"Hape kamu belum dicharge lagi, Vy?"
"Kenapa, Ma?"
"Itu lho Bu Ulfa katanya ngechat kamu tapi gak pernah dibales."
Silvy melempar pakan ikan ke kolam dengan malas, baru dua hari padahal, sejak kemarin saat sampai di rumah, Silvy tidur, karena ternyata memang perjalanan jauh membuat tubuhnya lemas, walaupun sudah minum multivitamin.
"Hape aku di tas, belum dikeluarin."
"Baju juga belum kamu beresin?"
"Belum."
"Oh, ya udah, nanti Mama bilang ke Bu Ulfa kamu lagi istirahat."
"Oke, Ma."
Silvy lanjut memberi makan ikan di kolam belakang rumah. Pokoknya sebelum benar-benar fit, Silvy hanya akan malas-malasan, baru cari kerja lagi, kalau tidak dalam kota, Silvy mau coba cari lowongan di kota lain. Yang jauh dari keluarga Pak Hermawan.
"Nak Hermawan juga tadi nelpon, nanyain kamu, katanya gak ngabarin apa-apa dari kemarin."
Tapi bagaimana caranya lepas, kalau dua keluarga sudah saling tahu alamat dan nomor ponsel, saling berbagi kabar tanpa ada rasa canggung....
Silvy menyimpan pakan, beranjak masuk, tiduran di sofa depan televisi.
"Mau ke dokter lagi, Vy?"
"Nggak, aku mau tidur sama minum vitamin aja."
"Takutnya karugrag, suka lebih lama nanti sakitnya."
"Nggak karugrag."
*karugrag; kambuh.
Tapi ternyata Silvy jatuh sakit lagi, sampai harus dilarikan ke UGD karena panasnya mencapai 39°C. Dirawat inap selama tiga hari di rumah sakit.
"Ma," Silvy bicara sambil mengunyah jeruk yang disiapkan Ani, "aku kayaknya nyari kerja ke kota lain lagi deh."
"Hah? Kamu habis nikahan mau pisah rumah sama Nak Hermawan?"
Oh, iya, Silvy lupa, belum ada yang memberitahu orang tuanya kalau rencana nikah ala Pak Hermawan batal. Bu Ulfa dan Pak Hendrik tidak terlihat akan menjelaskan hal itu, Pak Hermawan apalagi. Keluarga mereka bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Soal itu," Silvy merubah posisi duduknya, "Pak Hendrik atau Bu Ulfa gak cerita apa gitu?"
"Cerita apa?"
"Ya cerita apa gitu."
"Ya cerita apa?"
"Gak deh."
"Gak jelas kamu." Ani meletakan jeruk yang baru sebagian dikupasnya, mematikan televisi, "paksain tidur, biar enak besok pulangnya."
Silvy pulang dari rumah sakit dijemput Toto. Hampir satu Minggu setelah keluar dari rumah sakit, Silvy tidak membuka ponsel, menyibukkan diri dengan menonton televisi, memberi makan ikan atau malas-malasan tidak jelas. Silvy 100% pengangguran.
Tidak ada kabar dari Hermawan ataupun orang tuanya, Ani dan Toto juga tidak pernah membahas mereka.
Aneh. Aneh. Aneh banget.
Silvy melihat Toto dan Ani yang duduk berdampingan di sofa, menonton acara quiz Surya Insomnia. Toto dan Ani terlalu tenang, tidak menanyakan kelanjutan pernikahannya, ataupun pekerjaannya.
Kan seharusnya aneh ya anak gadisnya pulang kampung, mana gak ngabarin ke keluarga calon besan? Calon besan juga gak ngabarin apa-apa. Ini nikahan lho, bukan acara selametan biasa.
Kok bisa pada santai aja?
