Abel sedang duduk di tempat tidur kamarnya di rumah orang tuanya. Malam itu terasa sunyi, hanya suara detik jam di dinding yang menemani pikirannya yang kacau. Tubuhnya terasa lelah, tapi pikirannya tidak berhenti memutar ulang semua yang telah terjadi.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nama "Mas Regal" muncul di layar. Abel menatapnya sejenak sebelum menjawab panggilan itu.
"Halo, Mas," suaranya pelan.
"Halo, Baby. Gimana kabarmu? Kandungan kamu baik-baik aja, kan?" tanya Regal dengan nada lembut, seperti biasa.
"Baik. Tadi habis periksa ke dokter. Semuanya normal," jawab Abel. Ia menghela napas sebelum melanjutkan, "Mas, aku mau tanya sesuatu."
"Apa, Sayang?"
Abel menggigit bibirnya, ragu untuk bertanya. Namun, pertanyaan itu telah mengganggu pikirannya selama berminggu-minggu. "Gimana bisa... sekali kejadian, aku langsung hamil?"
Regal terdiam di seberang. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan muncul. Namun, ia tahu Abel butuh jawaban.
"Sayang, kadang memang begitu," jawab Regal akhirnya, dengan nada hati-hati. "Kehamilan bisa terjadi bahkan dalam satu kali hubungan, apalagi kalau waktu itu pas masa subur kamu."
Abel menggenggam selimutnya erat-erat, mencoba memahami penjelasan itu. "Tapi, Mas... aku masih nggak percaya ini semua terjadi. Aku bahkan nggak pernah berpikir sejauh ini. Aku cuma... aku nggak tahu harus gimana."
"Abel, Mas tahu ini berat buat kamu," ujar Regal lembut. "Tapi ini bukan salah kamu. Kita nggak pernah merencanakan ini, tapi sekarang kita harus tanggung jawab bersama."
Abel memejamkan matanya, air mata mengalir di pipinya. "Tapi aku takut, Mas. Takut sama masa depan, takut sama Lisa, takut sama semuanya."
Regal menghela napas panjang. "Sayang, Mas juga takut. Tapi Mas janji, Mas akan selalu ada buat kamu dan bayi ini. Kita hadapi semuanya bareng-bareng."
Abel tidak menjawab. Ia hanya mendengarkan suara Regal yang selalu membuatnya merasa sedikit lebih tenang, meski kekhawatiran tetap menggantung di pikirannya.
Regal melanjutkan, "Sayang, Mas tahu ini nggak ideal. Tapi Mas yakin, kita bisa melewati ini. Satu langkah kecil setiap hari."
Abel mengangguk pelan meski Regal tidak bisa melihatnya. "Iya, Mas. Aku akan coba."
"Good girl," ujar Regal dengan nada lembut. "Ingat, jangan terlalu banyak pikiran. Fokus istirahat dan jaga kesehatan kamu. Mas di sini, selalu buat kamu."
Panggilan itu berakhir, dan Abel merasa sedikit lebih tenang. Namun, di lubuk hatinya, ia tahu perjalanan ini masih panjang.
------
Hari persiapan pernikahan antara Regal dan Abel terasa seperti campuran emosi yang sulit dijelaskan.
Hari ini Regal sedang berdiri di ruang tamu, mengatur daftar tamu undangan bersama seorang perencana pernikahan. Namun, pikirannya terus melayang ke Lisa. Hingga saat ini, Lisa belum memberikan tanda bahwa dia akan datang, bahkan sekadar membalas pesan Regal saja sudah jarang.
"Mas?" suara Abel terdengar lembut dari lantai atas.
Regal segera menghentikan diskusinya dan naik ke kamar Abel. "Iya, Sayang. Kamu butuh apa?"
Abel duduk di tepi tempat tidur, tangannya memegang gaun putih yang baru saja tiba dari butik. "Gaun ini bagus, ya?" tanyanya sambil memaksakan senyum.
Regal mendekat, duduk di sampingnya. "Kamu akan terlihat cantik sekali di hari itu, Baby," katanya sambil menggenggam tangan Abel.
Abel menatapnya dengan ragu. "Mas, apa ini semua keputusan yang benar? Aku merasa semua orang melihat aku sebagai masalah, terutama Lisa. Aku takut nggak ada yang mendukung kita."
Regal mengusap pipi Abel dengan lembut. "Sayang, dengar. Kita memang memulai ini dengan cara yang salah, tapi itu nggak berarti kita nggak pantas untuk memperjuangkannya. Kita nggak bisa kendalikan apa yang orang pikirkan, termasuk Lisa. Tapi yang bisa kita lakukan adalah berusaha menjalani hidup ini dengan baik."
Air mata Abel mengalir perlahan. "Aku cuma nggak mau semuanya jadi lebih buruk."
Regal memeluk Abel erat. "Nggak akan, Sayang. Mas janji."
---
sore ini di rumah Abel mulai sibuk dengan persiapan sederhana yang bisa mereka tangani. Mommy nya, duduk bersama Regal di ruang tamu untuk membahas detail acara.
"Regal, kamu yakin dengan keputusan ini?" tanya calon ibu mertuanya tiba-tiba.
Regal mengangguk mantap. "Saya yakin, Bu. Ini bukan hanya soal tanggung jawab. Saya memang mencintai Abel, "
Mommy Abel memandang Regal dalam-dalam, mencoba mencari kejujuran di balik ucapannya. "Saya nggak mau Abel terluka lebih dari ini. Kamu tahu dia masih muda, dan hidupnya sekarang penuh tekanan."
"Saya paham, Bu," jawab Regal. "Saya berjanji akan menjaga Abel sebaik mungkin."
---
Mereka sedang mengecek daftar tamu ketika matanya kembali tertuju pada nama Lisa di daftar tersebut. Undangan telah dikirimkan, tetapi hingga sekarang tidak ada kabar apa pun dari putrinya itu.
"Mas, Lisa bakal datang, nggak?" tanya Abel dengan suara ragu saat melihat Regal memandangi daftar itu terlalu lama.
Regal menatap Abel, mencoba menyembunyikan kekhawatirannya. "Mas nggak tahu, Sayang. Tapi Mas berharap dia datang."
Abel mengangguk kecil, meskipun hatinya tahu kemungkinan besar Lisa tidak akan hadir.
---
Di tempat lain, Lisa memandangi undangan pernikahan yang tergeletak di meja kecil di kamarnya. Matanya memerah, menatap nama-nama yang tertera di atas kertas itu. "Papa dan Abel..." gumamnya pelan, penuh dengan rasa kecewa.
Ia mengambil ponselnya dan membuka pesan terakhir dari Regal. Pesan itu masih belum ia balas. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak mampu mengetikkan satu kata pun. Hatinya masih terlalu berat untuk menerima semua ini.
Lisa akhirnya menutup ponselnya dan melemparkan undangan itu ke sudut meja. "Aku nggak akan datang," ujarnya pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
************
vote sayang 😘
KAMU SEDANG MEMBACA
OM REGAL (END)
Fiksi Umum🔞🔞🔞 Lisa dan Abel merupakan sahabat dekat sejak SMP. Sebelumnya Lisa hidup dengan ibunya, namun setelah ibunya meninggal ayahnya harus pulang ke Indonesia untuk menemani putri satu-satunya. Dan disitu lah Regal bertemu dengan gadis seumuran anak...
