(19)

234 21 6
                                        

Dari gugup menunggu Toto mengangkat panggilannya, kemudian menjadi letupan kebahagian saat mendengar suara Silvy, kemudian pada raut bingung. Semua bertukar-tukar dengan cepat di wajah Hermawan.

Dia tergugu, sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya untuk menyela rentetan tuduhan dan perkataan kasar yang dilontarkan Silvy... Dan kemudian panggilan diputus.

Hermawan kehabisan kata, menatap layar ponselnya yang meredup kemudian gelap, menunjukan pantulan wajahnya yang terpaku.

...apa itu.

"Kenapa, Wan?"

Hermawan menoleh, Hendrik berdiri di sampingnya, memegang gelas jus, ikut melihat layar ponselnya yang redup.

"Gak apa-apa, Pak."

Dia segera mencari tempat duduk, dengan sangat fokus mengetik pesan yang segera dikirimnya.

Silvy, ini saya, Hermawan, saya tidak ada niatan nipu kamu.
Saya bisa jelaskan, tolong diangkat dulu telepon saya, atau balas dulu pesan saya, kita bicarakan.

Hermawan menunggu, tidak ada balasan juga, dengan gusar dia segera berdiri, berjalan cepat masuk ke rumah, melewati Diana dan Nadia yang sedang bergosip di ruang santai, melongo melihatnya berderap seperti kereta api mesin tanpa rem, berjalan keluar dari rumah ke parkiran.

"Sibuk banget pebisnis," Diana dan Nadia bertukar pandang, mengangkat bahu kemudian lanjut bergosip.

Hermawan mengendarai mobilnya keluar dari area perumahan, menuju jalan besar, jalanan macet akhir pekan tidak mengurangi fokus Hermawan, dengan sabar melewati tiap inci jalan raya menuju tol luar kota. Sampai akhirnya mobil Hermawan bisa lolos dari jerat macet, melewati gerbang tol, melaju cepat tanpa hambatan.

Ponsel yang diletakkannya di phoneholder berdering, nama Hendrik muncul di layar.

"Astaga!" Hermawan berseru seraya menggeser angkat telepon. Hendrik pasti ngomel, dia lupa, mereka menggunakan satu kendaraan ke rumah Broto, dan pergi begitu saja tanpa memberitahunya.

"Kamu dimana?"

"Jalan."

"Jalan mana?"

"Jalan tol."

Hermawan mendengar Hendrik menarik napas dalam.

"Jalan tol kemana? Gak ngomong, gak apa, nelantarin Bapak di rumah Om Broto. Bapak cariin, kirain mobil ada yang curi, bikin heboh semua orang. Kualat kamu bikin Broto hampir kena jantung lagi, untung gak apa-apa, untung Diana dan Nadia ngasih tahu kamu pergi. Kemana kamu? Galau sendiri, ribet sendiri, pergi sendiri. Ngejar Silvy ke Lembang kamu?!"

"Iya."

"Oh," ledakan Hendrik seketika mereda, "ya udah."

Sambungan telepon juga diputus. Hermawan kembali fokus ke jalan, berkendara tanpa henti sampai melewati pintu tol terakhir, masuk ke jalan yang lebih padat penduduk, kemudian berkendara cukup jauh sampai ke daerah yang jarang rumah, hanya perkebunan di kiri dan kanan.

Setelah lima jam perjalanan tanpa henti, mobil Hermawan berhenti di depan rumah sederhana satu tingkat dengan pagar setinggi pinggang, masih gaya lama, dengan halaman depan cukup luas dengan garasi mobil yang tertutup.

Hermawan melihat jam di ponsel, sudah senja, lampu halaman juga sudah menyala.

Ragu-ragu Hermawan turun dari mobil, berdiri di depan pagar, dirinya tidak berpikir panjang tadi, bagaimana kalau sekarang keluarga Silvy sedang istirahat, dan apa yang sebenarnya harus dijelaskan... Kan Silvy yang menolak pernyataan cintanya, Silvy yang menolak lamarannya, Silvy yang tidak mau menikah dengannya....

MengikatmuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang