🌼 E M P A T P U L U H

1.3K 89 11
                                        

A story inspired by Jongho OST - A Day

*

*

*

I miss you all day long

I want to turn back our time

No matter what day comes, I remember you

I will engrave your name deep into my heart

*

*

*






Present






Pertemuan intim keluarga di lakukan satu minggu setelah Tuan Jung menerima kabar dari Tuan Song kalau kedua putra mereka sepakat untuk menikah.

Wooyoung menerima Mingi dan memberi pria itu kesempatan atas ketulusannya. Yah, kesempatan.

Wooyoung tidak ingin memanfaatkan Mingi, tapi dirinya juga tidak punya pilihan. Sang Ayah terus mendesaknya, sama halnya dengan Kang Yeosang.

Wooyoung kira ia sudah membuat keputusan yang baik saat ia menerima lamaran Mingi. Mungkin ini jalan paling benar yang bisa Wooyoung ambil, atau juga mungkin dengan ini ia bisa belajar melupakan seseorang dari masa lalunya untuk memulai hidup baru dengan mencoba mencintai pria lain—Mingi.

Namun sayang, sampai didetik mereka melakukan makan malam bersama keluarga besar, Wooyoung masih saja merasa ada yang salah dengan dirinya.

Apa keputusannya sudah benar ?

Selama makan malam keluarga, Wooyoung hanya melamun. Pemuda itu mengamati menunya tidak berselera bahkan tidak menyentuhnya sama sekali.

Entahlah, Wooyoung merasa seperti terbebani oleh sesuatu yang tidak bisa ia mengerti. Ada yang tidak benar disini, tapi ia sendiri juga tidak tahu dimana letaknya. Semua orang terlihat bahagia, sang Ayah, Tuan Song, dan juga termasuk Song Mingi sendiri.

Mengapa hanya ia yang tidak bisa merasakan itu ?

"Wooyoung-ah ? Wooyoung-ah ?"

Sentuhan hangat di tangan tiba-tiba mengagetkan Wooyoung yang melamun kala itu. "Oh ? Kenapa ?"

"Kau baik-baik saja ?"

Mingi yang duduk di samping Wooyoung memang memperhatikan pemuda itu sejak tadi. Wooyoung tidak bersuara, tidak juga memberi pendapat saat semua orang sibuk membicarakan tentang dimana dan kapan pernikahan mereka akan di laksanakan.

Mingi tahu Wooyoung sebenarnya belum sepenuh hati menerimanya, tapi ia juga tidak mau menolak kesempatan yang sudah pemuda itu beri padanya. 

Mingi sadar ini salah, atau mungkin terlalu cepat untuk Wooyoung, tapi ia sengaja meminta makan malam keluarga di adakan secepatnya. Mingi juga tidak meminta persetujuan pemuda itu lebih dulu.

Semua semata-mata hanya karena ia bahagia.

"Kenapa tidak di makan ?"

Mingi melihat makanan yang masih utuh di piring Wooyoung. Belum tersentuh sama sekali dari tadi.

Pemuda itu dengan hati-hati menarik tangannya dari genggaman Mingi. "I–itu, ... masih kenyang."

A Day | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang