Kecelakaan

5K 52 1
                                        

Saat pesawat mereka melaju di udara, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang mengguncang seluruh kabin. Penumpang yang sebelumnya tenang dan nyaman mulai panik. Abel memegang tangan Regal, wajahnya penuh kecemasan, sementara Aurora yang tertidur di pangkuan Abel terbangun karena guncangan yang sangat kuat.

"Mas, ada apa ini?" Abel berusaha bertanya dengan suara gemetar, tetapi Regal sendiri tampak kaget dan cemas.

"Tenang, sayang, kita akan baik-baik saja," jawab Regal, berusaha menenangkan meskipun ia sendiri merasa cemas.

Namun, pesawat tiba-tiba kehilangan ketinggian dengan sangat cepat. Suara mesin yang mengguruh dan getaran yang semakin keras membuat para penumpang mulai berteriak panik. Beberapa dari mereka terlihat berdoa, sementara yang lain mencoba menyelamatkan diri dengan berpegangan pada kursi atau pegangan yang ada.

"Tolong, Tuhan..." Abel berbisik, dengan air mata mulai mengalir. Ia memeluk Aurora erat-erat, merasakan betapa beratnya situasi itu.

"Aku takut, Mas..." katanya dengan suara yang hampir tak terdengar.

Regal menggenggam tangan Abel lebih erat, berusaha mengendalikan dirinya, meskipun ia tahu situasi ini sangat berbahaya.

"Abel, kita harus tetap tenang. Kita harus kuat, untuk Aurora." Ia berusaha menenangkan istrinya, meski dadanya terasa sesak.

Tak lama setelah itu, pesawat itu jatuh dengan kecepatan tinggi, menghantam gunung yang tinggi dan terjal. Suara benturan yang keras memenuhi udara, dan kabin pesawat hancur berantakan, membuat para penumpang terlempar dari kursinya. Keadaan menjadi sangat kacau, dan kabin pesawat dipenuhi dengan asap dan api.

Regal tergeletak di salju, ia sedikit membuka matanya. Putri kesayangannya tak sadarkan diri, berada di dekat Regal. Air matanya jatuh, ia tak bisa banyak bergerak karena rasa sakit yang luar biasa. Kepalanya mengalir banyak darah, tubuhnya banyak luka da goresan. kakinya tak bisa ia rasakan, salju yang berwarna putih bersih kini berubah menjadi warna merah darah.

Sementara Abel tergeletak di jurang yang gelap, tubuhnya terasa sakit dan kaku akibat benturan keras. Hujan salju semakin deras, menambah dinginnya udara yang menusuk ke kulitnya yang terluka. Nafasnya terengah-engah, dan dunia di sekelilingnya terasa semakin gelap, seiring dengan perasaan pusing yang menguasai tubuhnya.

Ia mencoba untuk membuka matanya, namun semuanya terasa kabur. Ada rasa perih yang menyebar di tubuhnya, dan setiap kali ia mencoba untuk bergerak, rasa sakit yang menjalar membuatnya tak bisa bertahan.

"Regal... Aurora..." bisiknya lemah, namun suaranya hampir tak terdengar. Ia berusaha untuk fokus, untuk mengingat keberadaan suaminya dan putri mereka, namun semuanya terasa semakin kabur.

Di dalam kegelapan yang menyelimuti, ia tak bisa memprediksi seberapa lama ia tak sadarkan diri. Tak ada suara yang bisa ia dengar selain deru salju yang terus turun, mengguyur tubuhnya yang tergeletak di tanah. Di saat itu, pikirannya melayang, berusaha untuk mengingat kembali segala kenangan indah bersama Regal dan Aurora. Meskipun tubuhnya terasa hancur, hatinya tetap dipenuhi oleh satu pemikiran: mereka berdua harus selamat.

Namun, tubuhnya semakin terasa berat, dan ia tak bisa mengusir rasa pusing yang semakin menyelimutinya. Semua yang ada di sekitarnya hanya gelap, dan perlahan, kesadaran Abel mulai menghilang. Ia terjatuh kembali ke dalam kegelapan, tak sadarkan diri.

Di saat yang sama, Regal di atas gunung terbaring tak jauh dari Aurora yang masih tak sadar. Dalam keadaan kritis dan tak mampu bergerak, Regal merasakan dirinya semakin lemah. Namun, dalam kekalutannya, ia terus berusaha mengingat Abel dan bayinya. Ia tahu bahwa jika ia menyerah sekarang, tak ada yang akan bisa menyelamatkan mereka.

Meskipun kegelapan menyelimuti mereka, ada satu harapan yang tetap menyala di hati Regal: ia akan tetap bertahan untuk keluarganya. Namun, tanpa kehadiran Abel di sisinya, ia merasa semakin cemas dan khawatir.

******
akankah mereka selamat? ☹️☹️☹️☹️

OM REGAL (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang