Byurrr
Saat Gibran membuka pintu kelasnya tiba tiba saja air mengguyur badannya
"Yahahhahaha, belum mandi Lo" pecah tawa Rasya saat itu
Rasya memang sengaja datang cepat untuk mengerjai Gibran
Gibran menatap Rasya "ini ulah Lo" tanya Gibran. "Menurut Lo" tanya Rasya dengan nada remeh
"Gua itu baik mau buat Lo lebih seger pagi hari Gibran" ucap Rasya berjalan mendekat kearah Gibran
"Apa hidup Lo sekarang cuman untuk gangguin gua" tanya Gibran
"Lebih tepat nya iya, karena Lo sudah berani nyari gara gara kepada gua" ucap Rasya, Gibran mengepal tangannya dengan sangat erat, entahlah perasaan Gibran sangat kacau ia sangat ingin membenci orang didepannya ini tapi ia tak bisa, bagaimana pun orang yang ada di depannya ini adalah sahabat nya, sebentar sahabat? Bukan kah ia sudah memutuskan hubungan persahabatan nya
Gibran mendekat kearah Rasya, kini jarak mereka hanya sejengkal tangan
"Gua bakal nunggu Lo sya" ucap Gibran dengan mata yang berkaca kaca
"Hahaha nunggu?? Lo udah gak waras gua disini ngapain juga Lo nungguin gua, gak waras Lo" ucap Rasya dengan nada meremehkan
"Bukan Lo, tapi Rasya sahabat gua" ucap Gibran
"Raga Kalian sama, sifat kalian yang berani juga sama, tapi... Lo bukan sahabat gua" ucap Gibran
"Sejak kapan kita bersahabat Gibran" tanya Rasya
"Gua bakal nunggu Lo, sampai hari ulang tahun gua, dan jika memang Lo gak kembali saat ulang tahun gua.." ucap Gibran menjeda kalimat nya
"Gua bakal ikhlasin Lo" ucap Gibran berjalan cepat melewati Rasya dan meletakkan tas nya lalu keluar dari kelas
Rasya sedikit terkejut dengan ucapan Gibran
"Kenapa dia masih menganggap gua sahabat nya, kenapa dia seyakin itu" monolog Rasya
"Ah bukan urusan gua, yang jelas gua bakal buat dia menderita di sekolalo ini" ucap Rasya
***
"Rasyaaaaaa" teriak Gibran
"Lo kan yang udah habisin telur dadar punya gua" rengek Gibran
"Hah enggak" ucap Rasya menghapus bekas makannya di mulut, Gibran mendekat dan meneliti setiap sudut wajah Rasya
"Kan benar elo" ucap Gibran, Rasya kabur dan Gibran mengejar nya
"Aaaa balikin telur dadar gua"
"Gak mau"
Brakk
Gibran terjatuh akibat tidak memperhatikan jalan
"Gibrann" teriak Rasya
"GIBRANN" teriak Rasya yang terbangun dari tidurnya, membuat satu kelas terkejut begitu juga dengan Irsyad dan Gibran
"RASYA" panggil guru dengan tegas
"Kenapa kamu" tanya guru
"Maaf buk tadi saya terkejut" ucap Rasya
"Terkejut atau ketiduran" ledek Irsyad
"Tidur? Kamu tidur di kelas" tanya guru
"Iya buk, buktinya dia ngigau nama Gibran" ucap Irsyad dan langsung mendapat tatapan tajam dari Gibran
"Hehehehe sori"
"Hah ngapain gua ngigau Gibran" ucap Rasya gugup. "Aaaa itu buk saya teriak nama Gibran karena Gibran ganggu saya buk" ucap Rasya
"Eh gua diem aja dari tadi ya! Main fitnah aja" ucap Gibran tak terima
"Dih fitnah, eh lu jangan playing victim deh, lu tadi ganggu gua dengan lemparin gua kertas" ucap Rasya
"Eh bukti nya mana, orang dari tadi Gibran diam aja kok"
Rasya menyobek kertas di bawah lacinya dan menjatuhkannya
"Nih buktinya" Rasya menunjuk kertas tersebut
"Apaan. Gak ada kok buk" ucap Gibran
"Ibuk secara nalarnya, gak mungkin kan saya teriak teriak nama Gibran secara dadakan" ucap Rasya
"Gibran, keluar kamu dari kelas saya"
"Tapi buk bukan saya" ucap Gibran
"Atau kamu mau ibuk hukum"
"Buk saya berani sumpah, beneran bukan saya" ucap Gibran
"KELUAR" ucap guru dengan tegas, mau tak mau Gibran menuruti nya dan keluar, saat Gibran tiba di pintu ia sengaja melihat kearah Rasya, dan tentunya Rasya meledek Gibran dengan wajah yang sangat menjengkelkan
Gibran keluar, Rasya tersenyum puas, ia berhasil mengelak dengan mengorbankan Gibran
"Lihat kan gib, hidup Lo gak akan tenang" batin Rasya
***
"Iiii kesel banget gua" ucap Gibran
Tolong
Gibran yang mendengar seseorang meminta tolong dari arah taman belakang, kemudian memutuskan untuk mendatangi sumber suara
Saat tiba, Gibran sedikit terkejut ketika melihat anak kecil memakai seragam TK dengan wajah nya yang pucat dan sedikit bekas luka diwajahnya kini sedang berada di atas pohon
Tolongin aku kak
"Lo hantu" tanya Gibran dengan polosnya
Aku gak tau kak, tolongin putri takut
"Duhh masa gua nolongin hantu sih. Tapi kasian masih kecil lagi"
"Yaudah bentar" Gibran naik keatas pohon dan membantu putri turun, saat tiba dibawah putri berlari kegirangan
"Terimakasih kakak, untuk kakak bisa liat aku" ucap nya bahagia
"Lain kali hati hati ya"
"Siap kak" ucap putri, lalu menghilang
Gibran kembali terdiam, dan melihat kearah kelasnya
"Lo berubah sya"
Bersambung
