84.

105 2 0
                                        

Saat Tika berjalan keluar dari taman, dia mendengar teriakan seseorang yg samar - samar memanggil nama Arunika, dengan segera Tika menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang dan ke kanan kiri. Tidak ada seorang pun di taman itu, namun Tika melihat ada mobil yg tidak jauh dari taman yg dia datangi tadi baru saja melaju ke jalan raya, sepertinya mobil itu tadi berhenti di taman itu sejenak.

"Apa gue salah dengar ya". Gumamnya sambil menggaruk tengkuknya yg tidak gatal, "Lagian ngapain Arunika ada disini, dia kan sedang libur". Lanjutnya lagi lalu mengedikkan bahunya dan melanjutkan langkahnya menuju lobby perusahaan.

Sedangkan Arunika yg berada di dalam mobil melihat jika Tika sempat berhenti dan menoleh ke belakang mencari suara yg memanggilnya pun menjadi ketar - ketir, untung saja Arunika dengan cepat masuk ke dalam mobil Rania dan meminta Rania bergegas menjalankan mobilnya. Setelah dia melihat Tika melanjutkan langkahnya kearah perusahaan Arunika menghela nafas lega.

"Huft.. Hampir aja". Arunika menghembuskan nafas panjangnya.

"Lo kenapa Run menguntit kayak maling aja". Ucap Rania yg melihat gerak - gerik aneh sahabatnya itu.

"Ck, gara - gara lo gue hampir aja ketahuan sedang menguntit orang". Arunika berdecak kesal.

"Emang siapa sih perempuan yg di taman tadi?". Tanya Rania lagi, "Sepertinya dia bukan perempuan polos seperti penampilannya". Lanjutnya.

Arunika yg mendengar sahabatnya berkata seperti itu langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, melihat raut wajah Rania yg di kiranya bercanda namun ternyata dia serius berkata seperti itu.

"Dia teman sekantor gue, maksud lo bukan perempuan polos, gimana?". Arunika mengernyitkan dahinya.

Arunika tau jika Rania bisa membaca sifat seseorang meski hanya di lihat dari wajahnya, dan Arunika dulu bisa membaca raut wajah Selena juga karena belajar dari Rania.

"Perempuan tadi seperti memiliki maksud tertentu tapi gue gak tau apa, yg jelas lo hati - hati dan jangan terlalu percaya sama dia". Jelas Rania. Feelingnya mengatakan jika perempuan itu memiliki rencana buruk untuk sahabatnya, namun Rania tidak mau secara gamblang mengatakannya kepada Arunika, takutnya Arunika tidak percaya padanya dan malah menjadikannya salah paham. "Udah gak usah di pikirin mungkin hanya perasaan gue aja, mending kita have fun". Lanjutnya lagi saat melihat Arunika tampak merenung. Namun tanpa Arunika dan Tania sadari Rania mengirim pesan kepada seseorang diam - diam.

"Iya Run, yuk keluar". Mereka keluar dari mobil saat sudah tiba di parkiran mall.

Ketiga perempuan cantik itu berjalan bersama menuju eskalator, mereka ingin melihat - lihat dulu siapa tau ada yg ingin di beli.

"Gimana kalo kita beli gelang couple?, disana kayaknya ada gelang couple lucu - lucu deh". Tania memberi ide sambil menunjuk sebuah toko acsesoris yg berada di lantai 1 itu.

"Cuss.. Kita kesana sekarang".

Setelah mendapat gelang yg mereka inginkan, ketiga gadis cantik itu menuju lantai paling atas, mereka ingin menonton film yg sedang hits yg kebetulan saat ini di putar di bioskop.

Saat ini mereka sedang antri karcis dan membeli cemilan sekaligus minuman untuk di bawa masuk ke dalam.

"Gue angkat telepon dulu ya guys". Ucap Rania sambil menggoyang - goyangkan ponselnya dan berjalan menjauh dari Arunika dan Tania.

"Hallo gimana?, apa kalian sudah mendapatkan informasinya?". Tanya Rania to the point pada seseorang di seberang sana.

"Seperti yg Nona minta, semua datanya lengkap sudah saya kirim ke email Nona". Jawab seseorang di seberang sana.

My CEO is My Ex (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang