Hermawan membayar pada pemilik toko, membawa bungkusan kantong kresek hitam dan putih berisi baju dan baju dalam untuk ganti, dia juga membeli kaos kaki untuk tidur. Menggunakan payung yang selalu dibawanya dalam mobil, Hermawan kembali ke parkiran, masuk ke mobil, menyalakan lagi aplikasi peta digital yang menunjukan lokasi staycation yang dimaksud Toto.
Jaraknya hanya sepuluh menit dari area pasar. Begitu sampai, Hermawan langsung parkir di depan gedung pendaftaran, dia tidak lagi menggunakan payung, hanya berlari kecil, menyebabkan rambut dan pundaknya sedikit basah.
"Selamat datang."
Hermawan mengangguk pada dua orang berseragam yang berdiri di balik meja setinggi dada orang dewasa, namun perhatiannya segera teralih pada gadis yang berdiri membelakanginya di depan meja pendaftaran.
Dia tidak mungkin salah lihat.
Dari tingginya, rambutnya, punggungnya. Hermawan tidak mungkin salah orang.
"Silvy?"
Gadis itu menoleh. Benar. Itu Silvy tapi....
Wajah Silvy kusut, hidungnya merah, matanya berkaca-kaca dan rumit.
"Bapak?" Silvy terpaku sejenak, namun sedetik kemudian berseru, "Bapak!" dan detik berikutnya berlari menabrak dadanya, menangis.
Tatapan bingung Hermawan beradu dengan dua staf pendaftaran yang menonton. Sadar dengan kesopanan, mereka segera pergi ke balik pintu, memberi Hermawan dan Silvy ruang.
Hermawan merangkul pundak Silvy, menepuk pelan belakang kepalanya, namun bukannya reda, tangis Silvy malah menjadi.
"Kamu kenapa?"
"Bapak! huhuhu, Bapak darimana?!" tanyanya tanpa berhenti menangis. "Aku takut Bapak nyasar, aku takut Bapak salah jalan, aku takut Bapak nyungsep ke kampung sebelah, aku takut Bapak kedinginan sendirian di jalan!"
Hermawan menepuk-nepuknya pelan, sudah akan menenangkannya lagi saat Silvy kembali bicara nyerocos seperti kereta api mesin tanpa rem.
"Aku takut Bapak pindah hati ke Mbak Gladys!"
Hermawan terpaku, tidak yakin dengan cepatnya perpindahan topik tangisan Silvy.
"Aku takut beneran batal nikah sama Bapak! Aku takut... Aku takut...."
Silvy sesenggukan, "aku takut Bapak mikir rencana aku sama Bu Ulfa beneran. Aku takut huhuhu."
Hermawan mengernyit, "rencana apa?"
"Rencana aku pura-pura nolak Bapak," Silvy nangis sampai cegukan, "aku... Aku... Huhuhu."
Hermawan memegang kedua pundak Silvy, hendak menjauhkannya sedikit agar bisa bicara dengan benar, tapi Silvy malah semakin menyurukkan wajah ke dadanya, kedua tangannya memeluk punggung Hermawan kuat, tidak mau dijauhkan.
"Kita bicara di tempat lain ya?"
Silvy menggeleng kuat, kukuh memeluknya.
"Saya pesan dulu kamar?"
Silvy menggeleng lagi.
Hermawan memeluknya, memberi Silvy waktu untuk tenang. Namun suara orang mengobrol dan tertawa di belakang mereka membuat Hermawan terpaksa membawa Silvy berjalan tanpa melepaskan pelukannya.
Dia menekan counter bell.
Petugas pendaftaran segera datang. Hermawan memesan kamar untuk satu malam.
"Ayo, Vy."
Sebelum menarik perhatian orang lain. Hermawan membawa Silvy ke lantai dua ke kamar yang dipesannya. Dengan agak memaksa, Hermawan mendudukkan Silvy di kursi, sementara dia meletakkan semua bawaannya di meja.
