Brakk
Saat berhasil mendobrak pintu Rasya segera masuk, pemandangan yang ia lihat sangat sepi
"Gibran" panggil Rasya
"Gib!!!" Rasya berlari dan berkeliling mencari Gibran namun tak juga jumpa
"Gib Lo Dimana" ucap Rasya
Seketika kepala Rasya memberat,
"Gibran"
Merasa tidurnya terusik Gibran pun terbangun, ia melihat kabur kabur orang yang berada didepannya
"Selamat pagi" ucap rasya dengan semangat
"Aaaaaaa" kaget Gibran, membuatnya terduduk secara spontan
"Lah kaget banget Lo kaya ngeliat setan aja lah gua emang setan ya" ucap Rasya
"Lo...." Tunjuk Gibran kaget pada Rasya "lo ngapain disini" ucapnya menunjuk Rasya
"Arghhh suara apa ini, bayangan apa ini!" Rasya semakin mengeratkan pegangan di kepalanya
"Hentikan"
"HENTIKAN!!"
" Hah ....hah" nafas Rasya terengah engah
"Lo ngapain" tanya nya lagi
"Nonton lah" ucapnya santai
"Lo tau gua udah lama banget gak nonton" ucap Rasya
"Lo itu setan atau apa sih" ucap Gibran frustasi melihat hantu yang didepannya ini
"Gua mau tinggal disini karena akhirnya ada manusia yang bisa ngeliat gua" ucap Rasya senang
"Tau ah mending gua mandi" ucap Gibran masuk kekamar mandi
"Arghhh hentikan" ucap Rasya tidak terkendali hingga ia tak sengaja menabrak barang barang di kontrakan Gibran dan alhasil semuanya berantakan
"Udah deh mending Lo pergi" ucap Gibran
"Eh harusnya Lo yang pergi" ucap sosok itu
"Dih hantu nya gaul cuy" ucap Gibran spontan
Karena tak dapat menahan rasa pusing nya Rasya terjatuh ia kembali memegang kepalanya dan menutup telinganya berharap suara suara dan juga bayangan bayangan itu hilang
"Aaaarghhh hentikan, STOP!! SAKIT!!"
Oiya kita belum kenalan gua Rasya"
"Gibran" jawab Gibran lalu pergi.
Mata Rasya membulat sempurna, ia melepas tangan nya yang berada di telinga nya
"Gibran" monolognya
"Iya Gibran dan gua kenalan"
"Gua dan Gibran memang saling kenal" ucap Rasya
"Tapi kenapa? Kenapa gua bisa lupa?!"
"Lalu kenapa gua terpisah dan kenapa" monolog Rasya bingung
"Kenapa" ucapnya khawatir"kenapa tangan gua hilang gini" ucap nya cemas
Rasya menutup mata berharap saat membuka mata tangannya kembali normal, dan ya akhirnya tangan Rasya kembali normal
"Arghhh bayangan apa lagi ini" teriak Rasya
"Pliss pergi gua udah inget apa ini, kenapa?!!"
"STOPPPPP" teriak Rasya kembali menutup telinganya
"Gib boleh gua minta sesuatu ke Lo" tanya Rasya dengan yakin menatap Gibran
"Apa"
"Lo jangan ceroboh lagi ya, dan Lo juga jangan suka bertindak sendiri...oiya Lo juga harus jaga diri" ucap Rasya
Gibran menatap Rasya bingung, entahlah Gibran menganggap kata kata dari Rasya adalah kata perpisahan
"Sya...Lo mau kemana" tanya Gibran
"Hah...apa sih gua gak kemana mana tetap di sini" ucap Rasya
"Lo yakin sya" tanya Gibran
"Kata kata Lo, seakan Lo akan pergi jauh" ucap Gibran
"Gak gak, gua gak akan pergi gib" ucap Rasya spontan dengan matanya yang sudah memerah karena menahan rasa sakit
"Enggak gua akan pergi ninggalin Lo" ucap Rasya spontan dengan berusaha berdiri
"Maaf gib" ucap Rasya putus asa
"Sya gua harus di sini, Irsyad butuh gua" ucap Gibran
"Gak Lo harus pulang...gua takut Lo kenapa Napa gib" ucap Rasya
"Gak sya....gua gak bisa....kasian Irsyad"
"Lo milih Irsyad atau gua" ucap Rasya
"Sya gua gak harus milih....ayolah ini masalah kecil"
"Dan ya kalau untuk keadaan seperti ini, seperti nya Irsyad lagi butuh gua dan gua harus ada di samping nya sebagai sahabat" ucap Gibran berjalan lagi masuk
"Gibran" ucap Rasya lemah
"Apalagi" ucap Gibran berbalik lagi menghadap Rasya, alangkah terkejutnya Gibran ketika melihat Rasya yang mulai mengabur
"Sya...tubuh Lo kenapa" tanya Gibran menunjuk Rasya
"Gib.." panggil Rasya dengan berkaca kaca
Gibran berlari mendekat kearah Rasya, namun terlambat Rasya sedikit demi sedikit menghilang. Ketika Gibran hendak menggapai tangan Rasya disaat itulah Rasya menghilang
"Sya" panggil Gibran
"Rasyaaaaaa"
"ENGGAK!!!!!" Rasya teriak ketika semua ingatan nya kembali
"Enggak, kenapa? GUA gak gak ini salah gua udah ninggalin Gibran sahabat gua" ucap Rasya hancur
Rasya mengingat kembali saat saat ia berprilaku buruk pada Gibran, Rasya mengusap kasar wajah nya
"Bodoh bodoh bodoh Lo syaa" ucap Rasya menghantamkan kepalanya ke dinding
"Bodoh?!!!!!!" Ucap nya
Tapi satu hal yang harus Lo tau Rasya" ucap Gibran menatap Rasya dengan tatapan yang sangat tajam
"Gua bukan lagi sahabat Lo, jadi stop Lo ganggu kehidupan gua" ucap Gibran mendorong Rasya dan pergi dari sana
Rasya semakin hancur ketika mengingat kata kata Gibran
"Enggak gib maafkan gua, jangan putuskan persahabatan kita" ucap Rasya mulai kalut
"Gua bakal nunggu Lo, sampai hari ulang tahun gua, dan jika memang Lo gak kembali saat ulang tahun gua.." ucap Gibran menjeda kalimat nya
"Gua bakal ikhlasin Lo" ucap Gibran
Rasya mulai bangkit "belum," ucap nya. "Gua belum telat, gib... Gua inget Lo sebelum ulang tahun Lo" ucap Rasya mulai tersenyum dan menghapus air mata nya
"Tapi Lo Dimana gib"
"Gua disini"
"Gibrannnn"
Satu hal yang membuat Rasya sadar ketika melihat kasur Gibran, ia mengingat ketika ia mengobati Gibran
Dan juga ia mengingat bahwa Gibran ada yang mengincar
"Jangan bilang?"
Bersambung
