🔞🔞🔞
Lisa dan Abel merupakan sahabat dekat sejak SMP. Sebelumnya Lisa hidup dengan ibunya, namun setelah ibunya meninggal ayahnya harus pulang ke Indonesia untuk menemani putri satu-satunya.
Dan disitu lah Regal bertemu dengan gadis seumuran anak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu, suasana rumah begitu damai. Aurora, yang kini sudah berusia enam bulan, mulai menunjukkan perkembangan luar biasa. Ia sudah bisa merangkak dengan lincah, menjelajahi setiap sudut rumah dengan penuh rasa ingin tahu.
Regal baru saja bangun tidur dan memutuskan untuk mencuci muka di wastafel kamar mandi. Dengan celana santai dan rambut acak-acakan, ia menikmati kesegaran air dingin yang mengalir ke wajahnya.
Di saat yang sama, Aurora yang berada di ruang keluarga, merangkak perlahan keluar dari playmatnya. Abel, yang sedang sibuk di dapur, tidak menyadari bahwa bayi kecilnya sedang "berpetualang."
Aurora merangkak dengan semangat, mengikuti suara langkah kaki Regal menuju kamar mandi. Sesekali ia berhenti, menatap sekitar dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu, sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Ketika sampai di pintu kamar mandi, Aurora menyenggol pintu dengan tangannya yang mungil. Regal, yang sedang mengeringkan wajah dengan handuk, mendengar suara kecil itu dan menoleh.
“Aurora? Kamu ngapain di sini, Baby?” tanya Regal sambil tertawa kecil, berlutut untuk menyambut anak perempuannya.
Aurora tertawa ceria, memperlihatkan gusi kecilnya yang baru mulai tumbuh gigi. Dengan gerakan cepat, ia merangkak mendekati ayahnya dan mencoba memegang kakinya.
“Eh, pelan-pelan, Nak. Jangan sampai jatuh,” ujar Regal sambil mengangkat Aurora ke dalam pelukannya.
Aurora hanya mengoceh, “Da-da-da!” sambil menarik-narik kerah baju ayahnya. Regal tersenyum hangat, mencium pipi Aurora yang lembut.
Abel, yang baru selesai menyiapkan sarapan, melongok ke kamar mandi dan tertawa melihat pemandangan itu.
“Aurora ngapain, Mas? Gangguin Papa lagi ya?”
Regal mengangguk sambil membawa Aurora keluar dari kamar mandi.
“Anak kita ini, Sayang, kayaknya memang nggak bisa jauh-jauh dari Papa.”
Abel tersenyum sambil menyodorkan botol susu. “Mungkin karena Aurora tahu kalau Papa itu idolanya.”
Mereka tertawa bersama, dan Regal membawa Aurora ke ruang keluarga. Duduk di atas sofa, ia menyuapi susu sambil bermain-main dengan bayi kecilnya yang aktif.
“Aku merasa setiap hari dengan kalian adalah hadiah,” kata Regal sambil memandang Abel yang duduk di sebelahnya.
Abel tersenyum penuh cinta. “Aurora memang kebanggaan kita, Mas. Tapi aku juga bangga punya suami yang selalu meluangkan waktu untuk keluarga, meski sibuk.”
Regal menggenggam tangan Abel sambil berkata, “Aku akan selalu ada, untuk kamu dan Aurora.”
Momen itu terasa begitu hangat, dengan suara tawa Aurora yang melengkapi suasana pagi mereka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sabtu pagi ini aurora mulai di perkenalkan pada makanan selain bubur. Setelah beberapa minggu ia makan bubur, sekarang mamanya mulai memberi Aurora sayur dan buah. Membiarkan bayi itu penasaran dan melahapnya sendiri.
"Pinternya anak papa" Regal yang duduk di depannya memberikan contoh, ia melahap sepiring nasi dan lauk di depan anak perempuannya.
Abel, yang sedang menyiapkan kamera untuk merekam momen ini, tersenyum sambil berkata, “Mas, jangan terlalu semangat. Aurora mungkin cuma main-main sama makanannya dulu.”
Aurora duduk di high chair-nya, tampak penasaran dengan warna-warni di depannya. Regal mengambil sepotong apel dan menunjukkannya.
“Lihat, Aurora. Ini apel, enak sekali,” katanya sambil menggigit sedikit untuk memberi contoh.
Aurora memperhatikan dengan mata bulatnya yang berbinar, lalu mengulurkan tangan mungilnya untuk mengambil apel. Ia menggenggamnya dengan canggung dan memasukkan ujungnya ke mulut.
“Good job, Baby!” ujar Regal sambil bertepuk tangan. Abel tertawa melihat Aurora yang mengunyah pelan, meskipun sebagian besar apel masih utuh.
Setelah apel, Regal mengambil brokoli dan mengunyahnya di depan Aurora. “Ini brokoli, Aurora. Warnanya hijau, bagus untuk kamu,” katanya dengan penuh semangat.
Aurora mencoba meraih brokoli, namun menjatuhkannya ke lantai. “Oh, jatuh ya? Nggak apa-apa, Papa ambilkan,” kata Regal sambil mengambil potongan baru dari piring.
Abel duduk di sebelah mereka sambil merekam. “Aurora kelihatan senang sekali. Mas, aku senang kamu ikut terlibat langsung seperti ini.”
Regal tersenyum. “Ini penting, Sayang. Aku ingin Aurora tahu kalau makan itu bukan cuma soal kenyang, tapi juga momen untuk menikmati kebersamaan.”
Aurora kini beralih ke pisang. Ia menepuk-nepuk potongan lembut itu sebelum mencoba menggigitnya. Sebagian pisang menempel di pipi dan tangannya, membuat Abel tak kuasa menahan tawa.
“Hahaha, dia lebih banyak bermain daripada makan!” ujar Abel sambil mengelap pipi Aurora dengan tisu.
“Tapi lihat, dia menikmatinya,” jawab Regal sambil tersenyum lebar.
Momen itu penuh keceriaan. Regal dan Abel menikmati setiap detik melihat Aurora mencoba mengenal makanan baru. Rumah mereka dipenuhi suara tawa, ocehan Aurora, dan percakapan hangat yang membuat suasana semakin berkesan.
“Besok kita coba buah lain, ya,” kata Abel sambil membereskan piring kecil Aurora.
“Setuju. Aurora, siap-siap untuk petualangan rasa berikutnya!” ujar Regal sambil mencium pipi anaknya yang kini penuh noda pisang.
Keluarga kecil itu menikmati momen sederhana tapi penuh cinta, menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati ada pada hal-hal kecil yang dilakukan bersama.