Kecewanya seorang anak

14.1K 101 0
                                        

Lisa duduk di sofa apartemennya di UK, tangan memegang ponsel yang baru saja ia letakkan dengan kasar di meja. Napasnya berat, matanya sembab karena menangis. Dalam pikirannya, semuanya seperti mimpi buruk yang tak berujung. Ayahnya, orang yang selama ini ia hormati, justru melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.

"Papa..." bisiknya dengan nada getir. Tangannya mengepal kuat, air mata kembali mengalir.

Dalam bayangannya, Lisa melihat sosok Abel—sahabat terbaiknya sejak SMP. Sahabat yang tahu segalanya tentang dirinya, orang yang selalu ia percayai. Dan sekarang, Abel adalah orang yang paling ia benci tapi sekaligus tak bisa ia jauhi sepenuhnya.

Ponsel Lisa kembali berdering. Nama Regal muncul di layar. Ia menatapnya dengan dingin, jari-jarinya nyaris tak bergerak untuk menjawab panggilan itu. Namun, akhirnya ia menggeser tombol hijau.

"Halo?" suara Regal terdengar berat di seberang sana.

Lisa menarik napas panjang sebelum menjawab. "Kenapa Papa lakukan ini?" suaranya gemetar, penuh emosi.

Regal terdiam sejenak. "Lisa, Papa nggak punya alasan untuk membenarkan apa yang terjadi. Papa tahu Papa salah, dan Papa sangat menyesal. Tapi, Papa nggak mau sembunyi dari tanggung jawab ini."

Lisa tertawa sinis. "Tanggung jawab? Dengan sahabatku sendiri, Pa? Abel itu seperti saudara buat aku. Dan Papa... Papa hancurin semuanya!"

"Lisa, dengar dulu—"

"Enggak! Aku nggak mau dengar apa pun!" potong Lisa dengan nada tinggi. "Papa tahu nggak gimana rasanya? Aku di sini, jauh dari rumah, percaya kalau semuanya baik-baik aja. Tapi ternyata di belakangku, Papa dan Abel... kalian... bagaimana bisa?"

"Papa nggak bisa minta maaf cukup dalam untuk semua ini," ujar Regal, suaranya mulai serak. "Tapi Papa benar-benar mencintai Abel, Lisa. Ini bukan sesuatu yang direncanakan. Dan Papa akan bertanggung jawab untuk dia dan bayi ini."

"Papa pikir aku peduli soal tanggung jawab Papa?!" bentak Lisa, air matanya jatuh tak terkendali.

"Papa itu ayahku! Seharusnya Papa jadi orang yang aku hormati, bukan orang yang membuat aku malu dan merasa dikhianati."

Regal tidak menjawab. Suaranya menghilang di tengah rasa bersalah yang mendalam.

Lisa menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. "Aku nggak tahu kapan aku bisa maafin Papa, atau bahkan Abel. Aku nggak peduli kalau Papa bilang Papa cinta dia. Buat aku, ini tetap salah."

"Lisa, Papa hanya ingin kamu tahu bahwa Papa sangat menyesal. Tapi Papa nggak akan menyerah untuk memperbaiki hubungan kita."

Lisa menggigit bibirnya, berusaha menahan isak. "Aku butuh waktu, Pa. Jangan hubungi aku dulu."

Panggilan itu berakhir tanpa salam perpisahan. Lisa memejamkan mata, tubuhnya bersandar lemas di sofa.

-----

Di sisi lain, Regal menatap ponselnya dengan tangan gemetar. Ia merasa kosong, namun berusaha tetap tegar. Di belakangnya, Abel mendekat, memegang lengan Regal dengan cemas.

"Mas, gimana?" tanya Abel dengan suara pelan.

Regal menatap Abel, mencoba tersenyum meski hatinya terasa berat. "Dia kecewa... banget, Baby. Tapi itu wajar. Dia butuh waktu."

Abel menunduk, rasa bersalah kembali menghantam dirinya. "Lisa nggak akan pernah memaafkan kita, Mas. Aku... aku udah ngerusak semuanya."

Regal meraih tangan Abel, menggenggamnya erat. "Sayang, ini bukan salah kamu sendiri. Mas juga salah. Tapi kita nggak boleh menyerah. Mas yakin, suatu hari Lisa bakal paham."

Air mata Abel jatuh. "Tapi bagaimana kalau dia nggak pernah mau bicara lagi sama kita, Mas?"

Regal menarik Abel ke pelukannya, mengusap punggungnya dengan lembut. "Kalau itu terjadi, Mas akan tetap di sini untuk kamu. Kita nggak bisa ubah masa lalu, Sayang. Tapi kita bisa bangun masa depan yang lebih baik."

Namun, di lubuk hati Regal sendiri, ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah. Kepercayaan yang telah hancur mungkin tidak akan pernah sepenuhnya kembali.

--

Regal duduk sendiri di ruang tamunya yang sunyi. Abel sedang berada di rumah orang tuanya untuk beristirahat dan menjaga kehamilannya. Keputusan itu diambil setelah diskusi panjang, karena Abel membutuhkan dukungan penuh dari keluarganya selama masa ini. Namun, keheningan rumah membuat Regal merasa terasing dan semakin berat menanggung rasa bersalahnya.

Ia memutuskan untuk mencoba lagi. Lisa harus tahu tentang pernikahan ini, apa pun risikonya. Dengan tangan gemetar, Regal mengambil ponsel dan menekan nama Lisa di daftar kontak.

Panggilan tersambung, dan suara Lisa yang dingin terdengar. "Apa lagi, Pa?"

Regal menghela napas panjang. "Lisa, Papa nggak mau mengganggu kamu, tapi ini penting. Papa mau bicara soal pernikahan Papa dan Abel."

Lisa tertawa kecil, namun tidak ada kebahagiaan dalam suaranya. "Oh, jadi Papa benar-benar serius? Papa mau menikahi sahabatku? Hebat sekali. Apa Papa pikir aku akan datang dan memberikan restu?"

"Lisa, Papa nggak berharap banyak. Papa cuma ingin kamu tahu keputusan ini bukan untuk melukai kamu. Ini untuk bertanggung jawab, untuk memberikan masa depan yang baik bagi bayi ini."

"Jangan bawa-bawa bayi itu ke sini, Pa," ujar Lisa tegas. "Apa Papa pikir dengan menikahi Abel semuanya akan selesai? Aku akan melupakan apa yang Papa lakukan? Apa yang Abel lakukan?"

"Lisa, Papa tahu ini salah. Tapi Papa nggak bisa membatalkan apa yang sudah terjadi. Papa hanya mencoba memperbaiki semuanya."

"Memperbaiki?" Suara Lisa meninggi. "Papa bahkan nggak tahu apa yang Papa rusak. Papa hancurkan kepercayaan aku. Bukan cuma dengan Abel, tapi dengan Papa sendiri! Papa itu ayahku, figur yang seharusnya aku hormati. Dan sekarang? Aku bahkan nggak tahu apa aku bisa melihat Papa tanpa merasa jijik."

Regal menunduk, tangan kirinya memijat keningnya. Kata-kata Lisa seperti pisau yang menusuk, tapi ia tahu bahwa putrinya punya hak untuk marah.

"Lisa, Papa nggak bisa membela diri. Papa hanya ingin kamu tahu kalau Papa mencintai kamu. Kamu anak Papa, dan Papa akan selalu berusaha memperbaiki hubungan kita."

Lisa terdiam sejenak, napasnya terdengar berat. "Papa mungkin mencintai aku, tapi itu nggak cukup. Aku kehilangan Abel, kehilangan kepercayaan ke Papa, dan aku kehilangan diriku sendiri. Apa Papa tahu betapa sulitnya ini buat aku?"

Regal memejamkan mata, mencoba menahan emosinya. "Lisa, Papa nggak akan menyerah untuk memperbaiki ini. Apa pun yang terjadi, Papa akan selalu ada untuk kamu."

"Tapi aku nggak mau ada, Pa. Aku butuh waktu. Jangan hubungi aku lagi," ujar Lisa sebelum menutup telepon.

---

Regal menatap layar ponselnya yang gelap. Ia merasa hampa, seperti telah kehilangan sesuatu yang tak tergantikan. Ia ingin bertindak, tapi tak tahu harus bagaimana.

Abel menelepon malam itu, suaranya terdengar cemas. "Mas, gimana? Lisa sudah tahu soal pernikahan kita?"

Regal menghela napas panjang. "Dia tahu, Sayang. Tapi dia masih marah. Dia nggak mau bicara lagi untuk sementara waktu."

Di seberang sana, Abel terdiam. "Mas, aku takut kita benar-benar kehilangan Lisa..."

"Mas juga takut, Baby. Tapi Mas nggak akan menyerah. Mas yakin, suatu hari dia akan menerima kita."

Abel menghela napas pelan. "Aku cuma berharap waktu bisa menyembuhkan semuanya."

Regal mencoba menguatkan Abel meski ia sendiri merasa rapuh.

*********

vote dong sayang biar update nya cepet 😘

OM REGAL (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang