"De-devian". Lirih Tika dengan wajah syoknya.
Devian dan Raditya mendekat ke empat orang pemeran drama dadakan yg tadi di tontonnya.
Raditya bertepuk tangan dua kali untuk memanggil anak buahnya supaya masuk ke dalam, dan yg lainnya membereskan anak buah Rio yg berjaga di depan rumah itu.
Tak sampai lima menit anak buah Rio berhasil di ringkus oleh anak buah Devian sedangkan anak buah Raditya menangkap Ali, Tika dan dua anak buah Rio yg berada di dalam rumah, mereka sempat memberontak namun bisa dengan mudah di lumpuhkan oleh anak buah Raditya.
"Pak De-vian to-long le-pasin a-ku, a-ku ha-nya di je-bak o-leh me-reka". Ucap Tika terbata - bata sambil memasang wajah mengiba agar mendapat belas kasihan, tak lupa air mata yg mengalir di wajahnya yg banyak lebam akibat tamparan dari Ali tadi.
"Bukankah lo sekongkol sama mereka untuk menyingkirkan Arunika?". Tanya Raditya sambil menatap Tika dengan nyalang. Raditya sengaja berbicara dahulu karena dia tidak mau kalo sampai Devian termakan ucapan dan wajah sedih Tika.
Tubuh Tika mematung di tempat mendengar pertanyaan pria asing di depannya, "Aku gak mengerti apa maksudmu, yg jelas aku gak mungkin menyakiti Arunika karena dia adalah sahabatku". Jawab Tika menunduk dengan wajah sedihnya. "Dan asal kamu tau aku disini disekap karena menentang mereka hingga wajahku menjadi babak belur". Lanjutnya sambil bercucuran air mata.
Devian sempat akan percaya dengan akting Tika yg sangat mendalami perannya sebagai wanita yg teraniaya, dalam hatinya juga tidak tega melihat karyawannya di siksa seperti itu hingga ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk, saat di buka ternyata sebuah video yg di kirim oleh Raka, dengan cepat Devian memutarnya dan dia menjadi murka saat selesai melihat video itu.
Devian menatap Tika dengan tatapan nyalang dan tangan terkepal erat, perlahan Devian melangkahkan kakinya menuju ke tempat Tika di ikat bersama ketiga partnernya.
Tika yg baru kali ini mendapat tatapan nyalang dari Devian membuat tubuhnya gemetar dan nyalinya menciut, Tika takut jika Devian akan menghabisinya saat itu juga, padahal tadi Tika sempat yakin Devian akan menolongnya dari jeratan pria asing itu karena Tika tadi melihat ada rasa tidak tega di dalam tatapan mata bossnya itu namun semua berubah setelah Devian membaca pesan yg masuk di ponselnya.
"Lo bilang apa barusan, cepat ulangi". Devian menjambak rambut Tika hingga wajahnya mendongak keatas, wajah Devian yg biasa terlihat datar dan dingin kini hilang berganti dengan wajah merah padam yg di sertai dengan senyum iblisnya, kelakuan Devian bak psikopat yg bertemu dengan mangsanya.
"Ma-maaf pa-k De-vian.. ". Lirih Tika dengan tubuh gemetaran. Tika tidak berani menatap wajah Devian yg menyeringai bak psikopat itu.
"Gue gak akan biarin tikus kecil seperti elo nyakitin milik gue". Devian mengeluarkan cutter dari saku jaketnya, di bukanya cutter itu lalu di arahkan ke wajah Tika yg saat ini sudah berubah pucat pasi. "Apalagi sampai berniat menyingkirkannya". Devian menggoreskan cutter di pipi kiri Tika hingga darahnya menetes ke pangkuannya dengan tangan kiri Devian yg masih tetap menjambak erat rambut Tika. Tika memejamkan matanya menahan perih di pipinya serta cenat - cenut di kepalanya, Tika tidak menyangka bila obsesinya untuk memiliki bos besarnya membuat dia tersiksa fisik dan batinnya.
"Sshh.. Am-ampun pa-k, sa-saya ti-dak a-kan meng-ulangi la-gi". Tika berdesis kesakitan dengan air mata yg tak henti mengalir di pipinya hingga luka goresan itu menjadi semakin perih, rasanya Tika ingin mati saja dari pada hidup namun tersiksa jiwa dan raganya.
Melihat mangsanya kesakitan Devian menjadi semakin bersemangat untuk melukainya lagi, Devian tidak sabar ingin mengukir beberapa goresan lagi di wajah Tika dengan cutternya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My CEO is My Ex (Tamat)
Fiksi RemajaBagaimana jadinya jika mantanmu adalah CEO di tempatmu bekerja, apalagi dia yg telah menorehkan luka di hatimu dan membuat kepercayaanmu hilang terhadap lelaki, hingga menganggap semua lelaki itu sama, seperti pepatah "Habis manis sepah di buang". ...
