Setelah menempuh setengah perjalanan Rio baru sadar jika mobil yg di tumpanginya saat ini tengah di ikuti oleh mobil hitam di belakangnya, walaupun jaraknya cukup jauh tapi Rio bisa melihat jika mobil hitam itu sedari tadi mengikuti mobilnya. Entahlah yg jelas Rio meminta anak buahnya untuk mengecoh mobil di belakangnya agar mereka bisa lolos. Berulang kali orang kepercayaan Rio menambah laju kecepatan mobilnya tapi mobil hitam di belakangnya dengan gesit berhasil menyusulnya, dan aksi kebut - kebutan itu terjadi sampai setengah jam lebih, untung saja di jalanan tampak lenggang sehingga tidak membahayakan pengendara lainnya.
Saat berada di pertigaan, mobil yg Rio dan kawan - kawannya tumpangi mencoba lagi mengecoh mobil hitam di belakangnya dan berhasil, mobil hitam itu menjadi salah arah saat berbelok, Rio dan kawan - kawannya menjadi lega karena mereka berhasil lolos. Namun ternyata kelegaan itu tidak bertahan lama setelah terdengar bunyi letusan ban dan di iringi decitan rem dari mobil yg di tumpanginya.
Rio menatap orang kepercayaannya dengan tajam, dia hampir terbentur dashbord mobil jika tidak menyalakan air bag.
"Maaf boss sepertinya ada yg menembak ban mobil kita". Kata orang kepercayaan Rio yg saat ini berada di balik kemudi.
Rio mengerutkan kening dan menatap sekitarnya, terlihat gelap gulita dan sunyi.
"Jangan mengada - ngada kamu ayo cepat periksa dan cari bengkel di dekat sini". Kata Rio menyuruh orang kepercayaannya untuk memeriksa keadaan di luar, "Kalian berdua juga ikut keluar". Tunjuknya pada dua orang kepercayaannya yg duduk di belakang.
Kedua orang itu bergegas keluar menyusul kawannya tadi, alangkah kagetnya dua orang itu melihat kawannya yg sudah tergeletak di tanah tidak sadarkan diri.
Salah satu dari mereka menghampiri Rio yg berada di dalam mobil dan yg satunya mengecek keadaan kawannya yg pingsan.
Tok tok tok
Salah satu orang kepercayaan Rio mengetuk jendela mobil di samping Rio, Rio menurunkannya sambil menatapnya dengan tajam.
"Apalagi.. Bukannya saya menyuruh kalian mencari bengkel di sekitar?, kenapa sudah kembali". Tanya Rio yg geram melihat orang kepercayaannya mengganggu acara istirahatnya. Ya, Rio memutuskan untuk memejamkan matanya sebentar di dalam mobil sambil menunggu orang kepercayaannya memperbaiki mobil yg di tumpanginya.
"Bu-bukan gitu boss, tapi i-itu...". Ucapnya terbata sambil menunjuk ke belakang.
Rio yg penasaran dengan yg di ucapkan orang kepercayaannya pun ikut keluar dari mobil, Rio berjalan di belakang mengikuti orang kepercayaannya menemui kawan yg lainnya, dia terkejut melihat salah satu orang kepercayaannya jatuh pingsan, dengan segera Rio menghubungi partnernya yg masih berada di dalam mobil untuk datang ke tempatnya.
"Cepat keluar, kita dalam bahaya". Kata Rio yg saat ini berada di tengah - tengah bersama ketiga orang kepercayaannya, mereka terkepung.
"Kalian siapa?, jangan macam - macam atau gue akan habisi kalian semua". Ancam Rio yg setelahnya mendengar bunyi tembakan dari arah mobilnya, partnernya datang di waktu yg tepat. Karena tembakan dari partnernya mengenai salah satu dari lawannya, orang - orang yg tadi mengepungnya berpencar dan terjadilah baku hantam.
Karena Rio dan kawan - kawannya berjumlah sedikit dan mereka juga tidak begitu ahli dalam ilmu bela diri akhirnya dengan mudah bisa di takhlukkan oleh orang - orang yg memakai baju hitam alias orang suruhan sahabat Raka yg juga merupakan intel rahasia.
"Geledah mobil mereka, seret wanita itu kehadapan saya". Ucap seorang pemimpin dari mereka yg bernama Robbi, sahabat Raka.
"Maaf boss sepertinya wanita itu berhasil kabur saat meihat kita berkelahi tadi". Kata anak buahnya yg baru saja mengecek mobil yg di tumpangi Rio dan kawan - kawannya. Sedangkan saat ini Rio dan kawan - kawannya di masukkan kedalam mobil patroli, tidak lupa juga tangan mereka langsung di borgol dengan mulut di lakban.
"Kalian berempat telusuri jalan ini saya yakin wanita itu masih belum jauh dari sini, dan untuk yg lainnya ikut saya kembali ke lapas". Ucap Robbi pada anak buahnya yg langsung di angguki oleh mereka.
Di tempat yg tidak jauh dari TKP, Miranda berjalan tertatih - tatih sambil menyeret kakinya mencari tempat persembunyian, karena memang kondisinya belum sepenuhnya pulih, kaki yg seharusnya tidak di paksakan untul lari akhirnya mengalami pembengkakan kembali.
Tadi saat mendengar pintu mobil di tutup dengan keras dan mendengar bunyi tembakan, Miranda yg tadinya tidur pun terbangun, dia menurunkan kaca mobil di sampingnya untuk mengetahui apa yg sedang terjadi di luar sana.
Miranda kaget sekaligus takut jika sampai orang - orang itu menangkapnya kembali dan memasukkannya ke dalam penjara, akhirnya dengan memaksakan tenaganya Miranda mengendap - endap keluar dari mobil Rio, setelah berhasil keluar Miranda berlari sebisa mungkin.
Saat ini dia tengah bersembunyi di semak - semak yg tidak jauh dari mobil Rio berada. Miranda juga tau jika ada empat orang yg sedang berjalan kearahnya, untungnya tadi sebelum dia keluar dari mobil dia sempat memakai jaket hitam milik Rio untuk membalut tubuhnya yg kurang fit dari dinginnya malam.
Miranda menghela nafas lega saat keempat orang berbaju hitam itu sudah berjalan melewatinya, dia memijat kakinya yg terasa bengkak, dia berniat beristirahat sebentar untuk mengumpulkan tenaganya kembali.
Setengah jam kemudian Miranda keluar dari persembunyiannya dan berjalan melawan arah dari tempatnya yg akan di tuju tadi, saat sampai di pertigaan Miranda bertemu dengan seorang wanita paruh baya. Miranda menghampiri wanita paruh baya itu dan berniat meminta pertolongan pada wanita itu.
"Maaf bu mengganggu, apa saya bisa meminta tolong pada ibu?". Tanya Miranda lirih. Miranda sudah hampir kehabisan tenaganya, karena sejak tadi siang perutnya belum terisi makanan apapun.
"Bisa nak". Wanita paruh baya itu menelisik penampilan Miranda yg banyak luka lebam di wajahnya pun kaget dan iba, "Ya ampun nak apa yg terjadi padamu, ayo ke rumah ibu biar nanti kita bisa obati lukamu". Lanjutnya sambil merangkul bahu Miranda.
"Terima kasih bu, maaf merepotkan". Kata Miranda.
Mereka berjalan beriringan dengan Miranda yg berada di dalam rangkulan wanita paruh baya itu.
Sepuluh menit kemudian, Miranda dan wanita paruh baya itu akhirnya tiba di depan rumah bercat putih yg berukuran minimalis. Rumah itu hanya di tinggali oleh wanita paruh baya itu sendiri, sedangkan kedua anaknya tinggal di luar kota bersama cucu dan menantunya.
Wanita paruh baya yg bernama Siti itupun mengajak Miranda masuk dan mempersilahkannya duduk, sedangkan ibu Siti pergi ke dalam untuk mengambil obat - obatan serta minuman untuk Miranda, untungnya tadi sebelum benar - benar keluar dari lapas Miranda sempat mengganti bajunya dengan baju rumahan sehingga tidak membuat ibu Siti curiga jika dia adalah tahanan yg sedang kabur.
"Silahkan di minum dulu nak, maaf adanya hanya teh hangat". Kata ibu Siti sambil menyuguhkan minuman untuk Miranda.
"Terima kasih bu". Ucap Miranda, lalu menatap ibu Siti dengan tatapan serius, "Maaf bu apa boleh saya menginap disini untuk malam ini saja?, besok pagi saya akan mencari kendaraan untuk mengantar saya pulang". Miranda mengutarakan niatnya.
"Tentu saja boleh, ibu akan senang jika beberapa hari ke depan kamu tinggal bersama ibu". Ujar ibu Siti pada Miranda.
Ibu Siti berharap Miranda mau tinggal di rumahnya untuk sementara waktu menemaninya.
"Terima kasih bu, dan maaf jika kehadiran saya merepotkan". Kata Miranda dengan lembut. Miranda sangat senang dia mendapatkan tempat tinggal, setidaknya dia dapat bersembunyi dengan aman sampai kesehatannya pulih kembali.
Kruyyuukk kruyyuuukk
Perut Miranda berbunyi, wajahnya memerah menahan malu sambil menundukkan wajahnya.
"Kamu belum makan?, sebentar ya ibu panaskan dulu lauknya nanti kita makan bersama - sama". Kata ibu Siti yg beranjak dari duduknya menuju dapur.
Selang beberapa menit kemudian ibu Siti kembali ke depan dan mengajak Miranda untuk makan malam bersama. Awalnya Miranda menolak karena tidak mau merepotkan terlalu banyak tapi ibu Siti memaksanya. Akhirnya mereka makan malam berdua dengan khidmat.
KAMU SEDANG MEMBACA
My CEO is My Ex (Tamat)
Teen FictionBagaimana jadinya jika mantanmu adalah CEO di tempatmu bekerja, apalagi dia yg telah menorehkan luka di hatimu dan membuat kepercayaanmu hilang terhadap lelaki, hingga menganggap semua lelaki itu sama, seperti pepatah "Habis manis sepah di buang". ...
