A story inspired by Jongho OST - A Day
*
*
*
I miss you all day long
I want to turn back our time
No matter what day comes, I remember you
I will engrave your name deep into my heart
*
*
*
Present
Berbicara soal mood, pagi Wooyoung masih sama seperti hari sebelumnya. Tidak terlalu buruk, tapi tidak juga bahagia, biasa-biasa saja. Tidak spesial.
Setelah melakukan meeting mingguan, pemuda itu hanya berkutat dengan berbagai macam laporan di dalam ruangannya sendirian. Fokus Wooyoung ada pada layar komputer dan kertas-kertas di meja. Ya, sebenarnya tidak bisa di bilang benar-benar fokus.
Pada kenyataannya pikiran Wooyoung tidak hanya tertuju pada isi tulisan yang sedang ia baca. Sering kali Wooyoung tidak sengaja teringat akan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia ingat. Tentang—dia.
Ini sudah satu minggu berlalu.
Wooyoung belum menginjakkan kaki direstoran itu lagi setelah kejadian yang terakhir. Jujur saja lubuk hati Wooyoung terus memaksa ingin bertemu. Hati kecilnya juga penasaran seperti apa situasi restoran setelah keributan yang sudah ia buat minggu lalu ?
Tidak, Wooyoung bukan sedang khawatir.
Sejak awal tujuan Wooyoung adalah menghentikan restoran itu secepatnya, jadi mustahil ia khawatir.
Wooyoung hanya ingin tahu apa yang sedang pria itu rencanakan sekarang. Ya, ini tentang Choi San.
Soal keributan-keributan yang terjadi di restoran dalam beberapa minggu terakhir, memang benar, Wooyoung yang melakukannya. Benar Wooyoung yang membayar seorang influencer terkenal untuk membuat kekacauan dan merusak nama baik dari restoran San. Memang benar Wooyoung juga yang menyewa orang-orang untuk meninggalkan pesan jahat soal restoran San disosial media. Itu ulahnya.
Tapi pertanyaannya, apa benar karena Wooyoung restoran San kehilangan banyak pelanggan ? Apa benar perbuatannya bisa berdampak sebesar itu ?
Wooyoung tidak berkata ia menyesal. Hanya saja terkadang di beberapa waktu ketika ia merenung, sering kali ia suka merasa bersalah akan sesuatu.
Terutama pada staff yang bekerja di restoran itu.
Bagaimana pun juga Wooyoung itu hanya manusia biasa yang pasti punya empati dan simpati. Sayang sekali karena ia harus melibatkan mereka di dalam skenarionya ini. Jujur Wooyoung sering kali goyah.
Pemuda itu meletakkan pulpen hitam yang sedari tadi berada dalam genggamannya, menunduk lalu memijat puncak kepalanya sendiri, berusaha agar rasa penatnya hilang. Semua masalah tentang San benar-benar berhasil membuatnya frustasi sekali.
Wooyoung bahkan tidak bisa bercerita pada orang lain soal isi pikirannya, termasuk pada sahabatnya Yeosang sekalipun. Kalau Yeosang sudah tahu apa yang Wooyoung lakukan, pemuda itu pasti marah.
Soal membeli gedung kemarin saja Yeosang masih sering kali menyinggungnya tipis sampai detik ini.
"Hahh ... " Wooyoung mendesah berat.
![A Day | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/360362540-64-k86213.jpg)