Kesibukan masing-masing

16.8K 67 1
                                        

5 BULAN KEMUDIAN

Kehidupan pasutri itu semakin hari semakin harmonis dan hangat. Namun beberapa minggu ini mereka nampak di sibukan dengan urusan masing-masing. Perut Abel semakin membesar tapi ia harus segera menyelesaikan skripsi nya. Dan Regal sibuk dengan urusan kantornya karena beberapa masalah terjadi.

Abel berjalan menyusuri trotoar yang sibuk di sekitar kampus, matanya terlihat fokus dan sedikit cemas. Hari ini, ia memutuskan untuk menghadiri kampus secara langsung setelah beberapa bulan sibuk dengan kuliah virtual, terutama untuk mengurus berbagai hal terkait skripsinya yang hampir selesai. Angin berhembus pelan, menyapu rambut panjangnya yang tertiup dengan lembut.

Saat Abel berhenti di depan kafe yang terletak di sudut kampus, ia merasa sedikit lega. Ia membutuhkan secangkir kopi untuk menenangkan pikirannya sebelum bertemu dengan dosen pembimbingnya. Namun, sebelum Abel sempat membuka pintu kafe, langkahnya dihentikan oleh suara yang ia kenal.

“Abel?”

Abel menoleh ke arah suara itu dan melihat Albi, teman masa kecilnya, berdiri di sana dengan senyum hangat di wajahnya. Albi tampak sedikit lebih dewasa, mengenakan jaket kulit dan kaus berwarna netral, meski sorot matanya masih sama – penuh rasa ingin tahu dan kehangatan.

“Albi!” Abel berkata dengan nada terkejut, bibirnya sedikit membentuk senyum yang tampak tidak yakin. “Kamu… lama nggak terlihat.”

“Iya, udah lama sejak nikahan kamu,” jawab Albi, matanya bersinar seolah-olah ada rasa senang yang tersembunyi. “Aku pikir kamu udah nggak ingat sama aku.”

Abel tersenyum kecil, seolah-olah dia sudah lupa bagaimana cara berinteraksi dengan teman masa kecilnya. “Ngomong-ngomong, kamu gimana? lagi ngambil S2 kan? .”

“Iya nih,” jawab Albi. "Lumayan sibuk sambil kerja part time, dan sekarang lagi sibuk cari-cari tahu tentang berbagai hal di hidupku. Kamu sendiri?”

Abel menghela napas pelan, mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih ringan. “Aku sibuk sama kuliah dan… ya, skripsi. Sebenarnya aku udah sibuk banget, tapi hari ini harus ke kampus untuk beberapa urusan.”

“Wow, keren banget! Skripsi udah mau selesai?” tanya Albi, matanya tampak penuh rasa ingin tahu.

“Ya, hampir,” jawab Abel, terlihat sedikit lega. “Cuma tinggal sedikit lagi.”

Keduanya duduk di meja yang tersedia di luar kafe, memesan secangkir kopi masing-masing. Obrolan pun mengalir, dari masa lalu yang penuh kenangan hingga kehidupan mereka saat ini. Albi tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh tentang hidup Abel yang kini, terutama mengenai hubungan dan rencananya setelah lulus.

“Jadi, gimana rasanya jadi ibu muda yang lagi hamil sambil kuliah?” tanya Albi, nada suaranya terdengar penasaran.

Abel tersenyum kecil, sedikit terkejut dengan pertanyaan Albi. “Ya, agak rumit sih,” jawab Abel dengan nada lebih serius. “Aku harus pintar-pintar ngatur waktu antara kuliah, kerjaan di rumah, dan urusan sama bayi. Tapi, semuanya jadi lebih mudah karena ada Regal.”

Albi mengangguk, seolah-olah ia mengerti namun tetap penuh dengan rasa penasaran. “Regal, ya? Itu suamimu yang… CEO itu, kan?”

Abel mengangguk, ekspresinya terlihat sedikit lebih lembut. “Iya, benar. Dia sibuk banget dengan kantor, dan aku juga sibuk dengan skripsiku. Kadang-kadang rasanya kami nggak punya waktu buat sekadar ngobrol.”

“Wah, pasti agak berat, ya,” Albi berkata sambil mengamati ekspresi Abel. “Tapi… gimana dengan kamu sendiri, Abel? Apa kamu bahagia?”

Abel terdiam sejenak, memandang jauh ke dalam cangkir kopinya sebelum berbicara. “Kadang aku merasa bahagia, Albi. Tapi, kadang juga ada perasaan yang nggak bisa aku jelaskan. Kadang, aku merasa jauh dari semua yang aku pikir bisa bikin aku bahagia,” jawabnya pelan.

OM REGAL (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang