Tiga hari kemudian Devian akhirnya sudah di perbolehkan pulang oleh dokter dengan catatan harus cek up ke rumah sakit minggu depan untuk memeriksa bekas jahitannya.
Devian sangat bahagia dan juga merasa sedih, dia bahagia karena setelah ini akan mewujudkan impiannya untuk melamar kekasihnya dan dia juga merasa sedih karena waktu berduaan dengan kekasihnya menjadi berkurang tidak seperti saat di rumah sakit yg bisa berduaan setiap saat karena kekasihnya selalu berada di sampingnya dan menjaganya setiap saat.
"Jalannya pelan - pelan aja Dev." ucap Arunika sambil memapah Devian memasuki mansion keluarga Mahawira. Awalnya tuan David yg akan memapah putranya, namun saat di rumah sakit menjemput Devian tuan David mendapat telepon dari kantor jika ada klien penting dari Jepang yg ingin bertemu. Tante Rini mengajukan diri akan menggantikan tuan David memapah Devian tapi dengan tegas Devian menolaknya, dia ingin di papah oleh kekasihnya. Dalam pikirannya itung - itung modus sama kekasih sendiri sebelum mereka menjalani aktivitas masing - masing yg pastinya akan sulit untuk bertemu. Karena besok Arunika sudah mulai masuk kerja sedangkan Devian masih harus istirahat total untuk memulihkan kondisinya, mungkin dia bisa kerja dari rumah itupun tidak lama dan pastinya akan membosankan tanpa melihat wajah cantik kekasihnya.
"Ck, dasar modus padahal kemarin tante lihat sudah bisa jalan sendiri ke kamar mandi." tante Rini berdecak sambil menatap sinis kearah Devian karena masih jengkel niat baiknya di tolak oleh Devian.
"Gapapa kali Tan modus sama kekasih sendiri ini, lagian kalo tante iri tinggal telepon Om Aidan aja suruh pulang biar bisa bermesraan kayak aku." jawab Devian yg semakin membuat tante Rini kesal. Pasalnya suaminya tidak bisa pulang dengan cepat karena harus mengurus bisnisnya di luar kota yg sedang bermasalah.
"Ngapain iri, lagian Tante sudah pernah ngerasain yg lebih dari itu." balasan dari tante Rini membuat Oma Renata, Arunika serta Devian memelototkan matanya. Mereka terkejut dengan ucapan tante Rini yg terdengar ambigu sekali.
"Sudah - sudah lebih baik kita masuk saja supaya bisa segera istirahat." lerai Oma Renata yg langsung membuat semua yg ada disana diam dan menuruti perkataan sang sesepuh.
Saat tiba di kamar Devian, Arunika membantu Devian merebahkan tubuhnya di ranjang dan menyelimutinya hingga dada. Saat ini Devian masih tidur dengan posisi miring karena punggungnya yg bekas operasi masih terasa sakit kalo di buat tidur terlentang.
"Kamu istirahat dulu ya Dev, aku tinggal ke bawah sebentar." ucap Arunika setelah memastikan Devian nyaman dengan posisi tidurnya.
"Disini saja dulu temani aku, aku masih ingin berdua sama kamu karena aku yakin pasti besok kamu bakal sibuk bekerja dan gak ada waktu buat aku." ujar Devian sambil menahan pergelangan tangan Arunika agar tak beranjak dari duduknya.
Arunika menghela nafas panjang, lalu menganggukkan kepalanya, "Baiklah, aku akan temani kamu sampai kamu tertidur." sambil tersenyum tipis.
Akhirnya mereka seharian menghabiskan waktu berdua di kamar Devian sambil mengenang cerita masa lalu mereka dan bersendau gurau. Arunika dan Devian memang berdua di dalam kamar itu namun pintunya sengaja Arunika buka lebar - lebar agar tidak ada yg curiga atau mengira jika mereka sedang berbuat yg tidak - tidak.
***
"Bagaimana Mas apa putrimu mau mempertemukan aku dengan putri kandungku?." tanya Karina yg saat ini sedang bersama dengan tuan Bagas di sebuah restoran yg tidak jauh dari perusahaan Pranadipta Group.
"Tentu saja putriku mau, bahkan dia sangat antusias saat mendengar ceritaku, Arunika banyak berharap jika memang kamulah ibu kandung dari Kiara karena dia merasa kasihan pada sahabatnya itu yg selama hidupnya tidak pernah merasakan kasih sayang dari keluarga kandungnya." kata tuan Bagas yg membuat Karina melengkungkan bibirnya, tersenyum. Hati Karina sangat bahagia, wanita paruh baya yg masih terlihat cantik itu tidak sabar menanti hari dimana dia bisa bertemu dengan putri kandungnya dan memeluknya dengan erat.
"Terima kasih Mas aku bahagia mendengarnya, bilang pada putrimu jika tantenya yg cantik ini ingin mentraktirnya makan malam sebagai ucapan terima kasih." Karina sengaja ingin bertemu dengan Arunika terlebih dulu karena ingin bertanya - tanya tentang kisah hidup Kiara dan kisah asmaranya, karena dia mendengar dari orang suruhannya jika putrinya saat ini telah memiliki tunangan.
"Nanti aku sampaikan pada Arun." ucap Tuan Bagas sambil menganggukkan kepalanya pelan, "Oh ya apa tuan Wilson sudah tau tentang Kiara?." tanya tuan Bagas yg baru teringat jika saat ini tuan Wilson sedang tidak berada di Jakarta.
"Belum, aku berniat menyampaikan kabar bahagia ini setelah semuanya pasti, aku tidak ingin membuat ayah berharap terlalu tinggi yg nantinya akan membuatnya kecewa untuk kesekian kali." jawab Karina.
Ya, dahulu Karina juga pernah bertemu dengan gadis yg penampilannya sekilas mirip dengannya saat masih muda, namun setelah di selidiki asal usulnya ternyata gadis itu bukanlah putrinya yg hilang melainkan hanya mirip sekilas saja. Dan kejadian itu sering terjadi karena saking pengennya Karina dan tuan Wilson berjumpa dengan satu - satunya calon penerus Wilson Corp.
"Aku mengerti, kamu yg sabar ya.. Semoga kali ini feelingmu memang benar jika Kiara adalah putrimu yg selama ini hilang." tuan Bagas tersenyum tipis kearah Karina berusaha meyakinkan wanita di depannya yg sudah dia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.
"Ya aku juga berharap seperti itu." Karina memejamkan matanya sejenak untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Karina selalu lemah saat mengingat putri kandungnya yg sejak lahir belum pernah dia jumpai hingga saat ini.
Sedangkan saat itu Kiara dan Clarissa sedang makan siang bersama di restoran yg sama dengan yg di tempati oleh tuan Bagas dan Karina. Mata Clarissa memicing kearah meja yg di tempati oleh tuan Bagas.
"Ara coba lihat meja yg berada di pojok itu deh." ucap Clarissa sambil menunjuk meja pojok dengan menggunakan dagunya.
"Memangnya kenapa?." tanya Kiara sambil menaikkan alisnya. Kiara tidak mengerti maksud dari ucapan Clarissa karena saat itu yg dia lihat adalah sepasang pria dan wanita paruh baya yg sedang makan siang.
"Ck dasar lemot." decak Clarissa sambil memutar bola matanya malas, "Coba lihat dengan teliti pria paruh baya itu, nanti lo bakal tau maksud gue." jelas Clarissa dan Kiara pun menuruti ucapan sahabatnya itu. Kiara menatap intens pria paruh baya yg duduk di pojokan itu dan sedetik kemudian..
"Itukan bokapnya A.. ." belum sempat Kiara menyelesaikan ucapannya namun mulutnya sudah di bungkam oleh Clarissa dengan telapak tangannya. Bukan tanpa alasan Clarissa membungkam mulut Kiara pasalnya Kiara berbicara dengan keras hingga membuat pengunjung restoran itu menoleh kearah mereka, untung saja tuan Bagas dan Karina memilih acuh dan asyik dengan obrolan mereka.
Kiara menepuk tangan Clarissa yg berada di mulutnya, dia pengap di bungkam seperti itu, "Lo mau bunuh gue?." kesal Kiara pada Clarissa yg hampir membuatnya sulit bernafas.
"Hehehe.. Sorry gue gak sengaja, habisnya lo juga bicara keras banget kayak toa masjid." ucap Clarissa cengengesan sambil mengangkat tangannya tanda damai.
"Ya gue kan reflek Ris." kata Kiara lalu dia mendapat ide di kepalanya, "Apa kita foto Om Bagas aja kali ya trus tunjukin ke Arun dan bilang kalo dia bakal punya nyokap baru." lanjutnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Bener juga ide lo, cepat foto mereka sebelum ada yg liat." dan Kiara pun memfoto mereka, tapi saat dia bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas entah kenapa itu membuat pergerakannya terhenti, hatinya menjadi berdesir seperti ada ikatan yg membuatnya ingin terus menatap wajah cantik wanita paruh baya yg meneduhkan itu.
"Ra.. Ara lo kenapa malah bengong?." tanya Clarissa sambil menggoyang -goyangkan lengan Kiara. Clarissa tadi sudah memanggilnya berulang kali dan menanyakan hasil jepretan Kiara namun sahabatnya itu malah bengong sambil menatap kearah wanita paruh baya itu.
"Ah.. Sorry - sorry, lo tanya apa tadi." ucap Kiara saat tersadar dari lamunannya sambil menyodorkan handphone'nya kearah Clarissa.
"Kok fotonya gak ada?." tanya Clarissa saat melihat di galeri Kiara tidak ada satupun jepretan foto tuan Bagas dengan Karina.
"Hah.. Masak sih." Kiara mengecek Handphone'nya dan ternyata apa yg Clarissa ucapkan memang benar, dia sama sekali belum memfoto mereka, "Biar gue foto ulang, yah.. Udah pergi." ucap Kiara saat mengarahkan kameranya pada meja di pojok yg ternyata sudah kosong.
"Ck, gara - gara elo sih gagalkan kita buat nunjukin bukti ke Arun kalo Om Bagas punya kekasih baru." protes Clarissa pada Kiara yg membuat Kiara meliriknya malas.
KAMU SEDANG MEMBACA
My CEO is My Ex (Tamat)
Novela JuvenilBagaimana jadinya jika mantanmu adalah CEO di tempatmu bekerja, apalagi dia yg telah menorehkan luka di hatimu dan membuat kepercayaanmu hilang terhadap lelaki, hingga menganggap semua lelaki itu sama, seperti pepatah "Habis manis sepah di buang". ...
