SASUSAKU HEADCANON MODERN
🍅: di rumah atau masih di tempat kerja?
🌸: tempat kerja, tapi 2 jam lagi selesai
🍅: boleh aku mampir kesana ?
🌸: tentu boleh
🍅: :)
Setengah jam kemudian Sasuke mengetuk pintu di depan ruangan Sakura. Biasanya Sakura segera menyelesaikan operasi sebelum matahari tenggelam namun, peristiwa hari ini di luar prediksi dimana para shinobi banyak terkena virus sehingga tubuh mereka lemas dan jatuh terkapar.
Sarana medis Konoha masih dalam proses untuk mendapatkan proyeksi yang akurat untuk melihat seberapa baik kinerja di rumah sakit ini. Namun kesungguhan para tenaga medis dan juga dibantu Kohage membuat rumah sakit ini tidak mengkhawatirkan.
Sakura membuka pintu untuk membiarkannya masuk. Dia menggunakan jubah hitam itu lagi. Tatapan yang selalu dingin itu memberi sentuhan yang sangat bagus, begitu menurut Sakura. Sakura bersumpah, setiap kali dia beradu tatap dia harus menyembunyikan senyuman bodoh dari wajahnya. Sakura berjinjit dan memberikan ciuman singkat untuk Sasuke. "Aku masih punya beberapa hal yang harus di selesaikan sebelum pulang ke rumah"
Sasuke mengikuti Sakura masuk ke ruangannya lalu menutup pintu. "Apa ini sofa milikmu?" Sasuke bertanya sambil melihat sekeliling ruangan. "Semua yang ada disini milikku" jawab Sakura duduk di kursinya kembali. Bunga di vas kecil sangat jelas menandakan ruangan ini miliknya. Stethoscope yang menggantung di leher Sakura mengisyaratkan bahwa ia sungguh harus menyelesaikan pekerajaannya hari ini.
"Lanjutkan saja pekerjaanmu," guman Sasuke dengan merapikan bantal "Aku hanya akan tidur siang sampai kau selesai".
Kadang-kadang Sasuke merasa khawatir tentang betapa kerasnya Sakura pada pekerjaan walaupun Sakura selalu mengatakan dia baik-baik saja.
Sakura menghabiskan lima belas menit untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia menutup laptop dan melihat ke arah Sasuke. Dia pikir Sasuke akan tertidur tetapi sebaliknya Sasuke memopang kepala nya dengan tangan dan melihat ke arah Sakura. Dia memperhatikan Sakura selama ini.
"Sakura, ku rasa aku terlalu menyukaimu" kata Sasuke berdiri lalu menarik kursi Sakura ke dekatnya. Sakura tersipu malu, sangat jelas dari kedua pipinya yang memerah seperti tomat.
"Kau membuatku takut, aku akan menganggapnya sebagai pujian"
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya"
Dia menepuk pahanya, suatu isyarat yang harus di konfirmasi dengan cepat. Apakah Sasuke membersihkan debu di celana atau ada hal yang lain? Sakura harus melakukan sesuatu, berpikirlah Sakura. Batinnya mencela.
Sasuke memegang pergelangan tangan Sakura dan menarik ke pangkuannya. Itulah hal tersirat dalam benak Sasuke, namun karena ini dirinya maka membutuhkan waktu beberapa detik untuk Sakura berpikir.
Dia melingkarkan lengannya di pinggang Sakura, "Ini adalah hubungan nyata pertamaku, aku belum tahu apakah harus menyukaimu sebanyak ini. Aku tak ingin membuat mu takut"
Sakura tertawa, "Seperti ini bisa saja terjadi. Dan kamu benar-benar berusaha melakukannya untukku".
Sasuke menggosok tangannya ke punggung Sakura, "Apa kau tidak lelah? Aku bisa bicara pada Naruto untuk meringankan pekerjaanmu"
"Untuk apa? Aku menyukai pekerjaanku. Aku suka disini. Membuatku sedikit lupa, ketika kau tidak ada disisiku"
"Maaf..."
"Ini bukan salahmu...aku senang kau memilki banyak perubahan"
"Perubahan? Seperti apa perubahan itu?"
"Misalnya...kerutan kecil di sekitar mata"
"Kau serius?"
Sakura tertawa, "Ada tapi kecil...itu menjadi bagian favoritku. Kau terlihat sexy"
"Kau juga sexy, aku suka ambisiumu walau terkadang aku menjadi khawatir. Dan aku suka bibir mu"
Tangan Sasuke yang semula hanya menggosok punggung Sakura kini menggeser ke bagian dalam baju. Dia menarik Sakura ke arahnya dan mencium bagian tersexy menurutnya.
Sakura menyeringai dan berbisik, "Apa kau mau melakukannya disini?". Pergerakan tangan Sasuke sangat cepat sehingga bergerak ke belakang bra dan melepaskannya dengan mudah. "Apakah ruangan ini kedap suara?". Ia bertanya sebelum memulai, sangat sopan.
"Aku tak yakin tapi kau akan melakukannya untukku"
Dia menarik baju dan bra Sakura ke atas kepala, Sakura menarik dirinya sehingga bisa membuka celananya dengan benar tapi dia menarik Sakura kembali ke pangkuannya. Dia mengambil stetoskop dan menaruhnya di telinga, lalu menekan diafragma ke dada Sakura, tepat di atas jantung "Hatimu berdebar, Sakura?"
Sakura mengangkat bahu dengan polos padahal ia tahu dengan benar apa artinya, "Itu mungkin ada hubungannya denganmu Tuan Uchiha".
Dia menjatuhkan stetoskop dan menarik Sakura untuk telentang di sofa. Mata Sakura terpejam ketika merasakan lidahnya meluncur melintasi payudara milik Sakura. Tangannya perlahan mulai menemukan jalannya di antara kaki Sakura. Sakura mencengkram sofa tetapi mencoba untuk menjaga suara.
Ia membuka jubah dan dua kancing kemejanya, dadanya terlihat mengkilap karena keringat. Sakura menyapu rambut yang menghalangi mata sharingan itu. Pemiliknya hanya acuh. Kulit keduanya bersentuhan dan Sasuke menciumi sepanjang collarbone Sakura. Masih bau citrus yang menempel di kulit. Degup jantung yang terus berdetak bersamaan dengan nafas yang terengah-engah. Tangan Sasuke meluncur ke bawah perut dan menetap di kedua paha atas. Dia perlahan masuk dan memberikan kenikmatan hingga Sakura mengerang. Sakura hampir tak bisa mengikuti ritmenya.
Entah bagaimana dia bisa mengangkat Sakura dengan satu tangan untuk membalikan badan Sakura hingga tersungkur. Dia menarik Sakura tegak sampai dadanya menempel ke punggung Sakura.
Sakura mengeluarkan erangan dan Sasuke menekan bibirnya ke telinga, "Ssst...tidak ada suara". Sakura tidak tahu bagaimana dengan selanjutnya jika begini saja dia harus tutup mulut. Dia memasukkan penisnya lagi membuat Sakura bergetar.
Sakura mencoba bergerak namun dia sangat kuat saat getaran mulai mengalir melaluinya. Rambut Sakura berantakan namun ia bersyukur telah memotong rambut panjangnya karena ia bisa membayangkan betapa kesalnya ia dengan rambut di keadaan begini. Ia tak mengerti mengapa Sasuke harus menarik rambutnya ketika senggama. Walau Sakura selalu membalasnya dengan cakaran punggung.
Sasuke melepaskan penisnya dan mereka tersungkur lemas untuk beberapa detik. Sasuke menarik pinggang Sakura ke pangkuannya kembali. "Apakah aku sudah bilang jika aku sangat menyukaimu?"
Sakura tertawa kecil, "Ya, sekali atau dua kali"
"Akan ku perjelas bahwa aku menyukaimu, aku menyukai segalanya tentang mu".
"Sekarang kau mengatakan untuk ketika kalinya, Sasuke"
Sakura tersenyum, menyukai bagaimana Sasuke mengungkapkan perasaannya dengan tulus. Sakura membuka mulut untuk memberi tahu bahwa dia juga menyukai suaminya namun suaranya terputus oleh dering telpon.
Sasuke bangkit dan menerima telpon tersebut lalu melirik ke arah Sakura. Tatapan itu selalu ada dan ia terima berulang kali, Sakura mengerti bahwa ini saatnya Sasuke untuk pergi lagi...
[Homesick 1]
