bab 9 kenyataan

371 53 35
                                        















Irsyad sudah tiba dikontrakannya Gibran, ia memandangi kontrakan Gibran dengan sangat intensnya

Tok tok tok

Gibran membuka pintu, dan ia melebarkan senyumnya ketika melihat orang yang menggedor pintu adalah Irsyad

"Gua tungguin dari tadi juga" ucap Gibran mengiringi Irsyad masuk

"Sori ya kontrakan gua kecil" ucap Gibran

"Ahh gak papa gib"

"Oiya khusus buat Lo, gua udah nyiapin ini semua .....tadaa" ucap Gibran memperlihatkan meja makan yang sudah penuh dengan berbagai macam makanan

Irsyad masih bingung dengan sikap Gibran yang berbeda, disekolah ia nyaris cool dan tak pernah berbicara tapi ketika dirumah ternyata Gibran adalah seorang yang periang

"Woi bengong aja yuk duduk" Gibran duduk terlebih dahulu dan diikuti oleh Irsyad yang duduk. Mereka pun menghabiskan makanan yang ada

"Gib" panggil Irsyad

"Hmm"

"Gua boleh nanya sesuatu gak"

"Apa"

"Hmm ini soal Fikri dan geng nya" ucap Irsyad ragu

Gibran menatap Irsyad kemudian meneruskan makannya

"Kenapa Lo nanya mereka" tanya Gibran

"Ya gak ada sih. Hmm habisnya mereka kayanya pengen banget deh elo jadi teman mereka" ucap irsyad

"Syad gua kasih tau ya gua gak mau temanan dengan orang yang sukanya, fomo, terus muka dua gak tipe temen gua banget itu mah" ucap Gibran

"Mereka itu pengen temanan dengan gua ya karena mereka penasaran dengan gua terus nanti ketika gua luluh dan mau jadi teman mereka yang ada mereka buang gua" ucap Gibran

"Hmm gitu"

"Tapi Lo kenapa nanyain mereka" tanya Gibran. Kemudian Gibran menatap Irsyad dengan tatapan yang mengintimidasi

"Jangan bilang kalau mereka nyuruh Lo bujuk gua lagi" ucap Gibran

"Ah enggak lah gib ada ada aja. Lagian kalau gua bujuk Lo pun, pasti Lo nolak kan" ucap Irsyad

"Yess. Udah ah makan lagi yuk"

Mereka melanjutkan aktivitas makan mereka, hari sudah larut Irsyad baru saja pamit pulang, kini tinggal lah Gibran seorang diri

"Sya dari tadi gua nungguin Lo, tapi kenapa Lo gak datang sih" ucap Gibran

"Kalau Lo masih ngambek pliss maafin gua" ucap Gibran sendiri

"Aaaaaa rasyaaaaaaaa" teriak Gibran memanggil rasya namun tak ada jawaban

Gibran memutuskan untuk keluar mencari Rasya, ia ingin bertanya dengan orang orang namun tidak bisa karena Rasya tak terlihat

"Duhh sya..."

"Lo dimana sih, jangan buat gua cemas gini Napa" ucap Gibran. Karena lelah Gibran memutuskan untuk duduk di halte

Saat melihat lihat sekeliling fokus Gibran teralihkan kepada dua orang yang ia kenal, Gibran mengikuti langkah kedua orang tersebut

Ketika tiba disebuah rumah kosong Gibran memutuskan untuk bersembunyi didekat semak semak, dan melihat wanita dan pria yang sangat ia kenal bertengkar

"BENAR KAN KAMU SELINGKUH" teriak wanita itu

"Sudah berapa kali saya katakan saya tidak selingkuh"

"Alah gak usah membela diri kamu, sudah jelas saya Melihat kamu selingkuh"

"Dia bukan selingkuhan aku..tapi"

"Tapi apa... Jawab mas" ucap wanita itu udah tersulut emosi

"Dia ibu kandung Gibran"

Kata kata yang keluar dari mulut orang yang selama ini Gibran anggap papa nya membuat Gibran menegang, ia semakin tertarik untuk mendengarkan

"Mas jangan pernah kamu katakan itu kalau ada yang dengar gimana, dengar ya Gibran anak aku bukan wanita itu" ucap nya

"Jangan bilang dia meminta Gibran kembali ke dia.. gak mas aku gak setuju, membujuk Gibran untuk kembali kerumah aja sulit mas" ucap wanita itu

"Tapi Gibran sudah harus tau kenyataan ini"

"Gak dan gak akan pernah" ucap wanita itu pergi, lalu disusul oleh suaminya

Gibran meremas tanah, air mata nya tak dapat lagi ditahan. Apa ini? Berita apa yang ia dapatkan, mengapa ia harus mendengar kenyataan yang menyakit kan ini, bahwa ia bukan anak kandung kedua orang tua nya

Gibran memukul mukul dada nya, sesak rasanya

****

Gibran berjalan dengan tatapan yang kosong, menuju kontrakan nya, didepan kontrakannya sudah terdapat Rasya yang duduk di depan teras, awalnya Rasya ingin cuek dengan Gibran karena ia masih marah dengan Gibran yang lebih memilih Irsyad tadi siang

Namun saat rasya melihat Gibran berjalan dengan keputus asaan, rasya mengurungkan niat nya kemudian mendekati Gibran

"Gib Lo kenapa" tanya Rasya namun seolah tak didengar oleh Gibran, Gibran memutuskan untuk masuk kedalam rumah, Rasya mengikuti Gibran dan menahannya

Kemudian tanpa aba aba Rasya menarik Gibran jatuh kepelukannya

"Nangis gib.. jangan ditahan" ucap Rasya lembut

Mendengar semuanya Gibran meluap semuanya

"Hikss..aaaaaaaa" pecah tangis Gibran dipelukan Rasya

"Kenapa syaaa"

"Kenapa gua harus tau"

"Gua.. gua bukan anak kandung ortu gua,  gua siapa.. terus kenapa gua bisa bersama mereka...hikss" ucap Gibran tak beraturan, Rasya semakin mengeratkan pelukannya kepada Gibran, tak lama terasa Gibran semakin berat ternyata Gibran sudah tertidur, Rasya menggendong Gibran menuju kasur gibran, lalu meletakkan nya dikasur

Rasya duduk dikursi samping kasur Gibran, lalu ia mengelus rambut Gibran

"Pertama kali gua ngeliat Lo nangis gib"

"Dan gua gak suka" ucap Rasya menatap sendu Gibran yang sedang tidur dengan mata sembab nya







Bersambung

GHOST (✓ Ending)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang