(22)

331 31 6
                                        

Bukannya menjawab, Hermawan malah menunduk, menutup wajah dengan satu tangan, membuat Silvy bingung, sebegitu terharunya kah Hermawan diajak pacaran.

"Bapak..." Silvy menggoyang tangannya yang bertumpu pada tangan kursi, "...Bapak kenapa?"

Hermawan masih tidak menjawab. Silvy jadi semakin gelisah. Dia turun dari kursi bertumpu di lutut di depan Hermawan, mengguncang pundaknya pelan.

"Pak... Bapak nangis?" Silvy menunduk, mencoba melihat wajah Hermawan, "Pak?" Ada suara seperti terisak saat Silvy semakin mendekat, setelah diperhatikan lebih dekat, tubuh Hermawan juga terlihat sedikit bergetar. "Bapak!" Silvy makin panik, "Bapak jangan nangis! Aduh."

Silvy menepuk-nepuk pudaknya, melihat ke sana-kemari, tidak ada orang lain di kamar yang bisa dimintai tolong untuk menghentikan tangisan Hermawan.

"Bapak terharu banget sampai nangis?"

Silvy sudah akan ikut menangis saat Hermawan mengangkat wajahnya, menatap Silvy.

Raut Hermawan berbeda, matanya berbinar jenaka, bibirnya terlipat.... Silvy menyadarinya, itu bukan nangis! Hermawan tertawa!

"Bapak... Ketawa?"

Lipatan bibir Hermawan semakin mengetat, kentara menahan tawa.

Raut Silvy menjadi sebal, "Bapak ngetawain ajakan saya? Kalau Bapak gak mau...."

Sebelum rasa khawatir Silvy berubah menjadi kekesalan, Hermawan segera meraih tangannya, memeluknya di dada, menggelengkan kepala.

"Tidak apa-apa, saya mau," katanya setelah terlihat berusaha keras melenyapkan tawa di mulutnya.

"Tapi Bapak kok ketawa?"

"Tidak apa-apa."

Silvy mengerucutkan sedikit bibirnya, masih tidak terima tapi tidak bertanya lagi, hanya membalas pelukan Hermawan.

Sampai beberapa saat kemudian...

"Bapak!" Silvy memekik, mendorong Hermawan hingga terjengkang, menatapnya dengan mata terbelalak.

"Ada apa? Kenapa?" tanya Hermawan yang jadi ikut panik.

"Aku lupa minta Mamang ojek nunggu di luar!"

Hermawan belum bicara, Silvy sudah berlari keluar kamar, berlari sembarangan, saat hendak melewati meja pendaftaran, dia tersenyum malu melihat dua karyawan bagian pendaftaran juga menatapnya.

Silvy segera keluar dari sana, melihat ke sana, kemari, mencari Mamang ojek yang ternyata masih duduk di samping bangunan, berteduh dari hujan yang sudah mereda.

"Mang!"

"Neng," Mamang ojek segera berdiri, "sudah beres?"

Silvy menghampirinya, mengangguk, "udah, maaf nunggu lama, Mang."

"Pulang sekarang, Neng?"

"Bentar, Mang," Silvy melihat ke belakang, melihat Hermawan mengikutinya keluar bangunan, menghampirinya dan Mamang ojek. "Pak," katanya setelah Hermawan berdiri di hadapannya, "saya pulang dulu."

Hermawan mengeluarkan dompet, menyelipkan uang pada tangan tukang ojek yang terlihat terpukau dengan jumlah yang diberikannya. Mengerti dengan maksudnya, Mamang ojek mengangguk berterima kasih, segera mengenakan helm dan menyalakan motornya, mengangguk sekali lagi kemudian pergi.

Lah...

Silvy yang melihat itu melongo.

"Ayo, saya antar pulang," kata Hermawan, meraih tangan Silvy, menggenggamnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 23, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MengikatmuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang