94.

105 2 0
                                        

Raka menarik masker yg sedari tadi masih di kenakan oleh wanita itu, betapa terkejutnya Raka dan anak buahnya saat melihat wajah wanita di hadapannya ini. Wanita yg hampir dua minggu ini dia dan timnya cari sampai ke tempat terpencil sekalipun.

Ya, wanita yg mencelakai Devian dan menyamar sebagai waiters adalah Miranda. Dua hari yg lalu Miranda mendengar kabar bahwa perusahaan MW Group akan merayakan ulang tahun di sebuah hotel ternama di kota jakarta, Miranda mencari tau informasi di hotel tersebut untuk bisa masuk dan mencelakai salah satu dari mereka, namun Miranda mengalami kesulitan karena penjagaan di hotel sangat ketat. awalnya Miranda hampir putus asa karena dia tidak bisa membalaskan dendamnya tapi saat dia akan beranjak dari tempatnya berdiri, Miranda mendengar pembicaraan dua orang waiters yg saat itu sedang berjalan keluar dari hotel tersebut, dua wanita itu membahas tentang perayaan ulang tahun perusahaan MW Group yg akan di adakan di hotel tempat mereka bekerja dan melihat itu seketika Miranda mendapat ide brilliant, Miranda mengikuti salah satu dari mereka yg saat itu berpisah di persimpangan jalan menuju kost masing - masing, dan gotcha.. Pucuk di cinta ulam pun tiba, salah satu dari wanita itu tinggal di kost yg melewati gang sepi untuk menuju hotel. Miranda tersenyum smirk, dia besok akan kembali kesini untuk melancarkan aksinya sambil menyiapkan peralatan untuk mencelakai Devian atau Arunika dan kalau bisa keduanya.

Hari perayaan tiba, pagi buta Miranda sudah menunggu di gang sepi, dia membawa tongkat base ball dan bersembunyi di balik pohon yg berada di pinggir jalan, saat targetnya mendekat kearahnya dengan cepat Miranda memukul tengkuknya menggunakan tongkat base ball itu. Wanita itu terjatuh di tanah tak sadarkan diri, Miranda menyeretnya dengan cepat sebelum ada orang yg melihatnya, lalu Miranda mengganti pakaiannya dengan seragam wanita yg bekerja menjadi waiters di hotel tempat perayaan ulang tahun perusahaan MW Group.

Miranda ikut antri bersama dengan rekan kerjanya untuk melakukan pengecekan identitas sebelum masuk ke dalam hotel, untungnya petugas keamanan bisa dia kelabuhi supaya tidak memaksanya untuk melepas maskernya.

Satu jam berlalu, Miranda mengawasi keadaan sekitarnya, sudah banyak para tamu undangan yg berdatangan, dari tempatnya berdiri dapat Miranda lihat kebahagiaan yg terpancar dari wajah - wajah mereka, terutama Devian dan Arunika, dan itu membuatnya merasa muak. Saat mendapat celah untuk mencelakai Arunika, Miranda dengan nekad merusak tombol lampu gantung agar terjatuh menimpa tubuh Arunika yg saat itu berdiri tepat di bawahnya. Namun usahanya berhasil di gagalkan oleh Devian yg mendorong Arunika, Miranda kecewa usaha balas dendamnya gagal, dia mencoba mendekat kearah kerumunan itu, dan.. Dia tersenyum menyeringai, ternyata Devianlah yg menjadi korbannya. Dengan segera Miranda pergi dari sana agar tidak ada yg mencurigainya. Miranda mempercepat langkah kakinya saat mendengar ketukan di lantai suara sepatu yg saling bersahutan mengikutinya, saat menoleh ke belakang, Miranda di buat terkejut ternyata dia di buntuti oleh anak buah Raka, dia berlari sekuat tenaga dan saat berada di tikungan Miranda bergegas masuk ke dalam gudang yg tidak jauh dari sana yg kebetulan tidak di kunci. Miranda membekap mulutnya saat mendengar suara langkah kaki itu mendekat kearahnya namun gara - gara kecoa sialan itu dia berteriak dan akhirnya tertangkap oleh mereka.

Miranda di bawa ke kantor polisi oleh Raka dan anak buahnya, mereka juga memastikan kali ini Miranda tidak akan bisa lolos lagi.

"Dimana wanita sialan itu?". Tanya Raditya dingin. Raditya langsung menuju kantor polisi saat di beri tahu oleh Raka lewat pesan singkat.

Anggota kepolisian yg sedang bertugas pun langsung mengantarkan Raditya untuk bergabung dengan Raka dan tim kepolisian lainnya untuk mengintrogasi Miranda.

"Sudah gue duga wanita ini yg berada di balik kejadian tadi". Raditya menatap nyalang kearah Miranda. Miranda yg baru pertama kali melihat tatapan Raditya pun menjadi takut, Miranda menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Raditya.

Sedangkan Raditya merasa geram ingin menghabisi Miranda saat itu juga jika tidak mengingat tentang hukum yg berlaku di Indonesia.

Raditya menatap tim kepolisisan beserta Raka dengan tatapan serius, "Hukum dia seberat - beratnya, saya tidak ingin wanita itu mendapat keringanan masa tahanan karena alasan kondisinya atau apapun itu". Lalu Raditya kembali menatap Miranda dengan tajam, "Dan anda jangan mengira selama ini kita diam karena lemah, kita hanya tidak ingin mengotori tangan kita untuk kuman menjijikkan seperti anda". Miranda yg mendengar ucapan penghinaan dari Raditya pun mengepalkan tangannya erat, Miranda mengumpat dalam hati akan memberi pelajaran pada lelaki di depannya ini jika suatu saat dia bisa terbebas dari penjara.

"Baik tuan, kami akan menghukum saudari Miranda sesuai dengan hukum yg berlaku". Ucap salah satu seorang polisi dengan tegas.

"Kalau begitu saya permisi pak, nanti anak buah saya yang akan kesini untuk mengantar semua bukti - bukti yg sudah kami kumpulkan". Pamit Raditya.

"Baik, terima kasih atas kerja samanya Tuan". Ucap komandan polisi sambil berjabat tangan dengan Raditya.

Raditya bisa lega karena Miranda sudah tertangkap dan lelaki itu melajukan kendaraan roda empatnya menuju kediamannya untuk istirahat sebentar sebelum kembali ke rumah sakit lagi.






                                      ***









Sedangkan di depan ruang operasi, tuan David, Arunika dan sahabatnya serta sahabat Devian sedang cemas bercampur khawatir memikirkan Devian yg saat ini sedang bertaruh nyawa antara hidup dan mati.

Sudah hampir dua jam lamanya dokter yg menangani Devian belum juga keluar dari dalam, mereka semua di buat panik saat melihat suster yg keluar dari dalam ruang operasi dengan tergesa - gesa.

Lima benit kemudian lampu operasi akhirnya padam dan perlahan pintu ruang operasi di buka dari dalam oleh seorang dokter dan perawat yg mengikuti di belakangnya. mereka sangat antusias langsung mendekat kearah dokter itu. Dokterpun menjelaskan jika operasinya berjalan dengan lancar dan Devian berhasil melewati masa kritisnya, mungkin satu  sampai dua jam kemudian Devian akan sadar. Dengan serempak mereka mengucap hamdalah bersama.

"Arun sebaiknya kamu pulang untuk istirahat sejenak nanti kalo Devian sadar saya akan hubungi kamu". Ucap tuan David sembari mengelus rambut Arunika. "Kalian juga bisa pulang dan istirahat di rumah". Lanjutnya sambil menatap sahabat Arunika dan sahabat Devian bergantian. Mereka semua mengangguk setuju, mereka juga berniat ingin pulang terlebih dulu untuk sekedar bersih - bersih.

"Arun masih ingin disini Om". Lirih Arunika lalu menatap para sahabatnya bergantian, "Kalian semua bisa pulang dulu gapapa, biar gue yg jaga disini bergantian dengan Om David". Imbuhnya sambil tersenyum tipis meyakinkan sahabatnya jika dia bisa jaga diri.

"Kami pamit Om, tolong kabari kami jika ada perkembangan tentang kondisi Devian". Pamit Erick mewakili mereka semua. "Arun, kami pulang dulu lo jaga diri baik - baik, hubungi kami jika terjadi sesuatu". Erick menepuk pundak Arunika yg di balas gumaman oleh gadis cantik itu.

Tuan David menganggukkan kepalanya, "Kalian hati - hati di jalan, terima kasih sudah menunggu Devian disini". Ucapnya.

"Baik Om, assalamu'alaikum". Kata mereka serempak yg jawab oleh tuan David dan Arunika.

Mereka pulang beriringan dengan Kiara yg semobil dengan Erick dan Riko semobil dengan Mikayla. Awalnya Mikayla menolak ingin naik taksi saja tapi Riko yg tidak tega melihat Mikayla sendiri pun memaksanya agar semobil dengannya, Mikayla dengan pasrah menuruti ucapan Riko dan mengekor di belakang lelaki itu menuju parkiran.

My CEO is My Ex (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang