Sudah tiga hari Rasya menghilang, tiga hari itu juga Gibran berusaha membiasakan diri tanpa Rasya, ia juga semakin akrab dengan Irsyad dan ya setelah Rasya menghilang Gibran memilih untuk kembali ke orang tua angkatnya, orang tua angkat Gibran sudah menyelesaikan kesalahpahaman terhadap hubungan mereka
"Lo tau gak sya, orang tua angkat gua udah gak protektif lagi, Mereke ngebebasin gua buat bertindak asal itu hal positif" ucap Gibran melihat kearah bintang
"Tiga hari lagi gua ulang tahun sya...Lo gak mau ucapin gitu ke gua" ucap Gibran sedih
***
"Gibrannnnnn" teriak Irsyad ketika baru saja tiba disekolah dan melihat Gibran tengah berjalan menuju kelas
"Ribut bangsat" ucap Gibran
"Dih ribut sama sahabat sendiri ya gak papa lah" ucap Irsyad
"Lo kenapa, masih mikirin teman hantu Lo itu" tanya Irsyad
"Ya apa lagi yang akan nyangkut di pikiran gua irsyad kalau bukan sahabat gua itu" ucap Gibran
Irsyad menarik Gibran menuju kantin
"Mbak, nasi goreng nya dua ya" teriak Irsyad pada ibuk kantin
"Gua gak lapar" ucap Gibran
"Lo lagi stress pasti Lo lapar" ucap Irsyad
"Siapa yang bilang gua stres" tanya Gibran
"Gua, udah keliatan ya kalau Lo itu banyak beban pikiran, kalau Lo banyak pikiran pasti bawaan nya lapar" ucap Irsyad
"Ssi dah" ucap Gibran melihat hp nya
"Hah ssi apaan dah" tanya Irsyad, Gibran melirik Irsyad malas
"Suka suka Irsyad" ucap Gibran
Nasi goreng yang mereka pesan tiba, mereka makan dengan di iringi candaan
"Eh gib Lo tau gak"
"Apaan"
"Sepupu gua bakal sekolah disini" ucap Irsyad
"Wihh seru tuh, pasti Lo bakal lebih sering sama sepupu Lo" ucap Gibran
"Apaan, kagak lah, yang ada gua dan sepupu gua yang satu ini gak ada akurnya" ucap Irsyad
"Lah kenapa" tanya Gibran
"Sepupu gua ini, beda jauh banget dari gua gib" ucap irsyad sedikit dramatis
"Beda gimana" tanya Gibran
"Sepupu gua ini, dingin poll cool gitu" ucap Irsyad
"Dan Lo tau dia itu juga ketua geng motor gitu, kaya anak nakal gitu"
"Pembuat onar nomor satu"
"Dan ya, kalau Lo sampai berurusan dengan nya Lo bakal sengsara" ucap Irsyad menjelaskan panjang lebar kepada gibran
"Jadi karena dia nakal, dia dikeluarkan dari sekolah lama nya terus masuk kesini gitu" tanya Gibran
"Hmm bagian nakal nya masuk tapi yang Lo bilang tadi bukan" ucap Irsyad
"Lalu"
"Dia kan nakal ya, karena dia nakal jadi geng motornya tawuran dengan geng motor lain gitu" jelas Irsyad
"Hmm gitu terus" tanya Gibran semakin tertarik
"Nah setelah itu yang gua dengar geng nya sepupu gua ini kalah, dan alhasil sepupu gua ini kabur dan di kejar sama geng yang menjadi lawan nya"
"Gua dengar dia masuk kedalam bis, setelah itu geng tadi udah gak ngejar, nah saat itu juga ada kecelakaan dengan bis nya, dan sepupu gua melompat dan sialnya dia malah melompat kearah jurang, dan ya jatuh"
"Akhirnya dia koma, sekitar berapa bulan belakangan ini deh" ucap Irsyad menjelaskan
"Hmm gitu"
"Nah jadi nyokapnya gak mau dia bergaul dengan ex geng nya. Jadi pindah deh" ucap Irsyad
"Gua saranin Lo jangan pernah dekat dekat dengan dia okey" ucap Irsyad yang di angguki oleh Gibran
Gibran kembali merasakan nyeri di tangan nya, ia ingin teriak namun ia menahan nya ia tak mau membuat Irsyad cemas
"Syad gua ke toilet dulu ya" ucap Gibran berlari
"Eh gib, nasi goreng Lo" tanya Irsyad namun tak ada jawaban dari Gibran ya karena Gibran sudah jauh, Irsyad memilih untuk acuh dan melanjutkan makannya
****
"Mama harap kamu bisa berubah" ucap seorang wanita
"Hmm"
"Mama pergi dulu, kamu belajar yang benar ya" ucap wanita itu dan pergi dari hadapan seorang pemuda yang merupakan anaknya
"Sial"
Pemuda tersebut memilih untuk berkeliling dan mengenali lingkungan barunya, sebelum nya ia sudah diberi tahu dimana kelas nya dan siapa wali kelas nya, namun ia tak peduli
"Banyak anak culun disini" monolog nya melihat sekeliling
"Cih"
Brakk
"Aduh" ucap seseorang yang terjatuh akibat menabrak pemuda tersebut
"Jalan pakai mata" ucap orang itu sedikit ketus
"Duhh" ucap Gibran
Kemudian Gibran membersihkan sedikit pakaiannya dan melihat kearah depan dengan nyalangnya
"Eh Lo yang harus nya jangan diri disana" ucap Gibran melemah ketika di kalimat akhirnya, tangannya yang menunjuk pemuda di depannya itu seketika bergetar
Glep
Gibran memeluk pemuda tersebut menyalurkan rasa rindunya yang selama ini ia tahan
"Gua kangen Lo sya" ucap nya
Bersambung
