Rasya kini sudah berada di depan gerbang sekolah tentunya ia menunggu Gibran, banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada Gibran, mulai dari perkenalan mereka dan apa saja yang ia tidak ketahui selama ini
"Gua harus pastiin! Gua gak mau nyesel"
Saat itu juga Irsyad tiba dan memilih untuk acuh dengan keberadaan Rasya
"Syad"
Irsyad menghentikan langkahnya kemudian menatap Rasya dengan malas
"Tumben Lo manggil gua, kenapa mau cari gara gara lagi! Sori gua gak ada waktu" ucap Irsyad ketus dan melangkah namun baru beberapa langkah ia terhenti karena ditahan Rasya
"Mana Gibran" tanya Rasya, kemudian Irsyad melihat Rasya aneh, ia berpikir tidak mungkin Rasya menanyakan seseorang seperti ini apalagi orang itu Gibran
"Kenapa Lo nyariin dia, mau ngerjain dia lagi?"
"Sudah cukup ya selama ini Lo gangguin sahabat gua" ucap Irsyad menatap Rasya dengan tidak senang nya, kemudian Irsyad pergi dari hadapan Rasya
Rasya sedikit terkejut dengan tatapan Irsyad
"Sepupu gua serem juga ya" batin Rasya
"Apa gua tungguin Gibran di kelas aja ya"
Rasya memilih untuk masuk ke kelas dan menunggu Gibran di dalam kelas
****
"Besok adalah hari nya" ucap Dea
"Sekarang tinggal membuat anak itu tidak sadarkan diri" ucap Dea menatap bola yang terdapat asap didalamnya, kemudian ia memecahkan bola tersebut keluar lah sekumpulan asap
"Asap asap pergilah, buat dia tidak sadar kan diri"
"Pergi lah" mendengar ucapan dari Dea, asap asap tersebut mulai terbang keluar dari rumah Dea
"Setelah anak itu pingsan dan tidak sadarkan diri, akan sangat mudah membawanya ke puncak tersebut"
****
Kini sudah jam istirahat di sekolah namun Gibran tak kunjung tiba dan tentunya Rasya sudah mengira jika Gibran tidak sekolah hari ini, namun kenapa? Tidak biasanya Gibran bolos seperti ini
Brakk
Mendengar suara hentakan dari meja nya membuat Rasya sedikit terkejut terlebih yang di depannya kali ini adalah sepupunya sendiri
"Lo kunciin Gibran dimana" tanya Irsyad ketus
"Maksud Lo"
"Pasti Lo kan yang udah ngunciin Gibran sampai dia gak masuk ke kelas" ucap Irsyad dengan emosi
"Lo bilang apa sih"
"Jujur sya, bercanda Lo gak lucu"
"Woi Lo itu yang gak lucu, datang datang main nuduh gua"
"Ya kalau bukan Lo siapa lagi rasyaaaa"
"Gua kagak tau, dan bisa aja kan dia emang lagi gak masuk, jangan main nuduh gua deh"
"Eh Lo tau ya tuh anak udah demam tinggi pun tetap sekolah, mana pernah dia bolos gini" ucap Irsyad
"Pernah" sontak Rasya mengatakan hal tersebut, mendengar Rasya mengatakan 'pernah' Irsyad sedikit terdiam dan melihat kearah Rasya
"Maksud Lo" tanya Irsyad
"Ya pernah buktinya hari ini" ucap Rasya gugup
"Dah ya mending Lo pergi deh dari sini" usir Rasya
"Ni gua juga mau pergi" ucap Irsyad kemudian pergi dari hadapan Rasya, tanpa sadar Rasya menghela napas kemudian ia kembali bingung dengan dirinya yang tiba tiba menjawab pertanyaan dari Irsyad
"Kenapa gua jawab pernah ya"
"Lo gak sekolah emang"
"Gak misi ini jauh lebih penting"
"Apaan, kagak kagak Lo harus sekolah, lagian tumben tumbenan Lo bolos"
"Demi uang gua rela bolos dah ah yuk" Gibran menarik tangan Rasya menjauh perkarangan sekolah dan berjalan cepat menuju lokasi misi mereka
Entahlah kali ini Rasya kembali mendapatkan bayangan namun aneh nya ia sudah tidak pusing lagi, melainkan tersenyum
"Hmm ternyata memang pernah ya" monolog nya
"Jika semua gambaran yang muncul tiba tiba ini nyata, gua janji akan perjuangkan Lo lagi gib"
_
_
_
Kanza memantau Gibran dari luar kamar, tadi subuh Gibran sempat kambuh lagi dan tentunya Kanza lah pelakunya, dua ramuan jahat di tubuh Gibran kini telah membuat pemuda tersebut tak berdaya di atas kasur
Namun saat itu juga Kanza merasakan hawa tidak sedap, ia mengikuti instingnya untuk menuju luar rumah, seketika ia terkejut dengan keberadaan asap
"Asap ini" monolog nya
Saat asap itu hendak masuk Kanza langsung menangkisnya dengan perisai, "untung gua membawa perisai ini"
"Apakah yang mengirim asap ini orang yang sama" monolog nya, namun asap tersebut bukannya diam ia malah menyerang Kanza
Kanza pun menyerang balik asap asap tersebut
"Tidak akan ku biarkan kalian mendekati mangsa ku"
Bersambung
