🔞🔞🔞
Lisa dan Abel merupakan sahabat dekat sejak SMP. Sebelumnya Lisa hidup dengan ibunya, namun setelah ibunya meninggal ayahnya harus pulang ke Indonesia untuk menemani putri satu-satunya.
Dan disitu lah Regal bertemu dengan gadis seumuran anak...
Hari demi hari, Aurora tumbuh dengan cepat, membawa kebahagiaan yang tak terukur ke dalam rumah mereka. Abel dan Regal selalu kagum melihat perkembangan kecil tapi berarti dari bayi mungil mereka. Rumah yang sebelumnya terasa sepi kini dipenuhi tawa dan suara celoteh Aurora.
Pada usia tiga bulan, Aurora mulai mengoceh. Suara kecilnya seperti musik bagi Abel dan Regal. Abel sering duduk di dekat boks Aurora, berbicara padanya dengan suara lembut.
“Sayang, dengar deh,” panggil Abel suatu pagi dengan semangat. “Aurora bilang ‘ba-ba’ tadi! Aku dengar jelas!”
Regal, yang sedang mengenakan dasi untuk ke kantor, segera menghampiri. “Benarkah? Aurora, coba bilang lagi ke Papa,” katanya dengan suara lembut sambil menggelitik perut putrinya.
Aurora tertawa kecil sambil mengoceh lagi, kali ini lebih keras. “Ba-ba-ba,” katanya, membuat hati Abel dan Regal berbunga-bunga.
“Kamu anak pintar, ya,” ujar Regal sambil mencium pipinya. “Papa yakin nanti kamu akan jadi anak yang hebat.”
Pada usia lima bulan, Aurora mulai belajar tengkurap. Abel mengawasi dari dekat, menyiapkan kamera untuk merekam momen itu. “Ayoo, sayang, kamu pasti bisa,” kata Abel, mendukung putrinya yang tampak berusaha keras memiringkan tubuhnya.
Setelah beberapa detik, Aurora berhasil tengkurap untuk pertama kalinya. “Mas! Dia berhasil!” teriak Abel dengan suara penuh kegembiraan.
Regal, yang baru saja pulang kerja, langsung meletakkan tas kerjanya dan menghampiri mereka di ruang tamu. “Aurora, kamu hebat sekali! Papa bangga sama kamu!” katanya sambil mengangkat Aurora tinggi-tinggi, membuat bayi itu tertawa ceria.
Aurora mulai sering menunjukkan rasa ingin tahunya. Ia senang menggenggam mainan warna-warni yang Abel belikan, menggoyangnya hingga berbunyi. Suatu hari, Aurora meraih wajah Abel dan memegang pipinya dengan tangan mungilnya.
“Mas, lihat deh, dia mulai mengenali kita,” kata Abel sambil tersenyum penuh cinta.
Regal tersenyum lebar. “Tentu saja dia kenal, kamu kan mamanya yang paling cantik,” katanya sambil duduk di samping Abel.
Pada malam harinya, saat Aurora tertidur lelap di boksnya, Abel dan Regal duduk bersama di dekat jendela. Abel bersandar di bahu Regal, matanya memandangi Aurora dengan penuh cinta.
“Mas, aku merasa waktu berjalan terlalu cepat. Rasanya baru kemarin aku melahirkan, sekarang dia sudah tengkurap sendiri,” ujar Abel, matanya berkaca-kaca.
Regal mengecup keningnya. “Aku tahu, Sayang. Aku juga merasa seperti itu. Tapi justru itu yang membuat setiap momen ini begitu berharga.”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bahkan Bayi mungil itu sudah tak bisa diam di tempat, rasa keingintahuan nya cukup tinggi. Jika tak di awasi bisa-bisa aurora kabur dari box bayi walaupun bayi itu belum bisa jalan.
-------
Di pagi hari, sebelum Regal berangkat kerja, ia selalu menyempatkan diri bermain dengan Aurora. Hari itu, ia membaringkan Aurora di pangkuannya dan menggoyangkan kakinya perlahan.
“Aurora, Papa harus kerja dulu, ya. Tapi jangan khawatir, nanti Papa pulang cepat supaya bisa main sama kamu,” kata Regal sambil mencium dahi putrinya.
Aurora tersenyum lebar, seolah mengerti kata-kata ayahnya. Abel yang sedang menyiapkan sarapan di dapur hanya bisa tersenyum melihat kedekatan mereka.
“Mas, nanti pulangnya jangan terlalu malam, ya,” pinta Abel sambil menghampiri mereka.
“Iya, Sayang. Aku akan berusaha. ,” jawab Regal, matanya memancarkan ketulusan.
Hari-hari mereka dipenuhi kebahagiaan sederhana—tawa Aurora, momen kecil bersama keluarga, dan harapan besar untuk masa depan. Aurora benar-benar membawa cahaya baru ke dalam hidup mereka, membuat semua perjuangan terasa berarti.
Di kantor, Jemima kini resmi menjadi sekretaris pribadi Regal setelah sekretaris lamanya pindah tugas ke cabang lain. Hal ini menjadi celah bagi Jemima untuk semakin mendekat. Dengan posisinya yang kini lebih dekat dengan Regal, ia merasa memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan perhatian pria itu, meskipun ia tahu Regal sudah berkeluarga.
Suatu pagi, Jemima mengetuk pintu ruang kerja Regal sambil membawa secangkir kopi hangat. Ia masuk dengan senyuman ramah.
“Pak Regal, ini kopi Anda. aku buatkan seperti biasa, dua gula tanpa susu,” katanya sambil meletakkan cangkir itu di meja Regal.
Regal, yang sedang membaca laporan, mengangguk singkat. “Terima kasih, Jemima.”
Jemima berdiri beberapa detik di depan meja, mencoba mencari topik untuk memulai pembicaraan. “Bapak terlihat lelah akhir-akhir ini. Apa semua baik-baik saja?” tanyanya dengan nada perhatian.
Regal menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. “Semua baik-baik saja. Proyek yang sedang berjalan ini memang cukup menantang, tapi saya akan mengatasinya.”
“Kalau begitu, jangan sungkan untuk meminta bantuan, Pak. aku di sini untuk membantu mu pak Regal ” ujar Jemima, sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah menunjukkan perhatian lebih.
Regal hanya mengangguk lagi. “Terima kasih, Jemima. Saya akan menghubungi kalau butuh bantuan.”
Namun, Jemima tidak menyerah. Setiap hari ia selalu mencari alasan untuk berada di dekat Regal—membawakan dokumen, mengingatkan jadwal rapat, atau sekadar menawarkan makan siang bersama.
“Pak, aku tau ada restoran baru di dekat kantor. Mungkin setelah ini kita bisa makan siang di sana?” usul Jemima suatu siang, sambil berdiri di depan pintu ruangannya.
Regal yang sedang sibuk mengetik di laptop mengangkat wajahnya. “Makan siang di meja saya saja, Jemima. Saya tidak punya waktu keluar,” jawabnya tegas.
Jemima tetap tersenyum, walaupun merasa sedikit kecewa. “Baik, kalau begitu aku akan memesankan makanan untuk kita.”
Saat makan siang, mereka memang hanya berbicara soal pekerjaan. Tapi Jemima terus mencari celah untuk menyisipkan perhatian.
“Pak Regal benar-benar luar biasa. aku belum pernah bekerja dengan atasan yang begitu teliti dan berdedikasi seperti mu pak” puji Jemima sambil menyuap makanannya.
Regal hanya menanggapinya dengan singkat. “Terima kasih, Jemima. Tapi mari fokus ke pekerjaan.”
Meski Regal terlihat tidak terlalu merespon upaya Jemima, ia tetap merasa bersalah setiap kali harus berinteraksi lebih lama dengannya. Dalam hatinya, ia tahu Abel mungkin tidak akan suka jika tahu bahwa Jemima sering mencari alasan untuk berada di dekatnya.
Namun, Jemima tidak menyerah. Baginya, kedekatannya dengan Regal hanya soal waktu. Apa pun yang ia lakukan, ia yakin suatu hari akan mampu membuat Regal menoleh ke arahnya lebih dari sekadar hubungan profesional.