Prioritas Hidup

5.9K 54 0
                                        

Regal duduk di meja kerjanya dengan alis berkerut. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam, tetapi ia masih harus menyelesaikan dokumen-dokumen penting untuk proyek besar yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam benaknya, ia tahu Abel sedang menunggunya di rumah, beristirahat dengan perutnya yang semakin besar.

Ketukan pintu membuatnya mendongak. Sebelum ia sempat memberi izin, pintu terbuka, dan Jemima masuk dengan senyum yang selalu menggoda. Jemima mengenakan blazer formal, tetapi caranya bergerak jelas menunjukkan bahwa ia berniat menarik perhatian.

"Pak Regal, kamu masih kerja keras, ya? Aku bawain kopi lagi, biar semangat," katanya sambil meletakkan cangkir di meja Regal.

Regal hanya mengangguk singkat tanpa melepaskan matanya dari dokumen. "Terima kasih, Jem. Tapi saya harus menyelesaikan ini secepatnya."

Jemima tidak beranjak. Ia justru berjalan ke sisi meja dan berdiri di dekat Regal. "Pak, kamu terlalu keras sama diri sendiri. Kamu harus ingat, kalau kamu nggak jaga kesehatan, siapa yang akan jaga keluarga kamu nanti?"

Regal mengangkat matanya dan memandang Jemima dengan ekspresi tegas. "Itulah kenapa saya harus selesai malam ini. Supaya saya bisa pulang lebih cepat dan fokus ke keluarga."

Jemima tersenyum kecil, lalu, dengan gerakan halus, ia menyentuh lengan Regal. "Aku cuma mau bantu kamu rileks sedikit, Pak. Aku tahu beban kamu berat."

Regal menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. Ia perlahan menarik tangannya dari sentuhan Jemima. "Saya menghargai perhatianmu, Jem, tapi saya baik-baik saja.Saya nggak butuh lebih dari ini."

Namun, Jemima semakin mendekat, tubuhnya nyaris bersandar di meja. "Pak Regal, aku nggak bisa bohong. Aku masih peduli sama kamu, lebih dari sekadar rekan kerja." Suaranya mulai terdengar lirih, tapi jelas sarat dengan maksud lain.

Regal mengatupkan rahangnya, mencoba mengendalikan emosi. "Jem, saya sudah bilang berkali-kali. Saya menghormati kamu sebagai kolega, tapi tolong jangan bawa ini ke arah yang lain."

Jemima tersenyum kecil, tetapi matanya menunjukkan bahwa ia tidak menyerah. "Pak, aku tahu kamu lelah. Kadang, nggak apa-apa kok untuk berbagi sama orang lain, meski cuma sebentar."

Regal berdiri dengan cepat, membuat kursinya bergeser sedikit ke belakang. Ia memandang Jemima dengan tatapan dingin.

"Jemima, ini sudah cukup. Saya nggak akan membiarkan siapa pun, termasuk kamu, mengganggu pernikahan saya. Kalau kamu masih menghormati saya sebagai atasan, saya minta kamu berhenti."

Jemima terlihat terkejut, tetapi ia segera memasang senyumnya lagi, mencoba menyembunyikan rasa malu. "Baik, pak. Maaf kalau aku terlalu jauh. Aku hanya khawatir sama kamu."

"Kalau kamu benar-benar peduli, kamu akan tahu batasanmu," jawab Regal dengan nada tegas sebelum kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya.

Setelah Jemima pergi, Regal menghela napas panjang. Pikirannya melayang ke Abel. Ia merasa bersalah karena sering pulang larut dan jarang meluangkan waktu untuk istrinya yang sedang hamil besar. Ia bersumpah dalam hati untuk segera menyelesaikan proyek ini dan kembali memberikan seluruh perhatiannya pada Abel.

"Abel adalah segalanya untukku," gumamnya pelan, mengingat senyum lembut istrinya setiap pagi saat menyambutnya di pintu.

-----

Setelah kejadian dengan Jemima, Regal memutuskan untuk menolak ajakan makan siang bersama atau interaksi berlebihan lainnya di kantor. Ia menyadari betapa mudahnya situasi seperti itu bisa disalahartikan, dan ia tidak ingin mengambil risiko menyakiti hati Abel.

Malam itu, Regal akhirnya pulang lebih awal. Ia tahu Abel pasti sudah menunggunya dengan penuh harap. Saat membuka pintu rumah, aroma masakan yang khas langsung menyambutnya. Abel, meski kehamilannya sudah besar, tetap berusaha memasak untuknya.

"Mas Regal, kamu pulang cepat?" tanya Abel dengan senyum lebar, meski wajahnya terlihat sedikit lelah.

Regal langsung menghampirinya, memeluk Abel dengan lembut sambil mengecup keningnya.

"Iya, Sayang. Aku janji sama diri sendiri buat lebih sering pulang cepat. Kamu dan bayi kita jauh lebih penting daripada apa pun."

Mereka duduk bersama di meja makan. Regal membantu menyajikan makanan, dan Abel menatapnya dengan rasa terima kasih yang dalam.

"Mas, hari ini aku ngerasa bayi kita lebih aktif. Dia kayak tahu kalau papanya bakal pulang cepat," kata Abel sambil tersenyum kecil, tangannya mengelus perutnya.

Regal menatap perut Abel dengan penuh cinta, lalu mendekatkan wajahnya.

"Hei, Nak, kamu kangen sama Papa, ya? Papa janji nggak akan sering pulang malam lagi," bisiknya sambil mencium perut Abel.

Abel terkikik kecil.

"Mas, kamu ngomongnya kayak bayi kita udah bisa ngerti aja."

Regal menatap istrinya dengan serius tapi lembut. "Dia pasti ngerti, Sayang. Karena aku ngomong dari hati."

Setelah makan malam, mereka duduk bersama di ruang keluarga. Abel bersandar di bahu Regal sambil sesekali mengelus perutnya. Regal memainkan rambut Abel, mencoba membuatnya rileks.

"Mas, aku tahu kamu sibuk, tapi aku nggak pernah ngerasa sendirian. Aku tahu kamu selalu berusaha buat kita," kata Abel pelan.

Regal menghela napas panjang. "Aku minta maaf kalau akhir-akhir ini aku kurang perhatian. Tapi aku janji, mulai sekarang, aku akan lebih ada buat kamu dan bayi kita."

Abel mengangguk pelan, lalu menatap Regal dengan senyum lembut. "Aku percaya sama kamu, Mas."

Malam itu, sebelum tidur, Regal memeluk Abel dari belakang yang sudah tertidur lebih dulu. Tangannya kembali mengelus perut istrinya, merasakan sedikit gerakan dari bayi mereka.

"Papa nggak sabar ketemu kamu," bisik Regal sebelum mengecup perut Abel sekali lagi. Dalam hatinya, ia tahu bahwa prioritas hidupnya telah berubah. Tidak ada yang lebih penting daripada Abel dan bayi mereka.

 Tidak ada yang lebih penting daripada Abel dan bayi mereka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*******

vote sayang😘

OM REGAL (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang