Hari ini adalah hari yang membuat Abel begitu tegang. Ujian kali ini ia benar-benar tak yakin akan jawabannya karena semalam ia pun tak fokus belajar. Tentu saja tak fokus walaupun ditemani Regal dirumah pria itu tapi kekasihnya terus saja menganggu.
Setelah waktu ujian selesai, para mahasiswa keluar sembari menggendong tas ransel mereka. Abel berjalan sembari mendengarkan musik lewat earphones kabel.
"Hai" ia melirik ke bawah, melihat sepatu berukuran cukup besar.
Lalu mendongak ke atas, "Abel? " sembari melepas salah satu earphones nya.
"H-hah? " ucapnya gugup, perasaannya campur aduk. Jantungnya berdegup kencang melihat sosok di depan.
Pria itu tersenyum, "Ternyata masih sama "
Ada hal yang membuatnya tak pernah lupa dari sosok Abel. Waktu berputar lebih cepat tapi Abel tak merasakannya, ia hanya menatap pria itu dan merasa waktu telah berhenti.
"Hei, kamu ga apa-apa? " Pria itu menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga.
10 tahun yang lalu
"Hei Abel! aku bawa kue pisang buatan bunda! "
Anak laki-laki berumur 13 tahun membawa kotak bekalnya, ia membuka kotak itu lalu menyerahkannya pada gadis 10 tahun yang di kuncir kuda.
"Wah makasih kak Albi, ayo makan bareng aku " dengan antusias mereka duduk bersama di taman kompleks.
"Aku suka kamu baikan lagi sama bunda, jadi bunda mau tinggal dirumah mu kan kak? "
"Heum.. " Albi menghela nafas lesu, tentu ia tak ingin membuat gadis kecilnya kecewa.
"Aku akan pergi, ini yang terakhir kita bermain bersama bel " Albi menatap dalam anak perempuan didepannya, air mata bocah 10 tahun itu langsung turun deras. Ia langsung memeluk Albi dengan erat dan menangis di atas pundaknya .
"Kak.. hiks.. aku gamau.. hikksss.. gamau pisah sama kakak"
Albi terlahir dari keluarga broken home, ayahnya pergi dengan wanita lain sementara ibunya jarang pulang kerumah. Namun hari itu, antara sedih dan senang. Senang karena ia akan kembali berkumpul bersama Bundanya tapi juga sedih harus berpisah dari Abel sahabat kecilnya.
"Hei, Abel! " pria ini menyadarkan Abel, matanya berkaca-kaca. Ia langsung mendekap pria itu dengan dekapan penuh kerinduan.
"Hikss... al.. albiii... "
Albi tersenyum tipis, ia mengusap kepala gadis itu pelan. "Ayo kita ngobrol di tempat lain "
Di sebuah kafe yang nampak sepi, Albi dan Abel duduk berhadapan. Abel tak berhenti menatap pria itu, matanya masih sama.
"Hei, sampai kapan kamu menatap ku? "
"Kenapa baru datang? aku nunggu kamu lama sekali" kata Abel.
Albi memotong roti dan menyodorkannya ke mulut Abel, "Kamu harus makan dulu, baru selesai ujian kan? "
Momen ini mengingatkan pada masa kecil mereka. Albi dan Abel sudah berteman sejak mereka bayi, mereka berdua tumbuh bersama. Tidak ada yang bisa memisahkannya waktu itu. Namun, semesta membuat mereka terpaksa untuk terpisah dan hilang kabar.
Tidak ada yang tau keadaan Albi, begitu juga dengan Albi ia tak tau keadaan Abel. Namun setelah kelulusan nya, ia memutuskan belajar bisnis restoran di negara ini.
"Abel, stop natap aku kaya gitu " Albi jelas salting, Gadis itu terus menatapnya dalam dan intens.
"Kamu ga ada yang berubah Al, tambah ganteng dan manis " katanya.
"Hahaha.. stop bel "
"Oh ya, kamu kenapa bisa atau aku disini? " tanya Abel.
"Seminggu lalu aku baru pulang dari Kanada, pagi tadi aku iseng ke kompleks rumah siapa tau kamu belum pindah dari situ. Ternyata bener aku ketemu papah kamu " jelas Albi.
"Oh ya? terus kamu kesini sama siapa? bunda kamu gimana? "
"Bunda masih di Kanada, dia nikah sama orang sana. Aku kesini sama adik tiri aku Nicolae" jelasnya lagi.
"Wah, berarti ga kesepian dong? kenalin dong ke akuu " Albi tiba-tiba mencubit gemas pipi Abel.
"Aw! "
"Haha.. kamu makin gemes bel, masih kayak anak 10 tahun " ucap Albi.
"Ga ya! aku udah kuliah , udah dewasa " -Abel
"iya iya deh, berarti udah punya pacar dong. Aduh ntar marah lagi kalo pacar kamu tau " ledeknya
Abel mati kutu, ia bingung. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa kekasihnya adalah ayah dari sahabatnya kan?
"Ada kok, banyak yang mau sama aku. Antri malah, kamu ga ikut ngantri? "
---------
"Stop hubungi anak saya! "
Regal terus terngiang dengan kata-kata itu. Ia juga sadar diri, apalagi ia juga memiliki seorang putri. Regal juga berpikir jika Lisa berpacaran dengan pria seusia dirinya pasti ia akan menolak keras.
Pikirannya kalut, ia berdiri menatap pemandangan kota dari kantornya. Hari sudah malam, ia meneguk secangkir kopi. Lusa ia harus pergi dinas ke luar negeri selama 3 hari.
Sementara itu, Abel tengah duduk di kursi taman belakang. Ia duduk berdua dengan daddy-nya.
"Masa depan mu masih panjang nak, daddy tau kami sebagai orang tua jarang kasih waktu buat kamu. tapi ini semua kan buat kebutuhan kamu, sayang " ucap daddy, ia meneteskan air matanya menghadapi anak gadis satu-satunya ini.
"Tapi apa daddy tau? yang aku butuhin cuma kasih sayang daddy sama mommy. Waktu kalian dad, waktu kalian! makanya kenapa aku bisa mau sama om Regal, Daddy tau? Om Regal bisa kasih aku waktu, kenyamanan dan semua yang ga bisa Daddy kasih ke aku! "
Baskoro mengacak rambutnya frustasi, "Kamu kenapa bisa begini sih, kamu tuh udah di cuci otaknya sama dia! "
"Cukup! " mommy datang.
"Anakmu ini, daddy ga habis pikir dengan tingkahnya! "
"Kenapa sih tiba-tiba kalian peduli sama aku? biasanya yang kalian peduliin cuma UANG DAN C UANG! "
Abel pergi dari rumah mengabaikan teriakan daddy nya. Ia tak tau lagi harus kemana selain ke rumah Regal.
Semenjak kepergian Lisa, rumah itu menjadi sangat privat. Bahkan art sebelumnya sudah di pindahkan ke rumah saudara yang lain karena Regal ingin rumahnya hanya di huni oleh dia sendiri.
Namun ada satu bodyguard yang selalu standby disana, orang kepercayaan Regal yang sudah tau tentang hubungannya.
"Om, dimana pak Regal? " tanya Abel dengan suara serak.
"Sebaiknya nona masuk, saya akan menghubungi beliau "
Abel masuk kerumah, ia duduk di sofa memeluk lututnya sendiri. Menenggelamkan wajahnya disana, ia takut jika terpisahkan dengan Regal, ia takut mereka berpisah.
******
sorry baru up, ingetin terus buat up ya😘
KAMU SEDANG MEMBACA
OM REGAL (END)
General Fiction🔞🔞🔞 Lisa dan Abel merupakan sahabat dekat sejak SMP. Sebelumnya Lisa hidup dengan ibunya, namun setelah ibunya meninggal ayahnya harus pulang ke Indonesia untuk menemani putri satu-satunya. Dan disitu lah Regal bertemu dengan gadis seumuran anak...
