"Apa" tanya Gibran terkejut
"Gua Abang Lo"
"Gak mungkin, bagaimana bisa.... Jangan bilang ini teknik Lo buat... Buatt nguasai tubuh gua, IYA KAN!!"
"Gibran gua jujur, Lo harus percaya, okey ini aneh gua pemilik sekolah dan gua nyamar jadi murid agar gua bisa terus dekat dengan Lo" ucap Fikri berusaha menjelaskan
"ENGGAK,.....CUKUP GUA CAPEK" ucap Gibran
"Gibran gua..."
"ARGHH!!"
Karena teriakan Gibran, Fikri jadi sedikit terkejut, ia mendekat "dek kamu kenapa" tanya Fikri cemas
"Lepas" ucap Gibran
Tak lama tubuh Gibran mengeluarkan cahaya biru dan oranye persis dengan pengaruh ramuan yang di berikan oleh Dea dan Kanza
"ARGHHH" Gibran menggeram kesakitan saat Fikri hendak mendekat ia malah terhempas
"Auhhh" ucap nya
Ia berdiri dan melihat Gibran dengan berbagai warna "gib tenang gua udah bawa penawar nya" ucap Fikri menunjukkan satu botol kecil penawar, namun saat hendak mendekat lagi penawar tersebut tiba tiba saja melayang hal itu membuat Fikri terkejut terlebih ketika penawar tersebut berada di tangan Kanza
"Berikan" ucap Fikri
"Ternyata dua ramuan itu sedang bertempur" ucap Kanza, saat yang sama Dea tiba
"Jika ramuan X yang menang maka suami ku akan kembali"
"Jangan mimpi ibu tua, karena ramuan W yang akan menang"
"Berikan penawar itu" ucap Fikri
"Ma harusnya mama rampas ramuan itu aku mohon ma, ambil selamatkan adik aku" ucap Fikri
Karena tak dapat menahan rasa sakit di tubuhnya Gibran pingsan hal itu membuat Kanza dan Dea tersenyum
Fikri dilema ia harus mengambil penawar itu namun Gibran juga pingsan
Kanza melihat jam "10 menit lagi" ucapnya
"Ibu tua seperti nya nasib kita berdua tergantung dengan ramuan mana yang akan menang" ucap Kanza
"Bawa dia" ucap Dea, entah kenapa mereka berdua bisa bekerja sama, namun saat itu juga dea mendekati Gibran dan membawanya
"Ma..mau bawa kemana adik ku" tanya Fikri
"Ini demi kebaikan kita nak" ucap Dea
Saat hendak mengejar Dea Fikri dihadang oleh Kanza
"Lo mau penawar ini kan" tanya Kanza
"Ambil" ia melempar penawar tersebut "Lo gila atau apa sih hah" ucap Fikri yang sudah tersulut emosi
Kanza tak menghiraukan nya ia lebih memilih untuk menyusul Dea karena ia tak mau Dea akan berlaku licik
_
_
_
_
"Gua harus cari penawar tersebut sebelum sepuluh menit" ucap Fikri mulai mencari penawar tersebut
****
"Ini dia puncaknya" ucap Rasya ketika baru saja tiba di puncak tersebut
"Gib tunggu gua...gua pasti selamatkan elo" ucap Rasya mulai masuk ke puncak
Rasya terus berjalan dan meneliti sekeliling namun ia tak menemukan apapun
"Gib..... Gua mohon bertahan"
Dendam
Karena mendengar sebuah suara Rasya mendekati satu buah pohon tua
Dendam
"Hah dendam?" Tanya Rasya
"Kenapa nih pohon malah bahas dendam"
"Nih puncak aneh banget"
Saat hendak pergi Rasya tidak sengaja tersandung akar akar pohon yang muncul di permukaan tanah
"Aaah shit...sakit" ucapnya namun pandangan nya terfokus pada kunci yang tertutupi dedaunan
"Kunci" ucap Rasya, ia mengambil kunci tersebut dan melihat lagi kearah pohon, ia mengelilingi pohon tersebut dan melihat ternyata pohon tersebut memiliki lubang yang hampir sama dengan bentuk kunci tersebut
Ia memasuki kunci tersebut ke dalam pohon dan benar saja ada sebuah pintu yang terbuka secara otomatis
"Bjirr!! Pohon ajaib anjasss" ucap nya semangat
"Masuk gak ya" ucap Rasya
"Gimana di dalam nya ada gibran" ucap Rasya
"Wahhh gak bisa ini" ucap Rasya langsung masuk kedalam pohon tersebut, ternyata pohon tersebut memiliki tangga yang mengarah keruang bawah tanah
"Bjirr serem" ucap nya
"Tahan sya Lo pasti berani masa ketua geng takut dengan hal gini sih, kan dulu Lo sempat jadi setan" ucap nya sendiri
Saat iya tiba yang ia lihat seseorang yang terikat dengan akar akar menjalar di sana dengan keadaan yang sangat memprihatinkan
"Eeh om masih hidup kan" tanya Rasya ketika mendekati orang tersebut
"Siapa kamu" tanya orang tersebut dengan suara yang sangat lemah
"Om okey" tanya Rasya khawatir
"Pergi! Disini bahaya" ucapnya berusaha memperingati walau dengan kondisi sangat lemah
" Gak om aku harus selamatkan teman aku" ucap Rasya
"Banyak yang mengintai nya" ucap Rasya
"Aku yakin dia disini" ucap Rasya
Pria tua itu terdiam, wajah pucat nya dan tubuhnya yang lemah membuat Rasya ikut prihatin
"Tapi om saya bantu om ya" ucap Rasya
"Jangan"
"Gak saya akan tetap bantu" ucap Rasya mengeluarkan pisau di sakunya dan mulai memotong akar akar tersebut
"Siapa yang di intai" batin orang tua tersebut
"Jangan jangan..."
Bersambung
