Beberapa hari berlalu sejak kecelakaan tragis itu, Abel dan Regal masih terbaring di ruangan ICU rumah sakit dengan berbagai alat bantu yang menopang kehidupan mereka.
Abel terbaring di sisi kiri, wajahnya tertutup luka-luka kecil dengan infus yang terpasang di tangan. Napasnya hanya terdengar lewat mesin ventilator, membuat dadanya naik turun perlahan.
Di sisi kanan, Regal dalam kondisi serupa, wajahnya tampak lebih pucat dengan perban melilit sebagian kepala dan lengannya. Monitor di samping mereka berdua menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil namun tetap kritis.
Lisa berdiri di sudut ruangan sambil menggendong Aurora yang terlihat sangat rewel. Bayi kecil itu menangis terus-menerus, menggeliat di pelukan Lisa seolah-olah merasakan ketidakhadiran kedua orang tuanya. Lisa berusaha keras menenangkannya, namun air matanya tak henti-hentinya mengalir. Dengan langkah pelan, ia mendekati ranjang Abel.
"Bel..." Lisa berbisik dengan suara yang bergetar, pandangannya terfokus pada sahabatnya yang tak sadarkan diri. Tangannya yang bebas menggenggam jemari Abel yang dingin.
"Kamu nggak boleh kayak gini. Kamu harus bangun... Aurora butuh kamu. Aku nggak tahu harus gimana kalau kamu terus seperti ini." Suaranya pecah di akhir kalimat, air matanya jatuh menetes ke punggung tangan Abel.
Aurora menangis semakin keras, membuat Lisa semakin sulit menahan emosinya. Ia berlutut di samping ranjang Abel, tubuhnya bergetar menahan isakan.
"Kamu tahu, aku dulu marah banget sama kamu. Tapi aku nggak pernah benci kamu, Bel. Aku cuma... Aku cuma takut kehilangan kamu. Dan sekarang aku yang nggak tahu harus gimana kalau kamu nggak ada."
Lisa beralih ke ranjang Regal. Matanya memandangi ayahnya yang tampak begitu lemah, sangat berbeda dari sosok pria kuat yang selalu ia kenal.
"Papa... Papa nggak boleh nyerah. Aku tahu Papa selalu berjuang untuk keluarga. Sekarang juga, Papa harus tetap berjuang, buat Abel... buat Aurora."
Lisa mengangkat Aurora yang terus menangis, mendekatkannya ke Regal.
"Aurora juga butuh Papa, Pa. Dia butuh Papa buat jaga dia, buat ajarin dia banyak hal. Jadi, bangunlah, Pa... kumohon." Aurora yang masih belum bisa memahami situasi hanya terus menangis, tangannya yang mungil berusaha menggenggam jari-jari Regal yang terkulai di samping ranjang. Lisa tersenyum getir sambil mengusap kepala bayi kecil itu.
"Tenang ya, Aurora... kita harus sabar, ya. Papa dan Mama pasti bangun, aku yakin," katanya sambil memeluk Aurora erat.
Namun, dalam hatinya, Lisa merasa takut kehilangan mereka berdua. Ia memejamkan matanya, berdoa dengan tulus agar keajaiban datang.
Di luar ruangan ICU, keluarga Abel menunggu dengan cemas. Mereka terus bertanya-tanya bagaimana kondisi Abel dan Regal, namun dokter hanya bisa memberikan harapan samar-samar.
"Keduanya stabil, tapi kondisinya masih kritis. Kita hanya bisa menunggu dan berharap," kata dokter yang menangani mereka.
Lisa kembali mengarahkan pandangannya ke Abel dan Regal.
"Aku nggak akan ke mana-mana. Aku bakal di sini buat kalian. Jadi, tolong... bangunlah," katanya, suaranya hampir tak terdengar. Isak tangisnya semakin pelan, namun rasa sakit di dadanya terasa semakin dalam. Ruangan itu dipenuhi keheningan, hanya suara monitor yang terus berbunyi, menandakan kehidupan yang masih bertahan di tengah ketidakpastian.
-----
Hari demi hari berlalu dengan perlahan, dan kondisi Abel serta Regal masih belum menunjukkan perubahan berarti.
Lisa tetap setia menemani di rumah sakit, meski kelelahan jelas tergambar di wajahnya. Aurora, yang kini lebih banyak digendong oleh neneknya dari pihak Abel, tampak mulai terbiasa dengan suasana baru. Namun, setiap kali Lisa menggendong Aurora dan membawa bayi itu masuk ke ruangan ICU, tangisan Aurora selalu pecah, seolah ia tahu bahwa kedua orang tuanya terbaring tak berdaya.
Suatu pagi, dokter masuk ke ruangan ICU untuk memeriksa kondisi Abel dan Regal. Lisa segera berdiri, berharap ada kabar baik.
"Bagaimana, Dok? Ada perubahan?" tanyanya penuh harap.
Dokter menggelengkan kepala pelan, raut wajahnya tenang namun serius.
"Keduanya masih dalam kondisi stabil, tetapi belum ada tanda-tanda mereka akan sadar dalam waktu dekat. Ini memang membutuhkan waktu, tapi harapan tetap ada," katanya dengan nada menenangkan.
Lisa menelan kekecewaannya, lalu kembali duduk di kursi samping ranjang Abel. Ia menatap wajah sahabatnya yang masih diam dalam tidur panjang. Perlahan, ia berbicara, seperti sedang bercerita kepada Abel.
"Bel, aku tahu kamu kuat. Kamu selalu kuat, bahkan saat aku nggak ada di sisimu dulu. Kamu pasti bisa melewati ini," katanya sambil menggenggam tangan Abel erat. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke Regal.
"Papa... aku tahu Papa nggak mau ninggalin kita. Aurora butuh Papa, dan aku juga masih butuh Papa. Jadi, tolong bangun."
Aurora mulai rewel lagi di pelukan neneknya, membuat Lisa mendekat untuk menenangkan bayi itu. Ia mengelus kepala kecil Aurora, lalu menempatkan bayi itu di kursi bayi yang dibawa dari rumah.
"Aurora, ini Mama dan Papa kamu. Kamu harus jadi anak yang kuat, ya. Karena Mama dan Papa juga sedang berjuang buat kamu," bisiknya sambil menatap bayi itu yang mulai tenang.
Namun, di tengah keheningan itu, suara monitor Abel tiba-tiba berubah. Garis yang tadinya stabil mulai menunjukkan detak lebih cepat. Lisa terkejut, segera memanggil perawat dan dokter.
"Dokter! Ada sesuatu yang terjadi sama Abel!"
Tim medis segera masuk, memeriksa kondisi Abel dengan serius. Lisa berdiri di belakang mereka, hatinya campur aduk antara harapan dan ketakutan. Beberapa saat kemudian, dokter menoleh ke arah Lisa dan berkata,
"Detak jantungnya mulai menunjukkan respons yang lebih baik. Ini bisa jadi tanda bahwa ia mulai merespons."
Mata Lisa membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Jadi... jadi Abel akan sadar?" tanyanya dengan suara bergetar.
Dokter tersenyum kecil. "Kita belum tahu pasti, tapi ini langkah awal yang baik."
Lisa langsung mendekati Abel, air matanya mulai mengalir lagi.
"Bel... kalau kamu bisa dengar aku, tolong bangun, ya. Aurora dan aku nungguin kamu," katanya penuh harap.
Di sisi lain, Regal masih belum menunjukkan perubahan. Lisa menoleh ke arahnya, seolah meminta agar Regal juga ikut berjuang.
"Pa, lihat Abel... dia mulai bangun. Papa juga harus bangun, Pa. Keluarga kita nggak lengkap tanpa kalian berdua."
Ruangan itu kembali sunyi, tapi kini dengan harapan kecil yang mulai tumbuh. Aurora, yang masih duduk di kursinya, memandang ke arah ranjang Abel dengan mata polosnya, seolah ikut memberikan semangat untuk sang ibu.
****************
vote gaesss, doainn mereka cepet pulihhh🙁
KAMU SEDANG MEMBACA
OM REGAL (END)
Fiction générale🔞🔞🔞 Lisa dan Abel merupakan sahabat dekat sejak SMP. Sebelumnya Lisa hidup dengan ibunya, namun setelah ibunya meninggal ayahnya harus pulang ke Indonesia untuk menemani putri satu-satunya. Dan disitu lah Regal bertemu dengan gadis seumuran anak...
