"Ekhem!" dehaman Toto mengagetkan mereka berdua, "makan dulu, Vy, ajak Hermawan."
"Tidak perlu, Pak," tolak Hermawan seraya berdiri, "ini saya baru mau pamit."
"Pamit?" Toto melirik Silvy, "pulang lagi ke Jakarta?"
"Iya, Pak."
"Sekarang?"
"Betul, Pak."
Toto melirik Silvy lagi yang masih diam saja, dengan sebal, Toto pura-pura terbatuk, baru saat itu Silvy mengangkat kepalanya, tanpa menunggu Toto langsung memberi sandi morse dengan matanya.
"Apa? Bapak mau minum?"
Toto menghela napas berlebihan, seolah lelah punya anak kayak Silvy, "makan dulu, baru pulang."
"Tapi, Pak."
Toto melengos, masuk rumah.
"Kayak dumb and dumber mereka, eh apa itu yang kata anak zaman sekarang, Pak?"
Silvy melirik Hermawan yang juga mendengar perkataan Ani. Tobat, punya orang tua gak bisa banget nahan komentar.
"Silvy kayak bukan anak kita," komentar Ani lagi, "apa dulu kita mungut ya? Mama lupa...."
Bisik-bisik keras Ani perlahan tidak terdengar, sepertinya sudah menjauh dari jendela teras.
"Ayo makan, Pak," kata Silvy sebal, "biar pinter."
Hermawan berdeham malu, mengikutinya masuk rumah. Suasana rumah keluarga Toto penuh dengan nuansa bersahaja, tipe rumah yang sudah ditinggali lama, turun-temurun dari jaman buyut, semua furniturnya juga, dari mulai kursi, lemari, hiasan rak dan bingkai foto, semua terlihat berumur lama yang masih dirawat dengan baik.
Hidangan yang disajikan juga tidak bisa dibilang mewah, namun mencakup semua standar empat sehat lima sempurna, paket lengkap dan sehat.
"Bisa makan ikan asin?"
Hermawan yang baru duduk mengangguk, "bisa, Pak."
Ani mengambilkan nasi untuk Toto dan dirinya sendiri, kemudian menyerahkan sendok nasi pada Silvy, memberi kode agar mengambilkan nasi untuk Hermawan.
Masih dengan raut sebal, Silvy mengambil sendok nasi, menyendok satu sendok penuh, menambahkan sayur, ikan asin, kerupuk dan lalapan ke piring, baru ditaruhnya di depan Hermawan.
"Makan yang banyak, Pak, biar gak bodoh."
Silvy bertukar tatap dengan Ani yang tidak tergoda untuk membalas sindiran anaknya.
Watados banget punya orang tua.
Seperti sudah bisa ditebak, Hermawan makan dengan lahap, menghabiskan nasi di piringnya lebih cepat dari semua yang duduk di meja makan. Lima jam di perjalanan tanpa istirahat dan melewatkan makan siang di rumah Broto, beruntung perutnya tidak bersuara selama duduk di teras tadi.
"Nambah, Pak?"
"Tidak perlu," tolaknya.
Hermawan duduk dengan tangan terlipat di pangkuan, menunggu keluarga Toto yang makan dalam sunyi, tidak ada yang mengobrol, hanya suara piring dan sendok yang beradu. Setelah beberapa saat, Toto juga selesai makan.
Karena makan Ani dan Silvy lama, Toto mengajak Hermawan duduk di teras samping, menonton kolam ikan. Silvy yang perasaannya tidak enak, segera menyelesaikan makannya.
"Simpen aja, Ma, nanti Silvy yang cuci," dia bicara sambil mengunyah, membawa gelas air, terburu-buru belari menuju ruang keluarga, bersembunyi di balik gorden untuk menguping.
