91.

94 2 0
                                        

"Dev, ada yg ingin ketemu sama elo nanti sepulang kantor di cafe biasa". Kata Erick saat berada di ruangan Devian mengantarkan berkas untuk di tanda tangani.

Devian mengernyitkan alisnya bingung, "Siapa?, kalo gak penting gue males". Ucap Devian datar. Dalam benak Devian yg ingin bertemu dengannya adalah para wanita yg kurang perhatian dan matre makanya selalu mengejar - ngejar dirinya seperti dulu - dulu sebelum dia bertemu kembali dengan Arunika.

"Yang jelas dia merupakan sosok yg penting di hidup lo". Erick menjawab dengan teka - teki yg membuat Devian penasaran sekaligus kesal karena di suruh menebak.

"Gak usah maen teka - teki cepat bilang siapa orang itu, gue gak mau ya kalo yg bertemu sama gue itu cewek, bisa ngambek Arun nanti". Ujar Devian sambil melirik sekilas kearah Erick lalu fokus lagi dengan berkas di depannya.

"Lo tenang aja gue udah dapet izin dari bu Boss, jadi lo maukan temuin dia?". Kata Erick sambil menaik turunkan alisnya.

"Terserah, awas aja kalo yg kita temuin nanti cewek, gue potong gaji lo". Ancam Devian dengan tatapan sinis kearah Erick.

"Hehehe.. Peace Boss jangan potong gaji gue, itu buat modal melamar Kiara". Erick cengengesan sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf 'v'.

"Gue balik ke ruangan dulu ya Dev, ntar kita bareng berangkatnya". Kata Erick saat Devian fokus pada berkas - berkasnya dan tidak menyahuti ucapannya.

"Hmm". Gumam Devian yg masih bisa di dengar oleh Erick.

Setelah pulang kerja, disinilah Devian dan Erick singgah, di cafe tempat mereka nongkrong semasa remaja. Di cafe ini banyak sekali kenangan mereka bertiga dari suka maupun duka, kenangan persahabatan ketiga pria tampan yg dulunya sering di juluki 'BBF' ( Boys Beyone Famous ).

Erick mengajak Devian ke lantai atas yg sengaja dia pesan dari awal sebelum kesini, Erick memilih tempat duduk yg biasa mereka duduki saat nongkrong di cafe ini.

Sedari masuk hingga duduk di tempatnya, Devian mengamati interior cafe ini yg ternyata tidak banyak berubah, hanya sekarang semakin lengkap ada spot foto yg instagramable yg bisa membuat para remaja betah seharian disini, apalagi menunya juga bertambah banyak dari terakhir Devian kesini dua tahun yg lalu.

"Kita tunggu sebentar, dia masih dalam perjalanan". Kata Erick membuat Devian menganggukkan kepalanya, "Gimana tempat ini menurut lo Dev?". Tanya Erick yg melihat jika Devian mengamati cafe dengan detail semenjak mereka masuk.

"Masih seperti dulu nyaman dan tempatnya juga tambah oke gak kalah dengan cafe hits lainnya, apalagi menunya juga tambah banyak". Ujar Devian sambil membolak - balikkan menu.

Saat Erick ingin membuka suaranya lagi, dari arah belakang Devian muncul seseorang yg membuat atensi kedua pria tampan itu beralih kepada orang itu yg menampilkan seulas senyum di bibirnya.

"Sorry telat". Ucap seseorang itu yg langsung ikut bergabung di tengah - tengah antara Devian dan Erick.

"Riko.. Ini beneran elo?, gak nyangka dapet surprise dari sohib gue". Ujar Devian sambil beranjak dari duduknya lalu berpelukan sebentar ala laki - laki.

"Ya, gimana kabar lo?, pastinya baik dong apalagi ada Arunika di samping lo". Perkataan Riko membuat Devian mengernyitkan dahinya bingung, pasalnya dia tidak bercerita pada Riko jika Arunika telah kembali di sisinya. Devian menatap Erick dengan tatapan tajam, dia menduga jika lelaki itulah yg menceritakan pada Riko tentang kembalinya Arunika di sisinya. Sedangkan yg di tatap malah bersembunyi di balik punggung Riko meminta perlindungan.

"Tau dari mana lo?, dia?". Tanya Devian sambil menunjuk Erick dan langsung di angguki oleh Riko, "Tumben pulang?, gak takut cewek lo hilang karena lo tinggal balik ke indo?". Sindir Devian pada sahabatnya yg tak pernah pulang karena disana Riko memiliki tambatan hati dan juga sibuk mengurus perusahaan cabang keluarganya yg berada di Jerman.

Riko menghela nafasnya kasar sambil meraup wajahnya frustasi, "Udah putus lama gue sama dia cuma gue masih bertahan buat yakinin dia agar mau kembali lagi".

"Kayak gak laku aja lo bro, lo kan tampan mending cari yg lain aja dari pada mengemis kembali pada wanita yg gak ingin kembali sama lo". Erick pengen sahabatnya tidak galau lagi. "Apa lo mau gue kenalin sama temennya cewek gue?". Tawar Erick barang kali Riko minat buat mencoba.

"Lo gak tau masalahnya jadi stop berkomentar, dan soal tawaran elo mending tawarin yg lainnya saja gue ogah". Ucap Riko dingin. Dia selalu marah apabila ada yg bilang jika dirinya itu bodoh atau bla bla bla.. Dia bukannya tidak mau mendengarkan pendapat orang lain tentang dirinya yg terlalu bucin, tapi yg merasakan itu dia bukan orang lain, apalagi disini Riko dan mantan kekasihnya putus dengan cara baik - baik, mereka juga saling mengerti dan memahami meskipun sering terjadi perselisihan. Dan karena takdir tidak bisa di tentang, sebesar apapun cinta mereka berdua pada akhirnya harus berpisah jua.

"Udah gak usah di pikirin, mending kita enjoy sambil bernostalgia masa - masa remaja". Devian menepuk pundak sahabatnya ini supaya bisa lebih kuat dalam menghadapi cobaan. "Lo bisa ke rumah kalo mau curhat sama gue". Bisik Devian pada Riko yg di balas dengan senyum tipis.

Ketiga pria tampan itu menghabiskan waktu sore hari dengan bercengkrama sambil bertukar cerita selama mereka tidak berjumpa.




                             ***





Hari yg di tunggu - tunggu oleh seluruh karyawan MW Group pun telah tiba, tepat hari ini adalah hari perayaan ulang tahun MW Group yg ke - 25 tahun.

Seluruh karyawan sangat antusias mengikuti perayaan ini, dari pagi buta pukul 04 : 00 wib di hotel tempat berlangsungnya acara sudah di datangi oleh EO yg menghandle acara nanti, sengaja Oma Renata dan Tuan David membuat acaranya di siang hari karena banyaknya susunan acara dan tamu undangan yg hadir. Penjagaan di hotel juga di perketat mulai H - 2 kemarin oleh aparat kepolisian beserta jajarannya tidak lupa Raka dan anak buahnya juga ikut serta membantu mengamankan suasana agar tidak ada penyusup atau pengacau di tengah berlangsungnya acara.

Pukul 08 : 00 wib, para karyawan MW Group berdatangan dengan dress code untuk wanita memakai gaun warna navy dan untuk pria memakai kemeja berwarna putih jas abu - abu dengan celana bahan yg juga abu - abu, para tamu membawa barcode undangan sebagai akses masuk ke dalam hotel.

Hotel pun saat ini sudah di penuhi para tamu undangan karena sebentar lagi acara akan di mulai.

Devian berdiri di depan bersama Oma Renata dan tuan David dengan tangan yg tidak lepas menggenggam jemari lentik Arunika. Para tamu undangan memberi selamat kepada mereka bertiga. Terpancar rona bahagia dari wajah - wajah mereka yg hadir disini kecuali satu orang yg sedari tadi memasang wajah murkanya. Orang itu tersenyum sinis sambil berkata dalam hati, 'Nikmati kebahagiaan kalian yg sesaat ini sebelum gue buat kalian menderita dan menangis nantinya'.

My CEO is My Ex (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang