🌼 D U A P U L U H E N A M

1.2K 104 5
                                        

A story inspired by Jongho OST - A Day

*

*

*

I miss you all day long

I want to turn back our time

No matter what day comes, I remember you

I will engrave your name deep into my heart

*

*

*






Present








Wooyoung mengerjapkan matanya perlahan, bias cahaya ruangan yang terang menusuk ke matanya hingga ia kesulitan untuk terbiasa. Langit ruangan serasa berputar ketika denyut di kepala menerjang Wooyoung tiba-tiba. Ia hampir meringis kesakitan.

Wooyoung mencoba bangkit dari tidurnya, namun rasa sakit langsung menghujamnya, terutama pada tangan kiri yang tersambung dengan selang infus.

Wooyoung memijat puncak kepalanya perlahan, ia mencoba mencerna situasi, sampai di satu waktu ia teringat akan sesuatu. Kejadian terakhir sebelum ia pingsan. Samar-samar, Wooyoung masih ingat itu.

Netra Wooyoung menoleh ke kiri lalu ke kanan.

Wooyoung mencari seseorang yang sempat ia lihat sebelum kehilangan kesadarannya. Wooyoung rasa ia sempat menyebut nama Choi San sebelum jatuh pingsan, tapi satu sisi di dalam dirinya masih tidak ingin percaya begitu saja. Rasanya sangat mustahil.

Tidak mungkin San ada disana.

Gorden hijau menghalangi pandangan Wooyoung.

Sejauh mata Wooyoung menelisik, ia tidak melihat siapa-siapa, sampai seseorang tiba-tiba datang dari balik tirai. Sungguh, sepertinya ia mulai menggila.

Wooyoung berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ia hanya sedang berhalusinasi, tapi sayang, tidak. Ini nyata. Pria di depannya ini benar nyata.

Dia, Choi San.

Jadi, ingatan Wooyoung yang terakhir tidak salah.

Tapi pertanyaannya, bagaimana bisa ?

Wooyoung ingat ia berada di Hangang, sendirian.

Tidak mungkin tiba-tiba San muncul tanpa angin tanpa hujan lalu secara kebetulan bertemu dengan Wooyoung saat ia dalam posisi hampir kehilangan kesadaran. Bukankah itu terlalu kebetulan sekali ?

"Oh, syukurlah, kau sudah bangun. Tunggu disini, aku akan panggilkan dokter sebentar," pinta San.

Wooyoung mengabaikan pria itu.

Tidak, Wooyoung tidak ingin bertemu dengan San.

Tidak disaat ia terlihat lemah seperti sekarang.

Wooyoung tidak ingin pria itu melihatnya dalam keadaan terkapar tidak berdaya. Wooyoung tidak ingin San mengasihaninya nanti. Paling tidak hal terakhir yang bisa Wooyoung jaga—harga dirinya.

Wooyoung cepat-cepat bangkit dari tidurnya, rasa sakit dan pusing yang menerjangnya ia hiraukan.

Wooyoung menarik selang infus yang menempel di punggung tangannya dengan kasar. Ia yakin bagian tangannya berdarah, tapi ia sudah tidak peduli lagi.

A Day | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang