A story inspired by Jongho OST - A Day
*
*
*
I miss you all day long
I want to turn back our time
No matter what day comes, I remember you
I will engrave your name deep into my heart
*
*
*
Present
San melamun. Sudah lama ia hanya diam melihat dua boneka kelinci yang saling bersandar di meja.
'Aku tidak akan muncul di depanmu lagi.'
Satu kalimat Wooyoung begitu membekas untuk San. Rasanya sakit setiap kali San mengingatnya.
San ingin menahan Wooyoung malam itu.
San ingin mengejar untuk menjelaskan semuanya.
Tapi lagi-lagi sifat pengecutnya menghalangi San sampai akhirnya Wooyoung menghilang dari jarak pandangnya. Boneka kelinci yang Wooyoung letak dimeja pemuda itu tinggalkan begitu saja. Seketika itu ia sadar kalau, ini benar-benar sudah terlambat.
Tidak ada lagi satu kesempatan untuknya kembali.
Hari-hari San terasa begitu berat sejak saat itu.
Sebelas tahun yang ia lalui seolah tidak berarti lagi untuknya. Penantian yang San lakukan selama ini, nyatanya berakhir sia-sia. Ia masih pengecut yang sama seperti dulu. Ia masih orang yang hanya bisa meratapi rasa bersalah dan menyalahkan keadaan.
San membuka laci meja, mengambil sebuah buku yang sudah terlihat pudar di bagian depan karena tersimpan lama dan tak tersentuh. Kapan terakhir kali San membuka buku itu ? Ia sudah tidak ingat.
Mungkin sudah begitu lama.
Sang Ibu pernah memaksa San untuk membuang buku itu, tapi ia masih diam-diam menyimpannya.
San membuka halaman paling awal, menunjukkan sebuah lukisan hitam putih wajah cantik seseorang yang sudah kabur. Tidak begitu jelas, tapi San tahu siapa di dalam gambarnya itu. Sudah sebelas tahun lamanya, namun sketsa tersebut belum juga selesai sampai sekarang. Ia pernah ingin melanjutkannya, tapi berapa kali pun ia mencoba, sudah tidak bisa.
Senyuman yang terukir di atas buku itu membuat San harus susah payah menahan rasa rindunya ini.
San masih ingat betapa indahnya wajah Wooyoung kala tersenyum. Meskipun itu hanya kenangan dari bertahun-tahun yang lalu, namun memori itu terus terekam jelas. San merindukannya, ia sangat rindu.
Tanpa San sadari, setetes air mata mengalir begitu saja dan meninggalkan jejak basah dibukunya. San cepat-cepat menghapusnya, menutup lembaran itu dan menghelakan nafasnya, lalu ia tertunduk bisu.
TING TONG
Keheningan San terpecahkan oleh suara bel yang berbunyi dari depan. San melirik pada jam digital disampingnya. Sekitar pukul sepuluh lewat enam belas menit. San ingat kalau Park Seonghwa janji akan datang mengunjunginya usai restoran tutup.
Padahal San benar-benar tidak ingin di ganggu.
San berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah berat. Sebenarnya, San sudah malas menyambut si Park, tapi ia tidak punya pilihan. Kecuali San ingin melihat kakaknya itu mengamuk karena diabaikan.
![A Day | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/360362540-64-k86213.jpg)