78.

137 3 0
                                        

Dengan mengucap basmalah dalam hati Devian mulai menjelaskan tentang awal mula taruhan itu terjadi hingga peristiwa di taman belakang sekolah yg membuat Arunika menjadi salah paham, dia menjelaskan semuanya tanpa ada yg di kurangi maupun di tambah.

Devian juga menyalakan rekaman suara Rio enam tahun yg lalu saat mengajaknya taruhan, rekaman itu masih tersimpan rapi di handpone'nya bahkan Devian juga memiliki salinan di laptopnya, untungnya dulu Ricko sempat merekam pembicaraan Rio yg menantangnya dan mengancam akan merusak Arunika jika Devian tidak menurutinya, dan sekarang itu bisa menjadi bukti bahwa Devian memang melakukan itu semata - mata ingin menolong Arunika saja bukan untuk mempermainkan ataupun menyakiti hati Arunika.

Awalnya saat mengetahui Ricko merekam suara Rio itu Devian menegurnya karena dianggapnya perbuatan Ricko gabut, namun Ricko memaksa agar Devian mau menyimpan rekaman itu di ponselnya dan tidak boleh di hapus karena Ricko bilang suatu saat rekaman itu akan berguna untuknya, dan sekarang terbukti rekaman itu memang sangat bermanfaat untuknya.

Tuan Bagas dan Raditya yg mendengar rekaman 6 tahun yg lalu itupun terkejut, apalagi Raditya yg memang tau betul bagaimana kelakuan brengsek Rio semasa remaja, tangan Raditya mengepal erat dengan dadanya naik turun menahan amarah yg akan meledak, kedua anak dan ayah itu tidak menyangka ternyata alasan Devian menjadikan Arunika taruhan itu untuk hanya melindunginya.

"Maaf Dev om tidak tau jika alasan kamu melakukan taruhan itu untuk meindungi putri om, dan terima kasih karena berkat kamu Arunika bisa terbebas dari lelaki macam Rio". Ujar Tuan Bagas dengan tulus. Tuan Bagas merasa tidak enak hati telah berprasangka buruk pada Devian sebelumnya.

Sedangkan Raditya masih bungkam dan hanya menyimak saja.

"Tidak apa - apa Om, Devian disini juga salah karena saat itu tidak langsung memberitahu alasan yg sebenarnya dan malah menaruh hati pada Arunika". Devian menjeda kalimatnya, lalu menatap Tuan Bagas dan Raditya bergantian, "Tapi Devian berani bersumpah jika Devian tidak pernah menduakan Arun atau berpaling hati pada yg lainnya seperti yg dia lihat sekilas saat di taman belakang sekolah dulu, karena sampai saat ini hati Devian masih milik Arunika seorang". Lanjutnya lagi.

Tuan Bagas menganggukkan kepalanya, dia percaya pada ucapan Devian yg berkata jujur karena dapat di lihat dari sorot matanya yg terpancar kesungguhan dan ketulusan untuk putrinya seorang.

Namun Raditya sepertinya tidak puas dengan alasan yg di berikan Devian karena Raditya tau jika dulu Devian beberapa kali pernah mengabaikan Arunika dan lebih memilih jalan bersama Clarissa.

Devian yg paham bila Raditya masih meragukan jawabannya pun melanjutkan kata - katanya lagi, "Memang dulu aku pernah melakukan kesalahan dengan mengabaikan Arunika dan memilih jalan bersama Clarissa tapi aku melakukan itu juga ada alasannya". Ucap Devian lagi. Lalu Devian menceritakan alasannya kenapa lebih memilih menemani Clarissa pergi dari pada bersama Arunika disaat malam hari, itu karena Clarissa memiliki phobia terhadap gelap. Devian juga menceritakan jika dia hanya menganggap Clarissa sebagai saudara adik sepupu saja tidak lebih meskipun kenyataannya mereka hanyalah saudara jauh.

"Aku terima alasanmu, tapi aku belum memberimu restu untuk menjalin hubungan dengan Arun bila kamu belum membuktikan padaku dan semua orang kalo kamu benar - benar mencintai Arunika seorang". Raditya membuka suara. "Karena aku gak mau bila kejadian dulu itu terulang kembali, kamu lebih memprioritaskan orang lain dari pada kekasihmu sendiri". Sindirnya.

Tuan Bagas yg mendengar ucapan putranya itu berniat menegurnya namun belum sempat membuka suara, Devian meyakinkannya dengan tersenyum tipis kearahnya. Devian setuju dengan permintaan Raditya karena menurutnya cinta itu memang butuh pembuktian dan pengorbanan bukan hanya terucap manis di mulut saja. Lagian Raditya berkata seperti itu karena memang dia yg salah disini.

Devian menanggapinya dengan mengangguk cepat, "Baiklah aku akan buktikan pada kalian semua sebesar apa cintaku pada Arunika dan aku takkan mengulangi hal yg sama seperti dulu". Tegas Devian. "Jika aku mengingkarinya kamu bisa menghukumku dengan apapun itu aku menerimanya". Lanjutnya lagi dengan penuh keyakinan.

Tuan Bagas melengkungkan bibirnya keatas saat mendengar ucapan tegas Devian, dia semakin yakin dengan keputusannya untuk mempercayakan Arunika pada pemuda di depannya ini apalagi dia juga mengenal baik pribadi Devian meskipun Devian sebelas dua belas dengan Raditya yg dingin dan datar saat bersama dengan orang asing.

"Kami tunggu pembuktiannya Dev, semoga kamu tidak mengecewakan kepercayaan yg om berikan padamu". Kata Tuan Bagas sambil menatap Devian penuh makna.

Devian menganggukkan kepalanya lalu menatap Raditya dengan tatapan serius, "Dia kembali". Ucap Devian.

Raditya mengernyitkan dahinya bingung mendengar ucapan Devian.

"Rio kembali, kemarin dia muncul di hadapanku dan Arun waktu kita makan di restoran". Jelas Devian.

"Kapan?". Tanya Raditya singkat.

"Waktu kamu masuk rumah sakit". Jawab Devian, "Dan sepertinya dia kembali dengan misi yg sama yaitu terobsesi dengan Arunika". Lanjut Devian sambil mengeraskan rahangnya dengan tangan terkepal erat. Devian marah saat mengingat tatapan mesum yg Rio tujukan pada kekasihnya. Ingin rasanya saat itu Devian membogem wajah buaya darat di depannya jika tidak mengingat dia sedang berada di tempat umum.

"Shit.. Awas saja jika bedebah itu berani menyentuh saudara kembarku, akan aku patahin tangannya". Umpat Raditya penuh emosi.

Raditya menatap Devian intens, ada banyak kata yg tak bisa terucap lewat sorot mata itu namun Devian bisa mengerti maknanya dan tau apa yg harus di lakukannya. Lagi pula Devian memikirkan jika dia berada di posisi Raditya tentu tidaklah mudah karena tidak bisa berada di dekat kembarannya untuk menjaganya 24 jam dan tentunya itu membuat Raditya resah dan khawatir.

"Aku bisa jaga Arun saat di kantor dan akan ku pastikan dia aman dalam pantauan selama bersamaku". Devian menjawab keresahan Raditya.

Raditya mengangguk setuju, mungkin bila dia berbagi tugas menjaga Arunika bersama Devian akan lebih mudah, lagian Devian juga pandai bela diri sama seperti dirinya, "Aku setuju, tapi aku akan tetap menempatkan anak buah yg akan mengikuti kemanapun Arun pergi dan memantaunya dari jauh". Kata Raditya yg langsung di setujui oleh Devian.

"Kenapa kalian berunding sendiri tanpa melibatkan saya?". Tanya tuan Bagas menatap Raditya dan Devian bergantian, "Saya juga ingin ikut serta melindungi Arunika". Imbuhnya lagi.

"Biar kami saja Yah". Jawab Raditya yg mendapat anggukan setuju dari Devian. "Percaya pada kami yg akan melindungi Arun dengan segenap jiwa raga". Ucap Raditya serius.

"Baiklah saya percaya pada kalian, tapi kalo kalian perlu bantuan saya akan selalu siap kapanpun". Ujar tuan Bagas.

Devian dan Raditya mengangguk setuju.

***

Di tempat lain Rio sedang menyusun rencana besar dengan partnernya yg akan dia lakukan pada esok hari untuk membebaskan Miranda dari penjara. Saat ini keduanya sedang berada di ruangan yg beberapa hari ini biasa mereka tempati untuk berdiskusi. Mereka juga diam -diam memantau Arunika dan Devian lewat mata - mata yg mereka selipkan diantara orang terdekat Devian dan Arunika.

"Gue yakin rencana besok akan berjalan lancar". Ucap pria yg menjadi partner Rio dengan senyum miring yg tercetak di bibirnya.

"Bagaimana kalo kita tidak berhasil dan malah berakhir di penjara bersama dengan Miranda?". Tanya Rio ragu akan rencana partnernya yg lumayan beresiko.

"Lo ngeraguin gue?". Tanya partner Rio. Partner Rio itu sangat tidak suka bila kinerjanya di ragukan apalagi belum di laksanakan.

"Bukan begitu, gue cuma gak mau hanya gara - gara perempuan itu kita jadi mendekam di penjara". Jelas Rio yg sebenarnya malas membebaskan Miranda jika dia tidak butuh perempuan itu untuk menjalankan rencananya. Rio benci dengan Miranda yg banyak maunya dan matre.

"Lo tenang aja, gue pastiin polisi tidak akan mencurigai kita sebagai pelaku pembebasan Miranda". Kata partner Rio menenangkan.

"Oke gue percaya sama lo, dan kita akan berpesta setelah rencana kita berhasil". Ucap Rio yg sudah memikirkan ini jauh - jauh hari. "Bagaimana deal?". Tanya Rio menaik turunkan alisnya.

"Deal, jangan lupa bayaran yg lo janjikan kemarin".

"No problem".

My CEO is My Ex (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang