79.

104 3 0
                                        

Sehari sebelumnya Rio dan partnernya datang ke lapas mengunjungi Miranda, Rio menceritakan rencana yg telah dia susun bersama partnernya untuk membebaskan Miranda.

Miranda sangat senang akhirnya ada yg mau menolongnya keluar dari jeruji besi yg sudah mengurungnya selama dua minggu lebih ini. Miranda sangat tertekan saat berada di dalam lapas karena teman - teman yg berada dalam satu sel itu selalu menyiksanya dengan kejam bagaikan seekor binatang, penampilan Miranda juga jauh berbeda dengan dirinya yg dulu angkuh dan sexy apalagi saat ini di wajah dan sekujur tubuhnya penuh luka lebam dan sayatan, polisi yg baru mengetahui jika Miranda mendapatkan bullying pun akhirnya memindahkannya tiga hari yg lalu ke dalam lapas yg masih kosong, di dalam sana Miranda hanya seorang diri, pihak polisi juga mendatangkan dokter untuk memeriksa kondisi Miranda.

Rio dan partnernya juga memberi syarat kepada Miranda agar setelah dia bebas nanti harus bersedia menuruti permintaan mereka apapun itu, dan tanpa berpikir dua kali Miranda menyetujuinya. Miranda berpikir lebih baik menjadi pesuruh Rio dari pada lama - lama mendekam di dalam sel tahanan.

Keesokan harinya Rio dan partnernya mengumpulkan semua anggota genk'nya di markas, Rio memberitahukan kepada semua anak buahnya untuk sementara waktu agar mengosongkan markas dalam satu bulan ke depan, hal itu Rio lakukan sebagai antisipasi supaya polisi tidak mencurigainya karena terlibat dalam aksi pembebasan Miranda. Rio juga meminta anak buahnya untuk tidak banyak bertanya dan menuruti semua apa yg dia katakan.

Setelah urusan dengan anak buahnya beres, saat ini yg berada di dalam markas tinggal lah Rio, partnernya dan tiga orang kepercayaan Rio. Mereka mengatur strategi untuk misi nanti malam yg kebetulan hari ini Raka bersama tim intel yg lainnya sedang melakukan misi rahasia di luar kota, jadi mereka memanfaatkan kesempatan emas ini untuk membebaskan Miranda.

Hari semakin gelap, saat ini jam menunjukkan pukul 20 : 00 wib. Rio dan yg lainnya berkumpul di markas untuk mempersiapkan peralatannya sambil mengisi energinya terlebih dulu, mereka akan melancarkan aksinya nanti pada pukul 23 : 00 wib.

Tepat pukul 22 : 00 wib Rio dan yg lainnya berangkat dari markas menuju lapas tempat Miranda di tahan, mereka menggunakan masker dan kaca mata serta topi untuk menyamarkan wajahnya.

Empat puluh lima menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan lapas, seperti yg sudah di rencanakan tadi, dua orang kepercayaan Rio datang menemui polisi yg berjaga di depan, mereka berdua berpura - pura ingin melakukan kunjungan terhadap tahanan yg bernama zz, setelah kedua polisi di depannya sibuk mencari nama tahanan yg mereka sebut dengan gerakan cepat kedua orang kepercayaan Rio menyemprotkan obat bius kehadapan dua polisi itu, sedangkan Rio dan yg lainnya menyelinap masuk ke dalamnya.

Mereka sengaja membawa obat bius agar mempermudah aksinya, Rio menyemprotkan obat bius berupa asap pada ruangan polisi dan sekitarnya, mereka menunggu hingga sepuluh menit kemudian sampai akhirnya para polisi dan pihak keamanan yg lainnya jatuh pingsan. Lalu ketiga orang kepercayaan Rio itu menyeret para polisi serta pihak keamanan untuk di kumpulkan menjadi satu di dalam ruangan. Sedangkan Rio dan partnernya mencari kunci untuk membuka pintu lapas yg di tempati oleh Miranda.

Lima belas menit berlalu, Rio dan rekannya masih belum mendapatkan kuncinya, hingga salah satu orang kepercayaan Rio tiba - tiba bersuara.

"Kenapa gak kita coba periksa polisi - polisi yg pingsan itu, siapa tau salah satu dari mereka ada yg membawa kuncinya". Orang kepercayaan Rio itu tidak mau membuang - buang waktunya untuk mencari kunci di seluruh ruangan yg ada, karena jika mereka lama di dalam sana dia khawatir para polisi itu akan segera sadar dari pingsannya dan memergoki aksi mereka.

"Hmm boleh juga ide lo". Ucap sang partner menoleh kearah Rio meminta persetujuan. Melihat anggukan dari Rio membuat ketiga orang kepercayaannya bergerak cepat memeriksa para polisi yg pingsan itu satu persatu. Lima menit kemudian orang kepercayaan Rio menemukan kuncinya. Mereka berlima bergegas pergi ke ruangan tempat Miranda di tahan.

Dengan cepat Rio membuka gemboknya dan saat pintu lapas di buka, Miranda keluar sambil tersenyum lega dan melompat kegirangan lalu memeluk tubuh Rio erat. Saking bahagianya Miranda sampai meneteskan air matanya. Miranda sangat senang akhirnya dia bisa bebas menghirup udara segar kembali dan semua ini berkat Rio, lelaki yg menjadi rekannya untuk menghancurkan hubungan Arunika dan Devian.

Saat menatap wajah Miranda dari dekat, Rio baru tau jika di tubuh Miranda penuh luka sayatan dan lebam pun menjadi syok, di putar - putarnya tubuh Miranda dan ditelitinya tubuh wanita di depannya ini dari atas hingga bawah. Kemarin saat berkunjung ke lapas, Rio tak sempat memperhatikan luka pada tubuh Miranda dengan detail, Rio menjadi marah saat melihat luka di tubuh Miranda sangat banyak dan cukup parah, dia berniat menghampiri orang yg sudah membully Miranda, sebelum suara sang partner mencegahnya.

"Tunggu Yo, mending sekarang kita cepat pergi dari sini sebelum para polisi itu bangun". Kata sang partner mengajak Rio dan yg lainnya keluar, "Jangan meninggalkan jejak apapun jika kalian tidak ingin menanggung resiko kedepannya, ingat kita harus melakukannya dengan rapi". Imbuhnya. Sang partner berjalan keluar dahulu lalu di susul oleh Rio yg memapah Miranda dan yg terakhir ketiga orang kepercayaan Rio. Mereka juga meretas cctv yg ada di lapas ini dan menghapusnya setelah berada di dalam mobil.

Dengan cepat mereka berlima pergi dari sana, tanpa mereka sadari ada tiga orang yg melihat aksi mereka dan merekamnya.

***

Malam telah larut namun Arunika tidak bisa memejamkan matanya meskipun dia mengantuk, dalam hatinya ada sesuatu yg janggal dan itu membuatnya gelisah. Arunika memilih bangkit dari tidurnya dan mengambil ponselnya yg tergeletak di atas nakas. Arunika ingin menelpon orang kepercayaannya untuk menanyakan keadaan di sekitarnya.

Namun belum sempat dia menghubungi orang kepercayaannya itu, ada panggilan masuk di handphone'nya yg ternyata dari orang kepercayaannya yg dia tugaskan untuk memantau Miranda dari jauh.

Arunika segera mengangkat panggilan itu dan berjalan menuju balkon.

"Hallo ada apa?". Tanya Arunika pada orang di seberang. Arunika tau betul bagaimana orang kepercayaannya itu, jika tidak ada hal penting tidak mungkin mereka akan menelponnya tengah malam begini.

Seseorang di seberang sana menjawab dengan tegas, orang itu menceritakan tentang apa yg baru saja di lihatnya pada Arunika, saat ini dia dan rekannya juga sedang mengikuti dari jauh mobil yg membawa Miranda kabur.

"Ikuti terus mereka jangan sampai kehilangan jejaknya". Perintah Arunika, " jangan lupa share loc ke gue posisi terakhir kalian berada". Lanjutnya. Setelah itu panggilan di putus sepihak oleh Arunika, lalu Arunika segera menghubungi Raka yg berada di luar kota.

Saat dering kedua panggilannya di angkat oleh Raka, Arunika menceritakan apa yg baru saja dia dengar dari orang kepercayaannya tentang Miranda. Raka yg mendengar itu mengepalkan tangannya erat, jika saja saat ini dia tidak berada di luar kota, pasti sudah Raka babat habis mereka semua. Raka mengkode temannya untuk mendekat, dia meminta temannya untuk menghubungi sahabatnya yg juga merupakan intel rahasia. Raka menceritakan semua yg dia dengar dari Arunika pada sahabatnya dan dia meminta bantuan pada sahabatnya yg satu profesi dengannya itu untuk menangkap Miranda dan Rio dkk. Sahabatnya pun setuju dan kebetulan saat ini posisinya tak jauh dari lokasi yg sedang di tuju oleh Rio dkk.

Raka menutup panggilannya, dia sedikit lega karena sahabatnya bisa membantunya menangkap wanita licik dan Rio dkk itu. Entah apa yg terjadi di lapas hingga Rio bisa dengan mudah membebaskan Miranda.

Raka mengecek cctv yg berada di lapas, dia mengumpat saat tau sepuluh menit yg lalu ada yg meretasnya dan semua aktivitas yg terekam setengah jam yg lalu juga telah di hapus.

"Shit.. Ternyata mereka cukup pintar bisa bermain bersih". Raka menyeringai, "Tapi sepintar - pintarnya mereka tidak akan bisa mengelabuhi gue". Ucap Raka selanjutnya sambil mengotak - atik laptopnya.

Setengah jam kemudian Raka mendapatkan rekamannya, rekaman yg berasal dari kamera kecil yg Raka selipkan pada vas bunga yg berada di atas meja petugas jaga, kamera itu menyorot tepat kearah sel yg di tempati Miranda. Raka sengaja menaruh kamera itu untuk mengantisipasi kejadian yg tidak diinginkan seperti ini terjadi, apalagi sebelumnya Miranda juga sempat mencoba kabur dari tahanan. Sehingga membuat Raka memutar otaknya agar bisa memantau Miranda lebih ketat lagi tanpa membuat Miranda curiga.

"Gue tidak akan mengampuni kalian jika kalian tertangkap, dasar bedebah sialan". Umpat Raka saat melihat siapa yg telah membantu Miranda keluar dari tahanan.

My CEO is My Ex (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang