"Perlu diingat bahwa perjanjian pra-nikah ini telah disepakati oleh kedua belah pihak dan tidak boleh ada yang dilanggar.
Demikian prenuptial agreement ini dibuat dengan penuh kesadaran dan di bawah naungan hukum yang sah, kuat dan mengikat."
Otak Gistara serasa mendidih begitu notaris selesai membacakan klausul perjanjian. Erlangga tidak hanya berbohong pada Naka, tapi juga berlaku culas, sengaja meninggalkan klausul paling penting untuk dibacakan paling akhir.
"Kamu sudah tanda tangan, artinya kamu setuju sama isi klausul kontrak kita, Tara."
"Enggak!" Tolak Gistara meradang. "Kamu curang, Mas! Kenapa isi paling krusial dari kontrak harus dibacakan belakangan?"
Erlangga tersenyum santai. "Tidak ada yang curang, semuanya transparan, kalau soal dibacakan belakangan itu karena Pak Rudi lupa memasukkan ke dalam map."
Alasan basi! Gistara sama sekali tidak percaya. Pasti itu hanya alibi Erlan, pasti sebelumnya dia dan notarisnya kong kalikong, sepakat untuk berbuat curang.
"Benar, ini murni keteledoran saya, Mbak. Tolong jangan salahkan Pak Erlan, saya yang lupa memasukkan klausul kelima ke dalam map perjanjian." Pak Rudi menukas, Rina paruh baya itu menyiratkan sesal saat menatap Gistara.
Gistara tidak menyalahkan Pak Rudi sepenuhnya, tentu otak dari semua tindakan adalah Erlangga. Dan, Mas Naka, kakaknya percaya begitu saja saja pada mulut manisnya Erlan.
"Saya sudah bilang untuk membacanya ulang, tapi kamu bilang tidak perlu. Artinya kamu sudah sepakat dengan isi perjanjian ini, Tara."
"Kamu enggak sepenuhnya jujur sama Mas Naka."
"Saya sudah menjelaskan semuanya sama Naka. Saya bersedia membantu kamu, dengan syarat kamu juga harus membantu saya. Ini fair, tidak ada yang curang di sini."
"Maaf, karena semuanya sudah selesai, saya pamit undur diri, Pak Erlan, Mbak Tara." Pak Rudi ambil langkah, lelaki itu pamit saat menyaksikan perdebatan sengit Erlangga dan Gistara.
Erlan mengantarnya sampai ke depan pintu, usai merapal terima kasih lelaki itu kembali memasuki ruang kantornya.
"Sudah jelas, kan, kamu terikat perjanjian dengan saya, Gistara."
Gistara memejam, refleks saat otaknya dijejali dengan banyak kebimbangan. Kenapa semuanya jadi serumit ini? Padahal dia hanya ingin keluar dari masalah, tapi malah timbul masalah baru.
Gistara meraih kertas di meja kaca, tangannya dengan gerakan merobek kertas penuh emosi, lantas melemparnya ke lantai. "Aku enggak mau! Perjanjian ini batal!" Sengitnya menatap Erlan. Di luar dugaan lelaki 33 tahun itu malah tertawa lepas.
"Itu cuma salinan Gistara, klausul yang asli sudah dibawa notaris." Tawa Erlan seperti ejekan untuk Gistara. "Kamu jangan seenaknya membatalkan secara sepihak, itu artinya sama saja kamu menyalahi perjanjian, saya bisa tuntut kamu, Tara!"
Satu kata untuk Erlangga; it fucking suck!
Gistara bergeming. Dia berada di situasi sulit. Maju salah, mundur pun tetap salah.
Erlangga memangkas jarak, lelaki itu berjejak tepat di sebelah Gistara. Erlan menarik salah satu tangannya yang dikantongi lantas menyentuh pucuk kepala Gistara. Respons Tara adalah menghindar.
"Singkirin tangan kamu, Mas!"
"Why? Saya cuma lagi belajar untuk dekat sama calon istri, apanya yang salah?"
"Jangan kurang ajar!" Sentak Gistara merasa risih atas tindakan Erlan.
"Bite the bullet, Tara. Jalani semuanya dengan baik, kita hanya butuh waktu satu tahun." Tatapan Erlan melunak, mungkin ada sebersit rasa bersalah sudah lancang menyentuh kepala Gistara. Nada suaranya ikut melembut ketika berbicara lagi, "Saya tahu kamu orangnya amanah, so ... don't betray me, a promise is a promise, Gistara Swasti Padmaja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bamboozle
Romance©hak cipta sepenuhnya dilindungi oleh Allah SWT. [Blurb sementara] "Menikah dengan saya, maka permasalahan kamu terselesaikan," ujar Erlangga disertai ekspresi datarnya. Erlangga Putra Danapati butuh status. Sementara Gistara Swasti Padmaja butuh...
