Kehilangan

10.4K 64 1
                                        

Hari itu langit mendung, seakan alam turut merasakan kesedihan yang mendalam. Di krematorium, keluarga dan kerabat berkumpul dengan suasana penuh duka.

Semua mata tertuju pada peti mati yang akan menjadi tempat perpisahan terakhir untuk Regal, pria yang pernah menjadi pusat kehidupan banyak orang, terutama bagi Abel dan Aurora.

Abel duduk di kursi roda, tubuhnya lemah tak berdaya. Matanya bengkak, sembab, bekas tangis yang tak kunjung reda sejak malam sebelumnya.

Setiap kali ia mencoba menguatkan diri, bayangan wajah Regal yang tersenyum lembut selalu muncul di benaknya, membuat air matanya kembali tumpah.

"Mas Regal...," gumamnya pelan, tangan menggenggam erat kain selimut yang ia bawa.

Itu adalah kain favorit Regal yang biasa ia gunakan di rumah. Aroma Regal masih melekat di sana, dan Abel merasa ini adalah satu-satunya penghiburan yang ia miliki sekarang.

Lisa berdiri di samping Abel dengan Aurora di gendongannya. Bayi kecil itu terlihat resah, matanya basah karena menangis tanpa henti.

Seolah ia mengerti bahwa sesuatu yang besar telah berubah dalam hidupnya. Lisa mengusap punggung Aurora lembut, mencoba menenangkan bayi yang kehilangan ayahnya terlalu cepat.

Saat Pati Regal mulai dimasukkan ke ruang kremasi, tubuh Abel terasa gemetar. Ia mencoba berdiri, meski tubuhnya masih lemah pasca kecelakaan.

"Aku harus melihatnya... untuk terakhir kali...," ucap Abel, hampir seperti bisikan, tetapi penuh dengan kepastian.

Lisa segera membantu Abel berdiri dengan hati-hati. Kaki Abel gemetar, tetapi ia tetap melangkah mendekati keranda. Tangannya terulur, ingin menyentuh kayu yang membungkus tubuh suaminya.

"Mas Regal... kenapa kamu pergi? Kita baru saja memulai semuanya. Aku tidak siap, Mas...," isaknya dengan suara yang pecah.

Perawat dan keluarga mencoba menahan Abel, tetapi ia bersikeras.

"Tolong, biarkan aku di sini... Aku ingin di sini sampai akhir...," katanya dengan napas terengah-engah.

Tubuhnya jatuh bersimpuh di depan keranda. Tangisnya pecah, menggetarkan setiap hati yang mendengarnya.

Ketika api mulai dinyalakan, Abel merasakan kepanikan yang luar biasa.

"Tidak! Jangan ambil dia dari aku! Mas Regal, kembalilah! Aku butuh kamu... Aurora butuh kamu...," teriaknya histeris. Tubuhnya semakin lemah, dan akhirnya ia jatuh pingsan di tempat.

Keluarga segera membawanya ke kursi roda kembali. Lisa memandang Abel dengan mata yang juga penuh air mata.

"Abel, kuatlah... Kamu masih punya Aurora... Regal ingin kamu tetap tegar untuk dia," bisik Lisa sambil memegang tangan Abel.

Setelah beberapa menit, Abel sadar kembali, tetapi tubuhnya lemah tak berdaya. Ia memandang api yang terus berkobar, air matanya kembali mengalir tanpa henti.

"Dia benar-benar pergi...," gumamnya dengan suara serak. Lisa hanya bisa memeluknya erat sambil menahan tangis.

Beberapa jam setelah upacara selesai, semua orang mulai meninggalkan tempat itu. Abel masih tak ingin pergi, duduk di kursi rodanya dengan tatapan kosong.

Di tangannya, ia memegang erat cincin pernikahan Regal yang telah diserahkan oleh petugas kremasi.

"Aku akan menjaga cinta kita, Mas. Aku akan membesarkan Aurora dengan semua cerita indah tentangmu. Aku janji...," ucapnya dengan suara pelan, hampir seperti doa.

Ketika akhirnya keluarga memaksa Abel pulang, ia tahu bahwa ini adalah awal dari perjalanan baru yang penuh tantangan. Namun, ia juga tahu bahwa cinta Regal akan selalu hidup di hatinya, memberikan kekuatan untuk terus melangkah demi Aurora, buah cinta mereka yang paling berharga.

-------

Setelah upacara kremasi berakhir, Abel dibawa pulang oleh keluarga. Dalam perjalanan menuju rumah, mobil yang membawa Abel terasa sepi, seolah dunia di luar sana juga kehilangan warnanya. Suasana dalam mobil begitu hening, hanya terdengar suara tangisan sesekali dari Aurora yang sedang digendong Lisa.

Abel memandang keluar jendela, matanya kosong, seolah tak lagi melihat dunia di sekitarnya.

Saat tiba di rumah, semua terasa asing. Rumah yang dulu dipenuhi canda tawa dan kebahagiaan kini hanya menyisakan kesedihan dan kenangan. Abel terdiam di depan pintu, ragu untuk melangkah masuk.

Ini adalah rumah yang dulu ia bagi bersama Regal, rumah yang penuh dengan kenangan manis, dan sekarang harus ia jalani sendiri.

Lisa membantunya masuk, sementara Aurora yang masih kecil menangis, tak mengerti apa yang sedang terjadi. Abel terjatuh di sofa, matanya kosong, seakan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Semua terasa begitu berat. Lisa duduk di sampingnya, memeluk Abel dengan lembut, mencoba memberikan kekuatan meskipun dirinya juga merasa kehilangan yang sangat mendalam.

"Abel... kamu masih punya aku. Kamu masih punya Aurora. Jangan biarkan kesedihan ini menghancurkanmu," bisik Lisa pelan, berusaha menenangkan sahabat sekaligus ibu tirinya.

Abel menggenggam tangan Lisa dengan lemah, air matanya kembali mengalir.

"Tapi bagaimana aku bisa melanjutkan hidup tanpa dia, Lisa? Mas Regal adalah segalanya bagiku. Dia adalah suamiku, dia adalah cinta sejatiku, dan sekarang dia pergi begitu saja. Aku tidak tahu harus bagaimana," jawab Abel dengan suara bergetar.

Lisa mengelus punggungnya dengan lembut, mencoba menenangkan Abel.

"Kamu tidak sendiri, Abel. Aku ada di sini, Aurora ada di sini. Kita akan melewati ini bersama. Regal mungkin sudah tidak ada, tapi cintanya akan selalu ada dalam hati kita. Dan itu tidak akan pernah hilang."

Abel menatap wajah Lisa, mencoba menemukan sedikit penghiburan di mata sahabatnya.

"Terima kasih, Lisa. Aku merasa hancur, tapi aku tahu aku harus kuat... untuk Aurora."

Hari-hari setelah itu, Abel mencoba untuk bertahan. Ia berusaha untuk kembali menjalani rutinitas hariannya, meskipun hatinya terasa begitu kosong. Aurora, meski masih sangat kecil, menjadi sumber kekuatan utama baginya.

Setiap senyum dan tawa Aurora memberi sedikit kecerahan di tengah kegelapan yang meliputi hatinya. Namun, setiap malam saat ia menidurkan Aurora, pikirannya selalu kembali pada Regal.

Terkadang, di tengah kesunyian malam, Abel merasa seperti mendengar suara Regal memanggilnya, seperti bayangan suaminya yang selalu hadir di pikirannya.

Ia tahu bahwa meskipun Regal telah pergi, cinta mereka tetap hidup, dan itu akan menjadi sumber kekuatan yang tak tergoyahkan.

Di sisi lain, Lisa juga berusaha membantu Abel sebanyak mungkin. Ia sering datang ke rumah, menyiapkan makan malam, dan menghabiskan waktu bersama Abel dan Aurora. Ia tahu bahwa teman baiknya itu sedang berjuang dengan kehilangan yang begitu besar.

Suatu malam, ketika Abel sedang duduk di ruang tamu, memandang foto-foto keluarga yang terpasang di dinding, Aurora tidur di pelukannya. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah ketenangan yang datang perlahan, seakan dia bisa merasakan kehadiran Regal di sampingnya, meskipun tubuhnya telah tiada.

"Mas Regal... aku tahu kamu tidak pernah benar-benar pergi. Aku akan menjaga Aurora, aku akan memastikan dia tahu tentang kamu, tentang cinta kita," bisik Abel dalam hati.

Malam itu, Abel memutuskan untuk tidak lagi larut dalam kesedihan. Ia tahu bahwa hidup harus terus berjalan, dan ia harus terus berjuang demi dirinya sendiri, demi Aurora, demi kenangan yang telah mereka bangun bersama Regal.

Cinta yang ia miliki untuk suaminya tidak akan pernah pudar, dan meskipun Regal telah pergi, ia akan selalu mengingatnya setiap langkah yang ia ambil, dalam setiap senyum yang ia berikan kepada Aurora, dan dalam setiap detik yang ia habiskan untuk membangun masa depan baru, meski tanpa Regal di sisi fisiknya.

***********

voteeee☹️☹️☹️☹️

OM REGAL (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang