"Eugh" Gibran terbangun, kepala nya sedikit pusing mungkin efek bangun dari pingsannya. "Udah bangun" Gibran melihat ke sumber suara
"Kanza" ucap Gibran lemah
"Nih gua bawain Lo obat" ucap Kanza
"Makasih ya za" Kanza tersenyum dan duduk di samping ranjang Gibran, dan kemudian ia membantu Gibran meminum obat nya
"Gimana" tanya Kanza
Gibran merasa dunia seperti berputar, bahkan kini ia hanya mendengar suara nyaring dan berdenging
"Pusing" tanya Kanza memastikan, Gibran mengangguk, "yaudah Lo tidur dulu" ucap Kanza membantu Gibran berbaring
"Thanks ya" ucap Gibran. "Padahal kita baru kenal tapi Lo udah sebaik ini" ucap Gibran
"Lo tenang aja ya, gua bakal jaga Lo, karena Lo sangat berarti bagi gua" ucap Kanza dengan tersenyum
Gibran tersenyum dan kemudian ia memejamkan matanya, Kanza melihat Gibran dengan tatapan yang sangat mendalam
"Sebentar lagi"
"Bukan hanya ramuan tapi obat itu juga akan membuat Lo gak berdaya Gibran"
***
"Duhhh gua gak bisa tenang, apa gua samperin Gibran aja ya" ucap Rasya
Kemudian Rasya berdiri, dan memasang jaketnya, dan Rasya pun pergi
Saat ini Rasya sedang berada di kawasan yang tadi tempat ia bertemu dengan Gibran dan juga orang asing
"Duhh gua gak tau lagi kontrakan nya Gibran"
"Bentar kenapa gua jadi peduli sama tu anak coba"
"Dah ah mending gua ke markas"
****
Kini hari semakin senja Gibran terbangun lagi dari tidurnya namun hal yang ia rasakan adalah kondisi tubuhnya yang semakin memburuk
"Arghhh" sontak Gibran memegang kepalanya dengan sangat kuat "kenapa kepala gua semakin sakit ya" keluh Gibran, dan kini tangan Gibran kembali membiru namun sakit yang kini Gibran rasakan dua kali lipat dari sebelum belum nya
"Arghhh" Gibran menahan sakit yang berasal dari tangan nya, "tangan gua kenapa" ucap Gibran
"Arghhhhh" mata Gibran memerah detak jantung Gibran kini berdetak dengan sangat cepat, sontak Gibran memegang matanya "arghhh mata gua. Sakitttt" teriak Gibran
"Tubuh gua sakit semua"
"Tolonggg"
Kanza datang dengan tergesa gesa "Lo gak papa gib" tanya Kanza
"Za pliss tolongin gua semua badan gua sakit semuanya, mata gua perihhhh" ucap Gibran masih menutup matanya dengan kedua tangannya
"Bentar lu tahan ya gib, tahan pasti sakitnya akan hilang, hmm mending Lo minum obat ini lagi ya" Gibran menurut dan meminum obat dari Kanza, tubuh nya yang sakit dan juga rasa pusing terus menerus tiba di dirinya
Dan ya karena sakit yang luar biasa Gibran kembali pingsan, "Gibran" panggil Kanza
Senyum Kanza kembali tercipta setelah melihat Gibran tidak berdaya dan kembali memejamkan matanya
"Gibran Gibran Lo itu bodoh banget ya"
"Padahal gua orang baru buat Lo, tapi Lo bisa segitu percaya nya dengan gua"
****
"Tuh kan Lo lapar"
"Bentar ya gua buatkan Lo sesuatu dulu"
"Apaan"
"Entar Lo juga tau"
"Tadaaa" ucap Gibran dengan semangat nya memperlihatkan telur dadar buatan nya
"Apaan nih"
"Ya ampun eh Lo gua tau ya Lo itu makhluk ghaib tapi Lo kan juga pernah hidup jadi manusia, masa Lo gak tau sih namanya apa"
"Ya namanya apa, gua kan gak inget apa apa"
"Ini tuh telur dadar"
"Serius aromannya enak banget" Rasya langsung mengambil piring dan mulai makan, dan ya dalam sekejap telur dadar nya habis
"Rasyaa gua kan juga mau" rengek Gibran
"Masakan Lo the best deh"
Mata Rasya yang tadi nya tertutup kini terbuka, tidak seperti biasanya yang ia akan pusing ketika mendapatkan mimpi seperti itu, namun kini biasanya saja
"Apa tadi"
"Lagi lagi gua mimpiin Gibran"
"Apa yang Gibran bilang benar gua dan dia sahabatan" tanya Rasya
"Besok gua harus ngobrol bareng Gibran"
Bersambung
