya dengan tatapan lembut. "Mas juga, Sayang. Mas tahu ini semua nggak mudah, tapi selama kita bersama, kita bisa lewatin semuanya."
Abel mengangguk pelan, merasakan ketenangan di hati. "Terima kasih, Mas. Aku bersyukur punya kamu."
---
Ketika acara selesai, Regal dan Abel kembali ke kamar pengantin yang telah disiapkan. Abel melepas gaunnya dengan bantuan Regal, sementara ia sesekali tertawa kecil melihat betapa canggungnya Regal.
"Kamu nggak biasa ya, Mas, ngebantu kayak gini?" candanya.
Regal tertawa kecil. "Mas cuma nggak mau bikin gaun kamu rusak. Kamu kelihatan cantik banget tadi."
Mereka berdua akhirnya duduk di tepi ranjang, melepas lelah setelah hari yang panjang. Regal mengelus perut Abel dengan lembut, merasa ada kehidupan yang tumbuh di sana.
"Kita akan jadi keluarga yang bahagia, Baby. Mas janji," ucap Regal pelan.
Abel menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku percaya sama kamu, Mas."
Hari itu, meski rahasia besar masih menghantui, mereka memilih untuk merayakan momen bahagia ini. Bagi Abel dan Regal, ini adalah awal baru yang penuh harapan, meski jalan di depan mereka masih penuh liku.