S P E C I A L C H A P T E R

1K 77 13
                                        



Wooyoung memijat pelipisnya penat, isi kepalanya seakan hampir pecah. Rasanya penat usai seharian ini hanya memperhatikan layar komputer. Laporan yang perlu ia baca terlalu banyak sampai bola mata miliknya perlahan memerah dan berair. Ia melepas kacamata kerjanya, meletakkan itu di meja sembari menyandarkan punggungnya di kursi. Ia menghela.

Satu bulan sudah Wooyoung resmi kembali bekerja di perusahaan milik sang Ayah. Kali ini, memegang kendali penuh atas seluruh urusan karena lelaki itu memutuskan pensiun lebih awal. Semua keputusan sang Ayah serahkan pada Wooyoung. Awalnya, ada rasa ragu untuk menerima tawaran ini, tapi karena mengingat kondisi kesehatan sang Ayah yang tidak begitu baik, akhirnya ia setuju. Toh ia sudah sangat familiar dengan perusahaan. Dan juga, sedikit rasa sayang atas semua kerja kerasnya sebelum hari ini.

Tapi sepertinya ia sudah terlalu lama menganggur.

Energinya tidak lagi sebesar dulu.

Wooyoung mengamati jari manisnya dengan cincin berlian yang melingkar disana, pemberian dari San setelah mereka resmi menikah. Padahal Wooyoung sudah bilang ia tidak butuh, tapi pria Choi itu tetap ngotot dan membelinya. Untuk hadiah pernikahan.

Katanya.

Well, Wooyoung tidak bilang ia tidak suka.

Cincin itu indah.

Ah, apa Wooyoung sudah bilang ?

Mereka menikah 2 bulan lalu. Masih terbilang baru memang. Keduanya pindah dari apartemen San, ke sebuah rumah 3 lantai didaerah Gangnam, itu dari sang Ayah. Lagi-lagi hadiah. Awalnya San menolak itu, tapi setelah Wooyoung membujuk, pria itu pun akhirnya luluh. Toh rumah baru mereka juga dekat dengan restoran San, dan ada di daerah yang sama.

Kehidupan rumah tangga mereka harmonis. Atau bahkan lebih dari kata harmonis malah. Sikap San tidak berubah. Pria itu masih Choi San yang penuh perhatian dan kasih sayang. Wooyoung tidak sama sekali merasa kurang saat bersama pria itu. Si Choi selalu memberikan pelukan tanpa ia minta. Pria itu juga selalu setia menunggunya pulang. Kadang San akan menemaninya bekerja lembur sampai malam.

Itu membuat Wooyoung merasa bersalah.

Wooyoung tahu San pasti lelah dengan aktifitasnya sendiri, tapi pria itu tidak pernah mengeluh. Justru sebaliknya. Ia yang lebih sering mengadu pada pria itu. Terutama soal kerjaan kantor yang menumpuk.

Pria Choi itu akan terjaga mendengar keluhannya.

Kadang, Wooyoung merasa ia membebani San.

Tepat ditengah lamunan Wooyoung, suara ketukan dipintu terdengar. Seseorang memasuki ruangan si Jung itu sebelum ia sempat menyahut. Hampir saja Wooyoung melayangkan protes, namun ia tersadar kalau ia mengenal pria itu. Senyum manis merekah lebar kala Wooyoung menemukan San ada di sana.

"Oh ?"

Pria itu merentangkan tangannya. "Hm, kau tidak mau memelukku ? Padahal, aku datang untuk itu."

Tanpa menjawab dengan kata-kata, si Jung dengan gesit berlari mengitari meja kerjanya, ia menerjang San dan memeluk pria itu erat-erat. Rasa lelah dari kesibukannya spontan hilang setelah mendapatkan usapan dipunggung dari San. Wooyoung bersandar didada pria itu, menenggelamkan wajahnya disana.

Rasanya seperti sudah lama tidak bertemu.

Padahal tadi pagi mereka masih sarapan bersama.

Satu kecupan mendarat di kening Wooyoung. "Aku membawakan makan siang untukmu. Aku tahu kau pasti akan melewatkan jam makanmu karena sibuk bekerja, jadi aku sengaja datang agar aku bisa lihat dan memastikan sendiri kau menghabiskan makan siang yang aku buat ini. Sekalian, makan bersama."

A Day | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang