Tepat pukul 19 : 00 wib anak buah Raditya beserta Devian dan yg lainnya bersiap untuk datang ke tempat yg tertera di dalam pesan itu.
Mereka semua berangkat dengan mengendarai motor yg di pimpin oleh Devian dan Raditya di barisan depan.
Hampir satu jam mereka akhirnya tiba di lokasi, disana terdapat sebuah rumah kumuh yg terletak di pinggiran hutan, disana juga telah terparkir satu buah mobil beserta tiga motor yg di duga itu adalah Miranda beserta anak buah Rio.
Devian dan Raditya menyusun strategi supaya bisa masuk ke dalam rumah itu tanpa ketahuan, dan sebagian dari mereka ada yg berjaga di depan untuk mengalihkan perhatian anak buah Rio. Saat di telusuri ternyata ada pintu di belakang rumah itu, dengan pelan Devian dan Raditya masuk melewati pintu itu.
Setelah berhasil masuk, Devian dan Raditya pun mengendap - endap masuk ke dalam sambil menatap sekitar agar selalu waspada dan berjaga - jaga.
Sedangkan Ali yg tidak tau jika Devian dan Raditya sudah datang pun masih asyik berbicara di telepon dengan Miranda. Namun pembicaraan itu terhenti saat salah satu anak buah Rio masuk ke dalam sana.
"Ada apa?". Tanya Rio yg masih belum memutus sambungan teleponnya.
"Mereka sudah datang, tapi gue gak liat keberadaan Devian diantara mereka". Jawab anak buah Rio.
"Biar gue yg atur". Ali tersenyum smirk sambil mematikan panggilan telepon dari Miranda.
Ali melangkahkan kakinya menuju Tika yg sedang di ikat di kursi dengan mulut di sumpal, dengan kasar Ali membuka lakbannya.
"Ssshhhh.. ". Ringis Tika kesakitan, "Kenapa lo berbuat kasar ke gue, bukankah ini tidak masuk ke dalam rencana?". Protes Tika sambil menatap Ali marah.
"Memang ini tidak masuk ke dalam rencana, tapi hanya ini yg bisa membuat mereka percaya dan mau menolong lo". Ucap Ali sambil menyunggingkan bibirnya.
"Tapi gak harus di ikat kenceng juga kan, liat tangan gue jadi lecet gara - gara lo". Tika yg merasakan perih di lengannya karena gesekan dari tali yg mengikat tubuh, tangan serta kakinya.
"Jangan banyak protes, kita mulai sekarang". Kata Ali sambil melirik kearah pintu yg tadi sengaja tidak di tutup rapat setelah anak buah Rio keluar.
Plakk..
Ali menampar pipi mulus Tika dengan keras hingga bunyinya terdengar sampai luar.
"Argghhh.. Ali kenapa lo tampar gue". Tika marah pada Ali yg telah menamparnya hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Itu karena lo gak mau nurut sama perintah Miranda". Teriak Ali menggelegar, "Gue akan bebasin lo asalkan lo mau mencelakai Arunika dan berpihak pada kita". Imbuhnya. Ali sengaja berteriak di depan Tika agar Devian beserta anak buahnya mendengar, karena Ali menganggap jika Devian bersembunyi di antara anak buahnya.
Sedangkan Devian dan Raditya yg bersembunyi di balik tumpukan kardus itu bisa melihat dan mendengar semuanya dengan jelas.
Mereka berdua tersenyum remeh saat melihat perbuatan Ali, mereka berdua sepakat untuk tidak keluar dulu karena mereka ingin melihat sejauh mana Ali akan menyiksa Tika.
"Gue gak akan menuruti Miranda apalagi berada di pihak kalian, karena gue gak mungkin menghianati Arunika". Tolak Tika dengan lantang. Tika memasang raut wajah menantang dan menatap Ali dengan nyalang, "Mending lepasin gue, atau lo akan tau akibatnya". Ancam Tika dengan mata berkilat marah.
"Hahaha... Gak semudah itu Tika, kalo lo mau lolos dari sini lo harus menuruti kemauan gue minimal layani gue semalam sampai puas baru gue akan lepasin lo tanpa sepengetahuan Miranda". Tawa Ali menggelegar lalu menatap Tika dengan tatapan mesum. Melihat itu Tika menjadi ketakutan, Tika menoleh kanan kiri meminta bantuan, dia tidak mau berakhir di ranjang bersama Ali karena tubuhnya hanya dia gunakan untuk melayani Rio.
Sebenarnya Tika adalah kekasih simpanan Rio yg di paksa menuruti nafsu Rio jika tidak ingin video asusilanya di viralkan. Tika yg dulunya gadis polos berubah menjadi binal karena ulah Rio, namun saat melihat ketampanan Devian Tika berniat untuk mendekati dan menggodanya hingga dia tau jika Devian adalah mantan kekasih Arunika yg sudah dia anggap sebagai sahabatnya. Semakin hari semakin terbakar api cemburu saat Tika melihat kebersamaan Devian dengan Arunika hingga dia meminta bantuan Rio untuk menyingkirkan Arunika yg kebetulan Rio juga terobsesi dengannya.
"Ja-jangan Ali.. Please gu-e mo-hon, Lo gak takut sama Rio jika dia tau". Tika memohon pada Ali agar tidak berbuat mesum padanya karena Tika tau jika Ali type lelaki suka memakai kekerasan saat melakukan hubungan badan.
"Rio gak mungkin tau karena dia di penjara, ayolah Tika sekali saja kita lakuinnya, gue udah gak tahan". Ali mendesak Tika agar mau berhubungan badan dengannya, dan semakin lama langkah kaki Ali semakin mendekati Tika.
"Jaga batasanmu Ali.. Ingat kita sedang menjalankan rencana atau lo tau sendiri akibatnya". Tika berteriak marah di depan wajah Ali sambil mengkode jika dia bisa saja menghubungi Rio melalui anak buahnya yg berjaga di depan rumah kumuh itu.
Mendengar teriakan Tika, Ali menjadi tersadar, "Shit.. ". Umpatnya sambil meraup wajahnya kasar lalu menoleh kearah kanan dan kiri namun tidak ada tanda - tanda mereka terpancing keluar untuk menolong Tika.
"Jangan memasang wajah polosmu di depan gue kalo tidak mau berakhir di ranjang". Gumam Ali sambil menjepit dagu Tika dengan erat hingga membuat Tika meringis.
"Sshhhh.. Ba-baik". Ringis Tika.
"Sekarang cepat mulai akting lo supaya mereka kesini". Bisik Ali sambil menjambak rambut Tika hingga wajahnya mendongak keatas. Ali melakukan itu karena dia tidak sengaja melihat bayangan orang yg bersembunyi di belakang kardus yg dia yakini itu merupakan Devian ataupun salah satu anak buahnya.
"A-ampun Li.. Ja-jangan siksa gue.. Gue mo-hon hiks.. Hiks..". Lirih Tika dengan wajah menahan sakit serta air mata yg mengalir membasahi pipinya.
"Tiada ampun bagi lo, dasar cewek kampungan". Maki Ali lalu setelahnya dia menampar kedua pipi Tika bergantian.
Plakk.. Plakk..
"To-long sia-pa-pun to-long gu-e, i-ni be-nar be-nar sa-kit". Ucap Tika terbata - bata. Tika memasang wajah mengenaskan di depan Ali dengan kedua sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Devian yg melihat itu menjadi tidak tega dan ingin menghampiri mereka namun di cegah oleh Raditya, hingga..
Brakk..
"Ali jangan kurang ajar lo sama Tika kalo tidak mau dalam bahaya". Dua orang anak buah Rio membuka pintunya dengan kasar dan memperingati Ali, mereka juga mendekat kearah Tika dan ingin melepaskan tali yg mengikat di tubuh perempuan itu.
"Mau ngapain kalian.. jangan ikut campur, tugas kalian itu berjaga di depan bukan merecoki rencana gue". Cegah Ali pada kedua anak buah Rio itu.
"Kita memang di tugaskan berjaga di depan tapi lo sudah kelewatan menyakitinya dan sudah sepantasnya kita melindungi dia". Ucap salah satu anak buah Rio melangkah mendekati Ali, "Jadi.. Mau lo lepaskan sendiri ikatannya atau gue yg balik ngikat lo disana". Lanjutnya sambil menunjuk kursi yg saat ini di duduki Tika, sedangkan teman yg satunya sudah mulai melepaskan talinya.
"Shit.. bedebah, kalian menghancurkan rencana gue". Murka Ali pada kedua anak buah Rio karena rencananya gagal total. Memang kedua anak buah Rio itu sewaktu briefing tidak ikut datang hingga tidak tau menahu tentang rencana mereka, yg dia tau mereka disuruh berjaga di depan dan melawan musuh yg akan datang.
Bugh.. Bugh.. Bugh..
Ali memukul salah satu anak buah Rio membabi buta dan di balas dengan tak kalah kerasnya hingga terjadilah perkelahian dua lawan satu.
Lima belas menit kemudian Ali terkapar di lantai dengan wajah babak belurnya dan nafas ngos - ngosan, saat anak buah Rio akan memukul Ali kembali Tika berteriak menghentikan mereka.
"Berhenti.. ". Teriak Tika dengan mata menatap nyalang kearah dua anak buah Rio dan Ali, belum sempat Tika berucap lagi tiba - tiba sebuah tepuk tangan menggema di ruangan itu bersamaan dengan munculnya Devian dan Raditya dari balik tumpukan kardus.
Tika, Ali dan dua anak buah Rio pun kaget melihat kemunculan Devian dan seorang pria yg tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
"De-devian..". Lirih Tika dengan wajah syoknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My CEO is My Ex (Tamat)
Dla nastolatkówBagaimana jadinya jika mantanmu adalah CEO di tempatmu bekerja, apalagi dia yg telah menorehkan luka di hatimu dan membuat kepercayaanmu hilang terhadap lelaki, hingga menganggap semua lelaki itu sama, seperti pepatah "Habis manis sepah di buang". ...
