A story inspired by Jongho OST - A Day
*
*
*
I miss you all day long
I want to turn back our time
No matter what day comes, I remember you
I will engrave your name deep into my heart
*
*
*
PAST
"Ehem !" Nyonya Choi berdeham lumayan keras.
Tangan kiri Nyonya Choi menyiku San yang sedang berdiri di sampingnya sampai putranya itu melirik.
"Apa kalian benar-benar hanya teman ?"
"Maksudnya ?"
"Ya, maksudnya, siapa tahu kalau kalian itu punya hubungan lebih tapi sengaja menyembunyikannya. Hawa di antara kalian, ... bagaimana ya ? Berbeda."
Pipi San sontak merona, ia langsung memalingkan mata menghindar dari tatapan menuntut sang Ibu.
Ini semua gara-gara sang Ibu tiba-tiba saja masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk lebih dulu dan berakhir tidak sengaja melihat posisi intim mereka.
Sebenarnya tidak ada yang mereka lakukan selain tatap-tatapan, tapi mungkin jarak keduanya yang begitu dekat membuatnya terlihat sedikit ambigu.
Beruntung saja sang Ibu tidak masuk saat mereka sedang berciuman tadi atau San tidak akan punya nyali lagi untuk berjalan keluar kamar selamanya.
Soal insiden ciuman itu, San terus memaki dirinya sendiri yang terlena oleh suasana. Percayalah, San sangat gugup berada di dekat Wooyoung sekarang, tapi pemuda itu terlihat biasa saja. Ketika Nyonya Choi meminta mereka keluar untuk makan malam, Wooyoung bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Padahal baru beberapa menit saja.
Ya, Wooyoung sama sekali tidak mempertanyakan soal ciuman tiba-tiba mereka saat isi otak San kini sudah di penuhi dengan berbagai pertanyaan yang terus berulang tentang ajakan pacaran Wooyoung.
Mungkin hanya San yang menganggap ini sebagai suatu masalah yang cukup serius diantara mereka.
Karena lagi—Wooyoung tidak seperti terganggu.
"Kelihatannya dia anak yang baik," celetuk Nyonya Choi. Wanita itu sedang memindahkan sup kimchi ke empat buah mangkuk kecil. "Eomma bersyukur sekali kau membawa Wooyoung ke rumah hari ini. Kalian berdua juga terlihat cocok. Apa kalian tidak menyimpan perasaan lebih untuk satu sama lain ?"
San gelagapan, tidak tahu harus menjawab apa.
"Kau menyukainya kan ?"
DEG—jantung San rasanya seperti jatuh ke bawah kaki saat pertanyaan itu keluar dari mulut Nyonya Choi. Meskipun San ingin menyangkal, tapi gerak-geriknya yang terlihat canggung dan gelisah sudah lebih dari cukup untuk menjawabnya. Mungkin ia menyukai Wooyoung lebih, tapi tidak tahu dengan pemuda itu. Bisa jadi juga hanya perasaan sepihak.
"K–kita, ... hanya teman."
Nyonya Choi melirik putra tunggalnya itu dengan tatapan tak percaya. "Ibumu ini tidak bodoh. Kau bahkan tidak pernah membawa siapapun sebelum ini ke rumah, kau juga tidak suka kalau ada orang yang masuk kekamarmu, tapi sekarang ? Kau tiba-tiba membawa seorang anak yang tampan seperti Wooyoung dan mengaku kalian itu hanya teman ?"
![A Day | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/360362540-64-k86213.jpg)