Keluarga kecil

4.8K 57 0
                                        

Pagi itu, sinar matahari masuk perlahan melalui tirai kamar bayi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Pagi itu, sinar matahari masuk perlahan melalui tirai kamar bayi. Abel duduk di sofa, memeluk bayi mungilnya yang sedang menyusui. Bayi perempuan mereka terlihat nyaman, sesekali tangannya yang kecil mencoba meraih wajah Abel.

Abel tertawa kecil, menunduk mencium kepala bayi itu yang wangi.

"Kamu lucu sekali, Nak," katanya lembut, membelai pipi lembut bayinya.

Regal langsung menghampiri mereka, "Wah, papa juga mau dong"

Abel terkekeh, "Apa kamu ingin mencobanya? " Regal tentu mengangguk seperti bayi yang kelaparan.

Abel pelan-pelan beralih ke tempat tidur dan bersandar di ranjang. Sebelah kanan untuk baby kicik dan sebelah kiri untuk baby besar .

"Papa juga gamau kalah sama kau" ucapnya menoel pipi bayinya lalu melahap pentil Abel.

"Hahaha.. geli mas" katanya tertawa melihat mereka berdua yang menyedot susunya.

Bayi itu memandangi Regal, "Lihat dia tau papanya merebut susunya " kata Abel.

"Kenapa enak sekali walaupun tak ada rasa, sayang" kata Regal, kemudian mencium pipi Abel.

"Aku ga tau mas "

setelah menyusu, Regal bangkit .

"Kamu mau buah ga? aku potongin apel ya? " Abel tersenyum lalu mengangguk. Matanya fokus pada malaikat kecil itu.

Setelah selesai menyusui, Abel menyandarkan bayi kecil itu ke dadanya, menepuk punggungnya dengan pelan untuk membantu bersendawa. Tak lama, terdengar suara kecil bayi itu bersendawa. Abel tersenyum puas.

"Hebat sekali anak Mama. Pintar banget, ya," ujarnya sambil membaringkan si kecil di lengannya.

Abel kemudian bermain dengan bayi mereka. Ia menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan bayi itu, dan bayi mungil itu mencoba meraihnya dengan tangan kecilnya. Saat akhirnya berhasil menggenggam jari Abel, tawa kecil keluar dari mulut si bayi.

"Ya ampun, senyumnya bikin Mama jatuh cinta terus," bisik Abel, matanya berbinar penuh kasih.

Regal yang baru saja selesai mengupas dan memotong buah untuk Abel, berdiri di ambang pintu, memperhatikan pemandangan itu. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia merasa sangat beruntung memiliki keluarga kecil yang begitu indah.

"Kalian berdua kelihatan sempurna sekali," katanya sambil mendekat.

Abel mendongak, tersenyum pada suaminya. "Lihat, Mas, dia mulai belajar menggenggam. Pintar banget."

Regal duduk di samping Abel, menyentuh pipi bayi mereka dengan lembut. "Tentu saja, dia anak kita. Pintar pasti bawaan."

Mereka tertawa kecil, berbagi momen bahagia bersama. Regal mencium kening Abel, lalu mencium kepala bayi mereka. "Aku nggak akan pernah bosan melihat ini. Kalian adalah dunia aku sekarang."

Abel hanya tersenyum hangat, hatinya penuh rasa syukur. Bagi mereka, momen-momen kecil seperti ini adalah yang paling berarti.

------

Pagi itu, Abel terlihat lelah tetapi tetap tersenyum saat menyusui bayi mereka. Regal yang baru selesai membuatkan sarapan untuk istrinya mendekat dan mencium kening Abel.

"Sayang, hari ini biar aku yang jaga si kecil. Kamu butuh waktu untuk dirimu sendiri. Mungkin mandi lama atau tidur sebentar," kata Regal dengan nada lembut.

Abel tersenyum tipis, menatap suaminya dengan penuh terima kasih. "Beneran, Mas? Kamu nggak sibuk?"

Regal mengangguk. "Aku udah atur semua. Hari ini aku di sini buat kalian. Lagipula, aku juga kangen bonding sama putri kita."

Abel tertawa kecil sambil menyerahkan bayi mereka yang sudah kenyang dan mulai mengantuk. "Kalau gitu, aku terima tawaran itu. Jangan lupa kasih dia popok baru kalau dia pipis, ya."

"Siap, Kapten!" jawab Regal sambil menggendong bayi mereka dengan hati-hati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Siap, Kapten!" jawab Regal sambil menggendong bayi mereka dengan hati-hati.

Abel akhirnya punya waktu untuk dirinya sendiri. Ia masuk ke kamar mandi untuk mandi dengan tenang, merasakan air hangat mengalir di tubuhnya.Memakai lulur dan bodycare lainnya,tak lupa merawat rambut panjang nya dengan memakai masker.Setelah selesai, ia mengenakan pakaian nyaman, mengoleskan lotion, dan merapikan rambutnya—hal sederhana yang terasa seperti mewah setelah dua minggu sibuk sebagai ibu baru.

Sementara itu, di ruang tamu, Regal dengan cekatan menenangkan bayi mereka. Ia mengganti popok, menghibur dengan suara-suara lucu, dan sesekali mengayun-ayunkan bayi itu di lengannya.

"Sayang, kamu tahu nggak? Papa ini nggak segesit Mama, tapi papa janji bakal selalu belajar untuk jadi yang terbaik buat kamu," bisik Regal sambil tersenyum, menatap bayi mereka yang kini mulai tertidur.

Abel keluar dari kamar mandi, merasa segar kembali, dan melihat Regal duduk di sofa sambil memandangi bayi mereka yang terlelap. Pemandangan itu membuat hatinya meleleh.

"Mas, kamu benar-benar ayah yang luar biasa," kata Abel sambil menghampiri.

Regal mendongak, tersenyum hangat. "Aku cuma berusaha jadi suami dan ayah yang kalian butuhkan."

Abel duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahu Regal. "Kamu lebih dari cukup. Terima kasih udah selalu ada untuk kami."

Regal mengecup kepala istrinya, lalu memeluknya erat. "Kamu juga luar biasa, Abel. Kita tim yang hebat."

Hari itu menjadi momen manis bagi mereka bertiga, menunjukkan bahwa meski sibuk dan lelah, cinta dan kerja sama selalu membuat segalanya terasa lebih ringan.

********
vote sayang😘

OM REGAL (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang