Ungkapan yang terlambat

6.5K 64 0
                                        

Setelah Regal pergi, suasana di meja makan terasa sedikit hening. Abel mencoba kembali fokus pada makanannya, tetapi ia merasakan sesuatu yang berbeda dari cara Albi menatapnya.

"Abel," panggil Albi dengan nada lembut namun serius,

"aku nggak bermaksud bikin situasi jadi nggak nyaman tadi. Tapi suamimu itu... dia kelihatan sangat melindungimu."

Abel tersenyum kecil, mencoba menghilangkan ketegangan. "Mas Regal memang begitu. Dia cuma khawatir sama aku, apalagi aku lagi hamil."

Albi mengangguk, tetapi ada sesuatu di matanya—sebuah keraguan, mungkin juga rasa sakit yang ia coba sembunyikan.

"Aku ngerti. Tapi jujur aja, aku nggak pernah menyangka kamu akan menikah secepat ini. Aku kira kamu akan masih fokus kuliah, impian, dan... ya, hidupmu sendiri."

Abel menatap Albi, sedikit terkejut dengan nada yang ia gunakan.

"Albi, hidup itu nggak selalu bisa kita rencanakan. Kadang, hal-hal terjadi begitu saja. Aku nggak menyesal menikah dengan Mas Regal. Dia orang yang baik, dan dia selalu ada untuk aku."

Albi tersenyum samar, tetapi ada rasa pahit di balik senyum itu. Ia menatap Abel dalam-dalam, seolah mencari keberanian untuk mengatakan sesuatu yang selama ini ia pendam.

"Abel, aku cuma mau bilang satu hal..." Albi berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Aku senang lihat kamu bahagia sekarang. Tapi jujur, kalau aku dulu punya keberanian lebih, mungkin ceritanya akan berbeda."

Abel mengerutkan kening, bingung dengan pernyataan itu. "Apa maksudmu, Bi?"

Albi tertawa kecil, tetapi ada nada getir dalam tawanya.

"Nggak apa-apa. Lupakan aja. Aku cuma lagi nostalgia masa kecil kita. Waktu aku selalu ada di dekatmu, tapi nggak pernah punya keberanian untuk bilang apa yang sebenarnya aku rasain."

Abel terdiam, matanya membulat sedikit saat ia menyadari maksud Albi. "Albi..."

"Tapi sudah terlambat," potong Albi cepat, menyunggingkan senyum kecil.

"Aku tahu itu. Kamu sekarang punya hidup sendiri, keluarga sendiri, dan aku nggak punya hak untuk mengganggu semua itu. Aku cuma ingin kamu tahu, Abel, kalau aku benar-benar senang lihat kamu bahagia."

Abel menghela napas, merasa sedikit bersalah meskipun ia tahu ia tidak melakukan kesalahan apapun.

"Albi, aku nggak pernah tahu soal itu. Tapi aku hargai perasaanmu. Dan aku benar-benar berharap kamu juga bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri."

Albi mengangguk pelan. "Aku juga harap begitu."

Percakapan mereka berlanjut, tetapi nuansanya berubah menjadi lebih hati-hati. Abel tetap berusaha menjaga batas, sementara Albi mencoba mengendalikan emosinya. Namun, di balik semua itu, ada kejujuran yang akhirnya terungkap—meskipun mungkin sudah terlalu terlambat.

Ketika mereka berpisah setelah makan siang, Abel merasa lega tetapi juga sedikit terganggu. Ia tahu Albi tidak akan mencoba merusak hidupnya, tetapi pernyataan Albi tadi membuat pikirannya sedikit berkecamuk.

-------------

Keesokan harinya, seperti biasa, Abel sudah berada di dapur pagi-pagi sekali, menyiapkan sarapan untuk Regal. Ia mencoba untuk fokus pada tugasnya, tetapi perasaan tidak tenang menggelayuti pikirannya. Kejadian kemarin di restoran terus terputar di kepalanya. Albi, tatapan Regal, dan ketegangan yang muncul begitu mendalam, membuatnya merasa canggung dan bingung.

Saat Regal turun ke ruang makan, ia tersenyum tipis, namun ada kelelahan yang tergambar di wajahnya. Abel menatapnya, berusaha menahan kecemasan di dalam dada. Setelah menyajikan sarapan, ia duduk di hadapan suaminya, mencoba menemukan kata-kata yang tepat.

"Mas," mulai Abel dengan suara lembut.

"Kemarin, aku... aku mau minta maaf kalau ada yang nggak nyaman."

Regal menatapnya, lalu menghela napas. "Nggak ada yang perlu kamu minta maafkan, Abel. Cuma... aku merasa akhir-akhir ini kita jarang komunikasi."

Abel terkejut mendengarnya. "Maksudnya?"

Regal menunduk sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat.

"Aku tahu, aku sibuk dengan pekerjaan dan proyek-proyek di kantor. Tapi aku juga sadar, aku nggak banyak ada waktu untuk kamu, bahkan untuk perasaanmu."

Abel terdiam sejenak, hatinya berdebar mendengar pengakuan itu. Ia menatap suaminya dengan perasaan campur aduk.

"Mas Regal, aku ngerti kok... Aku juga nggak mau ganggu waktu kerja kamu. Aku nggak ingin jadi beban."

Regal mengulurkan tangannya, meraih tangan Abel yang terletak di meja. "Kamu bukan beban, sayang. Justru aku yang merasa salah karena nggak bisa lebih perhatian akhir-akhir ini. Aku minta maaf."

Abel tersenyum tipis, matanya sedikit berkaca-kaca. "Aku cuma... nggak mau kamu merasa terbebani oleh aku, Mas."

Regal menatap dalam mata Abel, merasakan beban emosional yang terpendam dalam hati istrinya. "Kamu nggak pernah jadi beban, Abel. Aku hanya terlalu tenggelam dalam pekerjaanku. Tapi kamu... kamu adalah prioritas utamaku."

Abel merasa sedikit lega mendengar kata-kata itu. "Aku cuma butuh perhatianmu, Mas. Aku tahu kamu sibuk, tapi aku berharap kita bisa lebih sering berbicara dan bersama-sama."

Regal mengangguk, meremas tangan Abel dengan lembut. "Aku janji, Abel. Aku akan berusaha lebih baik. Kita akan lebih sering habiskan waktu bersama."

Mereka saling bertatapan, seolah menguatkan satu sama lain. Meski ada banyak hal yang mengganggu pikiran mereka, momen itu memberi mereka kelegaan, bahwa komunikasi dan perhatian itu tetap bisa ditemukan dalam hubungan mereka.

*********

vote 🫵

OM REGAL (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang