🔞🔞🔞
Lisa dan Abel merupakan sahabat dekat sejak SMP. Sebelumnya Lisa hidup dengan ibunya, namun setelah ibunya meninggal ayahnya harus pulang ke Indonesia untuk menemani putri satu-satunya.
Dan disitu lah Regal bertemu dengan gadis seumuran anak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Abel melangkah masuk ke rumah baru mereka dengan ekspresi yang tenang. Ia menatap interiornya yang modern dan elegan, mendesah pelan. "Mas, ini nyaman banget. Kayaknya bakal jadi tempat yang enak buat kita tinggal."
Regal tersenyum, berdiri di belakangnya sambil merangkul bahu Abel. "Mas minta desainer fokus bikin rumah ini nggak cuma kelihatan mewah, tapi juga terasa hangat. Kamu suka, kan?"
Abel mengangguk kecil, berjalan menuju ruang keluarga yang luas. "Aku suka, Mas. Nggak terlalu berlebihan, tapi tetap terasa istimewa. Aku bisa ngebayangin nanti anak kita lari-larian di sini."
Regal terkekeh, mendekat ke arah Abel dan memegang tangannya. "Itu juga yang Mas pikirkan. Kita butuh tempat yang bikin anak kita bahagia, bukan cuma sekadar megah."
Dapur rumah itu menjadi salah satu favorit Abel. Desainnya terbuka, dengan peralatan masak canggih yang tertata rapi. Abel melirik meja marmer di tengah dapur dan tersenyum kecil. "Mas, nanti kalau anak kita udah gede, aku mau masak bareng dia di sini."
Regal mengangguk sambil tertawa. "Dan Mas bakal duduk di sini, jadi tester kamu berdua."
"Eh, jangan cuma duduk. Mas juga harus bantu potong-potong bahan," balas Abel dengan nada bercanda.
Regal mengangkat tangan seolah menyerah. "Baik, baik. Apa pun yang bikin kamu bahagia, Baby."
Di lantai dua, kamar utama menawarkan pemandangan yang menenangkan. Jendela besar menghadap taman belakang, tempat matahari sore masuk dengan lembut. Abel berdiri di dekat jendela, menikmati angin yang masuk dari balkon kecil.
"Kamu tahu, Mas," kata Abel sambil menoleh ke Regal yang sedang membuka koper, "dulu aku sering berpikir kalau rumah besar itu cuma soal pamer. Tapi sekarang, aku sadar... rumah besar bisa jadi tempat paling nyaman kalau isinya orang yang kita sayang."
Regal mendekat, memeluk Abel dari belakang. "Makanya, Mas janji rumah ini nggak cuma jadi bangunan, tapi jadi tempat di mana kamu selalu merasa dicintai."
Abel tersenyum, meletakkan tangannya di atas tangan Regal. "Aku percaya, Mas."
---
Malamnya, setelah semuanya beres, Regal dan Abel duduk santai di sofa ruang keluarga. Abel sedang membaca buku, sementara Regal sibuk dengan laptopnya.
"Kamu nggak istirahat, Mas?" tanya Abel sambil menutup bukunya.
Regal menoleh, tersenyum. "Mas cuma cek email sebentar. Nggak mau bikin kamu merasa sendirian."
Abel menggeleng kecil, tersenyum lembut. "Aku nggak pernah merasa sendirian kalau ada kamu."
Regal mematikan laptopnya, lalu pindah duduk di samping Abel. Ia merangkul bahu istrinya, memberikan kecupan ringan di kepalanya.
"Mas juga nggak butuh apa-apa lagi selain kamu dan bayi kita," ujar Regal dengan tulus.
Abel menatapnya, hatinya penuh rasa syukur. Mereka mungkin sudah terbiasa dengan kemewahan, tetapi kini mereka menyadari bahwa kenyamanan dan cinta adalah yang paling penting dalam hidup mereka.
Abel berpindah, ia duduk diatas paha pria itu sambil mengalungkan tangannya.
"Akhirnya kita bisa bebas mengekspresikan apa yang kita mau, mas! " ucap Abel dengan senyuman yang indah.
"Tapi enak kan? " kata Regal sambil memperlembut gerakannya.
Abel tersenyum, "Semua sentuhan mu enak mas, makanya jadi dede bayi ini" katanya sambil menunjuk ke perutnya.
Abel langsung merasakan sesuatu yang mengeras, "Begitu saja langsung bangun " ledeknya.
"Gara-gara kamu sih, "
"Ih apa sih orang mas yang duluan tuh pegang-pegang, awwwwss.... " Regal berulah, mungkin ia merindukan gadisnya yang sudah lama tak ia jamah.
"Karena kamu sexy baby, terlalu sexy. seperti aku akan selalu mengingkanmu setiap hari " goda nya.
"Hahaha... apa kau kuat? sepertinya vagina ku akan berlubang besar jika kamu masukin tiap hari mas" ucap Abel dengan tawanya.
"Tak perlu khawatir, aku akan memberikan perawatan untukmu agar selalu sempit" Regal mengecup bibirnya.
Awalnya Abel tak membuka bibirnya, namun akhirnya ia tergoda. Menerima lumatan dari suaminya dan merasakan sensasi gerakan lembut di kedua payudaranya.
"Aku ingin bermain lembut, sayang" ucap Regal di tengah ciuman mereka.
Bibir mereka menyatu, lidahnya saling menyapa, air liurnya bercampur. Sesekali mereka saling menggigit bibirnya lembut. Regal membuka kancing baju istrinya, memperlihatkan betapa montok dan pulennya payudara milih Abel.
Abel kehabisan nafas, mereka melepaskan ciumannya. Regal mengusap air liur yang jatuh di bibir istrinya.
"Ini putingmu semakin membesar, aku ingin melahapnya " goda Regal sambil memainkan puting payudara nya.
"Sepertinya setelah bayi kita lahir kau akan punya saingan " Abel tersenyum, mengusap lembut kepala Regal. Ia menatap suaminya yang sedang menyedot payudaranya, sesekali meninggalkan kissmark disana.
"Awww... pelan-pelan sayang" rintih Abel, sepertinya suaminya ini terlalu bersemangat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.