"Kamu tuh, Vy!" omel Ani lewat sambungan telepon, kelewat gemas dengan tingkah Silvy, yang menurutnya menghilang setelah mengirim pesan dan ponselnya juga tidak aktif, membuat Bapaknya mengubungi Pak Hendrik dan Ani memilih menghubungi Hermawan, "bilang mau pulang, Mama sama Bapak tungguin malah gak ada kabar, untung Bapak nelpon Pak Hendrik, jadi tahu kamu sakit."
"Ya, Ma, maaf," Silvy melirik Hermawan yang duduk di depannya, memegangi ponsel, bisa-bisanya Mama nelpon Pak Hermawan yang baru pulang kerja, untung Pak Hermawan tidak sewot waktu istirahatnya terganggu, "hape Silvy belum dicharge."
"Minta tolong orang buat charge-in kan bisa, bukannya malah gak ada kabar."
Silvy mencebik, sudah tahu anaknya sakit, masih saja mengomel, di depan Hermawan pula. Harga dirinya jatuh dong kalau begini caranya.
"Apa-apa tuh harus ngasih tahu orang tua, kebiasaan kamu, udah kejadian baru ngasih tahu, itu juga kalau dipaksa cerita, kalau ada apa-apa, kamu gak ada yang nolong gimana?" Ani terus mengomel. "Nanti Bapak jemput, jangan ngerepotin orang terus."
Siapa juga yang mau ngerepotin orang terus. Silvy mendumel dalam hati.
"Nak Hermawan," panggil Ani.
"Iya, Bu," Hermawan segera menjawab.
"Ibu minta maaf ya, Silvy sering ngerepotin, nanti Bapak ke sana, minta maaf sama Pak Hendrik dan Bu Ulfa."
"Tidak apa-apa, Bu, tidak merepotkan."
"Aduh, Nak Hermawan ini memang kelewat baik..."
Silvy ingin menutup telinga, malas mendengar rentetan pujian yang diberikan Ani pada Hermawan, beda sekali dengan omelan yang diberikan padanya.
"Ya udah, nitip Silvy dulu ya."
"Iya, Bu."
Dan sambungan telepon pun selesai. Hermawan memasukan ponselnya ke saku, dan Silvy menarik selimut untuk menutup kepala, dan diturunkan lagi saat Hermawan memanggilnya.
"Ponsel kamu dimana?"
"Di tas."
Hermawan melihat tas selempang di atas sofa dekat jendela, dia mengambilnya, menyodorkannya ke depan Silvy. Dengan wajah badmood, Silvy mengambil ponsel dan charger-nya.
"Saya saja."
Hermawan menyela saat Silvy bergerak hendak turun dari tempat tidur, membantunya mengisi daya ponselnya yang mati.
"Kamu mau pulang?"
"Hm?" Silvy menatap Hermawan yang bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel Silvy.
"Kamu mau pulang?" ulang Hermawan. Ah, lupa, tadi Ani membahas itu, padahal itu rahasia, Silvy berencana pulang diam-diam tanpa memberi tahu siapapun. "Kenapa?"
Silvy memerhatikan wajah Hermawan, tidak ada ekspresi, seperti biasanya.
"Mau pulang aja."
"Berapa hari?"
Silvy mengernyit, tidak punya pekerjaan dan rencana pernikahannya batal... Silvy tidak punya rencana kembali, kecuali jika mendapat pekerjaan baru, itu juga bukan berarti kembali ke Hermawan, apalagi kembali ke rumah Pak Hendrik dan Bu Ulfa. Silvy hanya akan kembali bekerja, pindah kost dan mulai lagi semuanya.
"Tunggu sembuh dulu, pulangnya weekend nanti saya antar."
"Itu... Gak usah, Pak, nanti pulang sendiri aja."
"Ya udah."
Ha? Ya udah? Kok cepet banget nyerahnya?
"Saya ke kamar dulu."
