(17)

268 28 6
                                        

"Kejegal terus, Wan," kata Broto yang duduk di samping Adam.

"Biasa, belum panas," jawab Hendrik.

Hermawan berdeham, berusaha tidak tergoda sindiran Bapaknya.

"Sudah lah," Wicak berdecak sombong, "tidak perlu saling provokasi, juara dua dan tiga tidak ada bedanya. Betul tidak, Jang?"

"Betul, Pak," Jang Agus cengengesan di samping Wicak, menonton Adam dan Hermawan mewakili Broto dan Hendrik memperebutkan juara dua dan tiga.

Mereka berkumpul di rumah Broto, melakukan final tanding catur dua lawan dua.

Helaan napas panjang menarik perhatian mereka, Diana menarik satu kursi, duduk di samping Jang Agus.

"Tante Ulfa nelpon, nanyain Om Hendrik."

"Nelpon?" tanya Hendrik, seraya mengecek ponselnya, "kok nelponnya gak ke Om?"

"Tante Ulfa bilang, kalo lagi pada main catur pasti gak akan angkat telponnya, jadi pake telpon rumah."

"Oh, iya juga," Hendrik terkekeh, "makasih, Di, nanti Om telpon balik Tante Ulfa."

"Skak mat," ujar Adam, mengagetkan Hendrik.

"Kalah?" tanyanya tidak percaya, perasaannya saat bicara dengan Diana jalan raja milik Hermawan masih lancar.

"Mau bagaimana lagi," Hermawan bicara tanpa perlawanan, menggeser kursinya untuk pindah duduk ke tempat lain.

"Kayak gak ada semangat anakmu, Hen."

Mereka melihat Hermawan yang mengambil minuman, kemudian duduk agak jauh dari mereka.

"Lagi galau ya, Om?"

Hendrik mendengus geli, "mungkin."

Diana menggeser kursinya, menarik serta Jang Agus, "dipanggil Nadia."

Dia segera berdiri, berlari masuk rumah.

"Yang satu galau, yang satu bucin," keluh Diana, "aku aja yang jadi korban disuruh-suruh di sini."

"Alay kamu," balas Broto, "ambilin pialanya."

"Tuh," Diana mencebik, melirik Adam yang tidak terlihat akan bergerak membantunya.

Adam malah mengedikan dagunya, menyuruh Diana melakukan yang diminta Broto.

"Iya deh."

"Saya saja," cegah Hermawan. yang langsung masuk rumah mengambil kotak berisi piala bergilir dan piagam penghargaan yang mereka buat sendiri. Kelakuan Bapak-bapak banyak acara, weekend bukannya istirahat malah melakukan adu catur.

Mereka merayakan kemenangan Wicak dan Jang Agus yang menjadi juara pertama, kemudian Broto dan Adam, terakhir Hendrik dan Hermawan yang hanya mendapat piagam terima kasih.

Hermawan menjauh setelah mereka semua melakukan cheers. Memilih duduk sendiri di dekat meja makanan, mengecek ponsel.

Sudah seminggu Silvy pulang kampung, tidak ada kabar, pesan yang dikirimnya pun hanya centang satu. Hermawan pernah mencoba menelpon Ani, menanyakan kabar Silvy, tapi hanya dijawab sedang istirahat, ponselnya tidak diberikan pada Silvy, Hermawan seperti tidak diberi kesempatan untuk bicara dengannya.

Ulfa juga sudah menelpon Ani, karena ternyata sama, Silvy tidak membalas semua pesan yang dikirim Ulfa, dan jawaban Ani juga sama, Silvy sedang istirahat. Ulfa seperti tidak diizinkan bicara dengan Silvy. Atau mungkin Silvy yang menolak bicara dengannya, dengan keluarganya.

Ketakutan dan kecurigaan Hermawan sepertinya benar. Keinginan mendadak dan diam-diam Silvy mencurigakan. Hermawan pikir itu berkaitan dengan penolakan Silvy terhadap dirinya.

MengikatmuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang