95.

111 2 0
                                        

Tepat seperti perkiraan dokter, dua jam kemudian Devian sadar dan bisa di pindahkan ke ruang rawat inap setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan.

Devian di tempatkan di ruangan VVIP yg di jaga ketat oleh anak buahnya di depan pintu masuk, tuan David memang sengaja menugaskan mereka berjaga di depan agar para wartawan tidak bisa meliput kondisi Devian saat ini, karena saat kejadian di hotel kemarin banyak dari kalangan media yg mengabadikannya dan sekarang tersebar luas di sosial media mengenai berita tentang Devian sang pengusaha muda yg tertimpa reruntuhan lampu gantung demi menyelamatkan kekasihnya.

"Makasih sayang kamu sudah merawat dan menungguku selama aku sakit." ujar Devian sambil membelai lembut pipi Arunika. Saat ini mereka hanya berdua di dalam ruang rawat inap Devian.

"Ini sebagai bentuk tanggung jawabku padamu karena sudah menolongku dan jadi celaka seperti ini." Arunika tersenyum tipis sambil memegang tangan Devian yg berada di pipinya. Tatapan mereka berdua sangat dalam seolah mengutarakan perasaan masing - masing lewat tatapan itu.

"Itu sudah kewajibanku melindungimu sayang, aku pernah berjanji pada diriku sendiri jika kita di persatukan kembali aku akan menjagamu segenap jiwa ragaku meski nantinya harus mengorbankan nyawaku sekalipun." Devian meraih tangan Arunika lalu di kecupnya dengan lembut.

"Tapi gak sampai terluka parah juga Dev, apalagi kemarin kamu sempat kritis dan butuh banyak darah untuk operasi." ucap Arunika berkaca - kaca mengingat kondisi Devian sebelum di operasi, "Kamu buat aku takut kehilanganmu." Imbuhnya dengan air mata berlinangan membasahi pipinya.

"Hei.. hei.. Maaf jangan nangis lagi, aku janji gak akan pernah ninggalin kamu." Devian panik melihat kekasihnya menangis, dia menghapus air mata Arunika sambil berusaha menenangkannya, "Kita ambil hikmahnya ya.. Berkat kejadian kemarin akhirnya aku mendapat restu dari keluargamu dan mereka kini mempercayakanmu padaku, terutama Raditya." perkataan Devian membuat Arunika terkejut, pasalnya gadis itu tidak tau jika Ayah dan saudara kembarnya telah memberi restu untuk hubungan mereka.

"Kamu serius?, gak bohong kan?." tanya Arunika memicingkan matanya.

"Mana mungkin aku berbohong pada kekasihku ini, kalo gak percaya kamu bisa tanya sama Raditya, dia sendiri kemarin yg datang menemuiku". Jawab Devian sambil tersenyum cerah melihat kekasihnya tidak bersedih lagi. Arunika mendengar jawaban Devian langsung memeluk tubuh pria tampan itu.

"Selamat kamu berhasil meyakinkan mereka, i love you." bisik Arunika yg membuat dada Devian berdesir hebat saat mendengar kata cinta dari wanita pujaannya.

"I love you so much my sunshine." Balas Devian yg mencium puncak kepala Arunika sambil memejamkan matanya menghirup dalam - dalam aroma shampoo yg telah lama dia rindukan itu. Devian sangat bahagia mendengar kekasihnya mengatakan cinta untuk pertama kalinya setelah enam tahun yg lalu, ternyata musibah yg menimpanya itu membawa berkah untuk hubungannya dengan Arunika.




                               ***





Sedangkan di kamar rawat inap Oma Renata Dokter mengatakan jika hari ini Oma Renata sudah di perbolehkan untuk pulang dengan catatan harus banyak istirahat dan tidak boleh memikirkan hal - hal yg memicu stress.

"Rini, saya mau lihat keadaan Devian dulu sebelum pulang, bisa kamu antarkan." Kata Oma Renata saat tante Rini selesai membereskan barang - barang milik Oma Renata di kamar rawat inap itu.

Tante Rini menganggukkan kepalanya, "Bisa Mah, sebentar Rini ambilkan dulu kursi rodanya sekalian meminta sopir untuk menaruh barang - barang mamah di bagasi dulu." Ucap tante Rini pergi keluar untuk mengambil kursi roda dan memanggil sopirnya untuk membawa barang Oma Renata ke mobil terlebih dulu.

My CEO is My Ex (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang