"Ini semua ulah mama kan" tanya Fikri
"Apanya" tanya Dea
"Jangan pura pura bodoh deh, mama kan yang nancapkan pisau ini"
Fikri melempar pisau yang mengeluarkan cahaya biru ke depan Dea, Dea yang mengerti maksud dari anaknya tersenyum sinis
"Jadi kamu yang halangi mama?" Ucap nya santai
Mendengar pertanyaan mamanya Fikri merasa hancur, ia merasa bahwa dirinya semakin frustasi karena ulah mamanya
"Mama gila...mama mau bunuh anak mama sendiri darah daging mama sendiri!!" Ucap Fikri marah
"Dia bukan anak mama Fikri"
"Sejauh apapun mama membuang pikiran atau pun fakta bahwa dia bukan anak mama dia tetap anak mama"
"Karena dia ayah kamu tidak kembali Fikri"
"Bukan ma...tapi karena ayah sayang sama dia, bahkan ayah rela terperangkap di bukit itu untuk adik aku ma" ucap Fikri
"Sudah...mama gak mau debat lagi, sekarang kamu keluar" tunjuk Dea pada pintu kamarnya
Fikri memutuskan keluar karena bagaimana pun ia mengingatkan mamanya itu hanya akan sia sia, karena mamanya sudah dipengaruhi oleh kebencian pada adiknya
Yang bisa Fikri pastikan saat ini ialah melindungi adiknya dari mama nya
***
Gibran menghambur kan badannya ke atas kasur karena kelelahan, Rasya yang penasaran dari mana saja temannya ini seharian mengikuti Gibran hingga kamarnya
"Lo dari mana sih......lama banget sampai malam gini" ucap Rasya
"Udah gitu pulang pulang baju dan celana bagian bawah Lo kotor semua...Lo habis main lumpur??" Tanya Rasya
Gibran terduduk. Bayangan nya hampir di sedot kedalam tanah tadi masih terbayangkan oleh nya
"Hmm sya..." Panggil Gibran
"Apaan"
"Kalau gua bilang...gua di sedot tanah Lo percaya gak" tanya Gibran
"Hahahahaha Lo...loo di sedot tanah.....hahahhaha" pecah tawa Rasya
"Eh itu tanah kalau pun bisa makan kayanya lebih Milih nyedot mie atau yang lain deh dari pada nyedot elo hahahhaaha"
Gibran menatap Rasya datar, Rasya yang merasa tatapan Gibran sedang tidak bercanda pun bertanya
"Lo serius" tanya Rasya memastikan
"Iyaa... Ngapain juga gua bohong Rasya...gua beneran di sedot sama tuh tanah"
"Mungkin Lo gak sengaja masuk ke lumpur yang bisa hisap benda masuk kedalam nya kali" ucap Rasya
"Kagak sya..udah jelas banget itu tanah cuman tanah biasa, dan aneh nya tadi tiba tiba di hutan itu ada penghalang gitu jadi gua gak bisa lewat"
"Bentar Lo kehutan ngapain...dan penghalang maksud nya" tanya Rasya
"Jadi gua tadi ketemu Fikri...nah dia ngajak gue kesana buat nikmati ketinggian dan melihat keindahan kota kita dari sana"
"Nah, saat kami mau pulang tiba tiba aja ada penghalang gitu dan banyak lah kejadian lain gitu...sumpah gua cape mikirin nya aja gua cape" ucap Gibran kembali menidurkan badan nya
"Yaudah Lo gak usah pikirin ya, mungkin aja kebetulan" ucap Rasya
"Ya gua tidur duluan. Bye" ucap nya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut
***
"Kenapa?? Gua ngerasa kalau Gibran sedang di intai ya" batin Rasya
"Tapi...siapa yang punya dendam dengan nya.... perasaan juga dia gak punya musuh" ucap Rasya
"Apa gua selidiki aja ya ke hutan itu. Mungkin aja gua Nemu sesuatu"
Rasya menghilang dan memindahkan dirinya ke hutan yang tadi didatangi Gibran
***
"Mama semakin terang Terangan buat nyelakain Gibran" ucap Fikri
"Gak gua gak akan biarkan Gibran kenapa Napa" ucap Fikri
"Mama gak boleh nyakitin Gibran, gua akan lebih ekstra buat selalu di dekat Gibran, gua gak boleh lengah" ucap Fikri di meja belajarnya, tanpa ia sadari seseorang di depan pintu kamarnya sedang tersenyum sinis mendengar kata kata nya
"Sayang nya mama tidak akan biarkan kamu lindungi dia Fikri"
"Dia harus bisa mengembalikan ayah kamu"
"Karena dia ayah kamu menghilang dan di segel di bukit itu"
***
Seorang wanita yang sudah berumur tiba di puncak bukit
"Keluar"
"Saya datang"
HAHAHAHA HAHAHA
Tawa tersebut sangat menggeleggar dan keras sehingga wanita tersebut menutup telinganya karena tidak tahan dengan tawa keras tersebut
"Sudah lama, sekali" suara misterius tersebut menggema
"Kembalikan suami saya"
"HAHAHA...apakah kau lupa dengan perjanjian nya" ucap nya
"Saya ingat" ucap wanita tersebut mengepalkan kedua tangannya
"Saya akan bawa anak itu kesini"
"BAWA DIA....MAKA SAYA KEMBALI SUAMI MU" suara tersebut kembali menggema, membuat wanita yang bernama dea tersebut tersenyum sinis
"Baik kau tunggu saja" ucapnya dengan berani
Bersambung
