Tatapan di Restoran

7.5K 65 2
                                        

Pagi itu, seperti biasa, rumah besar mereka tampak tenang. Matahari baru saja muncul, menyinari seluruh ruangan dengan cahaya hangat. Abel sudah berada di dapur, sibuk mempersiapkan sarapan. Aroma kopi yang baru diseduh menguar di udara, berpadu dengan bau roti panggang dan telur. Ia selalu bangun pagi untuk memastikan semuanya berjalan lancar, terlebih karena kehamilannya yang membuatnya sedikit lebih cepat merasa lelah.

Wajahnya tampak lelah setelah pulang larut malam, memenuhi tuntutan pekerjaannya sebagai CEO. Selama beberapa minggu terakhir, dia merasa semakin jauh dari Abel.

“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Regal lembut saat melihat Abel sedang sibuk di dapur.

Abel menoleh dan tersenyum. “Iya, aku sudah bangun lebih awal. Bikin sarapan untuk kita. Duduk saja, Mas, nanti aku ambilkan.”

Regal duduk di meja makan, menyandarkan tubuhnya pada kursi, dan merasakan kelelahan yang mendera. Ia merasa sudah jarang berbicara dengan Abel, jarang memberi perhatian yang seharusnya ia berikan.

Ketika Abel duduk di hadapannya dengan sarapan, Regal tidak bisa menahan perasaan itu lebih lama lagi. “Sayang” katanya pelan, mengatur kata-kata dengan hati-hati.

“Aku… aku merasa kita akhir-akhir ini jarang komunikasi. Aku tahu aku sibuk, tapi aku khawatir jika ini terus berlanjut, kita akan semakin jauh.”

Abel menatap suaminya dengan lembut, “Aku juga merasa begitu, Mas,” jawab Abel dengan suara lembut.

“Kadang aku merasa kamu terlalu sibuk sampai aku nggak bisa lagi ngobrol atau bertemu kamu. Tapi aku tahu kamu bekerja keras demi kita.”

Regal menggigit bibirnya, merasa sedikit bersalah. “Aku benar-benar ingin lebih banyak waktu untukmu, Abel. Untuk kita.”

Abel tersenyum tipis, menenangkan suaminya. “Kita masih punya waktu, Mas. Aku ngerti kok, aku juga tahu kamu sangat sibuk. Dan aku juga tahu betapa pentingnya pekerjaanmu. Tapi, kita harus mulai cari cara supaya kita bisa lebih banyak waktu bareng. Misalnya, komunikasi, meski lewat pesan singkat atau sekedar ngobrol santai.”

Regal mengangguk, merasakan kelegaan. “Kamu benar. Aku akan berusaha lebih baik lagi. Ini juga buat kita.”

Mereka duduk sebentar dalam keheningan, menikmati sarapan bersama. Setelah beberapa saat, Abel memecah keheningan, berbicara tentang hal lain yang mengganjal di pikirannya.

“Oh iya, Mas. Hari ini aku akan selesaiin skripsiku. Aku sudah hampir menyelesaikan semuanya. Setelah itu, aku bisa lebih banyak bantu kamu di rumah.”

Regal mengangkat alis, sedikit terkejut namun sangat bangga. “Skripsi? Aku nggak tahu kalau kamu sudah hampir selesai. Aku sangat bangga denganmu, sayang.”

Abel tersenyum lebar, meski ada sedikit rasa lelah di matanya. “Aku juga merasa lega akhirnya hampir selesai. Paling tinggal nunggu revisi dari dosen, tapi yang pasti, hari ini akan aku selesaikan.”

Regal tersenyum, meraih tangan Abel dan menggenggamnya erat. “Aku bangga padamu, Abel. Kamu kuat banget, dan aku tahu kamu pasti bisa selesaiin semuanya. Setelah skripsi selesai, kita harus cari waktu untuk berdua.”

Abel mengangguk, sedikit tersenyum. “Aku juga pengen banget punya waktu buat kita berdua, Mas. Aku kangen.”

Regal mengangkat tangan dan menyentuh wajah Abel dengan lembut. “Aku juga kangen, sayang. Kita akan cari cara untuk itu, aku janji.”

Setelah sarapan selesai, Regal dengan tatapan penuh kasih, meletakkan tangan besar dan kuatnya di perut Abel, tempat bayi mereka tumbuh. Dengan lembut, ia mengelus perut itu, seolah merasakan detak kehidupan kecil yang ada di dalamnya.

OM REGAL (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang